the broneo

orang biasa yang mencoba berbagi pengalaman biasa biasa saja

Dakon: Mainanku dan Simbah

Posted by albertobroneo on October 24, 2011

Adatiga hal yang mengingatkanku pada sosok Simbah, yaitu: kunci, gula jawa, dan permainan dakon. Melalui ketiga hal itulah selama dua tahun aku berinteraksi dengan Simbah hampir setiap hari.

Aku tidak sempat mengenal kedua kakekku. Mereka meninggal ketika Ibu dan Bapak masih kecil. Sangat kecil bahkan, sehingga orang tuaku sendiri tidak mempunyai kenangan akan ayah-ayah mereka. Aku memanggil nenekku dengan sebutan Simbah untuk ibunya Ibu, dan Simak untuk ibunya Bapak. Aku adalah cucu terkecil dari Simbah maupun Simak. Ibu adalah anak bungsu Simbah, dan Bapak adalah anak bungsu Simak. Sedangkan aku adalah anak bungsu dari kedua orang tuaku. Lengkap sudah aku jadi cucu bungsu.

Waktu kelas 3-4 SD aku masuk siang hari, sehingga setiap pagi aku tinggal sendiri di rumah. Kakak dan kedua orang tuaku  bekerja. Sepupu sepupuku juga bersekolah. Teman-teman sebaya juga sekolah. Tinggal aku sendiri di rumah dibawah pengawasan nenekku, yang tinggal persis disebelah rumah.

Sebagai anak-anak tentu hasrat bermainku cukup besar, namun sayang tidak ada teman untuk bermain. Jadilah nenekku menjadi teman bermain. Tentu aku tidak bisa melakukan permainan yang banyak melakukan aktivitas fisik, karena Simbah sudah berusia kurang lebih 80 tahun. Oleh simbah aku diajari main dakon. Permainan yang telah dimainkan Simbah semenjak kecil. Permainan yang menjadi teman simbah disaat sendiri. Walaupun dakon adalah permainan untuk dua orang, namun sering kali Simbah memainkannya sendiri.

Jago sekali simbah bermain dakon. Seingatku aku tidak pernah mengalahkan simbah. Bahkan simbah sering memberi petunjuk dari cekungan mana dulu aku harus melangkah supaya bijiku bisa tepat masuk ke lumbung atau nembak cekungan lawan yang cukup banyak terisi biji.

Dakon milik simbah sudah sangat tua. Terbuat dari kayu sawo yang sudah berwarna coklat kehitaman. Konon dakon itu kado special dari ayah Simbah ketika simbah masih kecil. Jika dibandingkan dakon-dakon lain, dakon tersebut sangat tebal, lebih dari sepuluh cm tebalnya. Cekungan-cekungan yang ada juga sangat dalam. Dakon pada umumnya hanya sekitar satu ruas jari dalamnya, namun dakon simbah bisa sampai dua ruas jari dalamnya. Satu lagi yang berbeda dari dakon biasa adalah jumlah cekungannya. Dakon biasanya hanya memiliki empat belas cekungan, tujuh cekungan pada masing-masing sisi, ditambah dua cekungan besar sebagai lumbung, namun dakon simbah mempunyai sembilan cekungan pada masing-masing sisi, sehingga total ada delapan belas cekungan ditambah dua lumbung besar.

Biji yang digunakan untuk dakon simbah adalah kecik, lebih tepatnya biji sawo kecik. Namun karena beberapa biji hilang, kadang kala diganti dengan klungsu. Kalaupun masih kurang juga bijinya, kadang diganti pakai kerikil oleh simbah.

Waktu bermain dengan teman-teman sebaya di sore hari, aku dan teman-teman kadang mencari biji sawo kecik. Biasanya kami gunakan untuk permainan adu kecik. Namun aku tidak akan mengadu semua kecik yang aku dapatkan. Aku hanya mengadu yang kira-kira benar-benar kuat dan jago saja. Aku menyisihkan beberapa biji kecik untuk aku berikan kepada simbah.

Senang sekali simbah menerima kecik-kecik tersebut. Kerikil-kerikil yang digunakan untuk biji dakon dibuangnya, digantikan dengan kecik hasil pencarianku bersama teman-teman. Eh … bukan dari hasil mencari saja, tapi juga dari membeli buah sawo kecik.

Demikianlah selama kurang lebih dua tahun, dakon menjadi permainan kami. Aku dan Simbah. Biasanya kami bermain sambil mendengarkan kethoprak mataram, atau sandiwara radio. Kisah Ken Arok, Bendhe Mataram, dan kisah-kisah kethoprak lainnya jadi teman kami bermain dakon.

Setelah main dakon, biasanya aku mandi, dan mempersiapkan diri untuk sekolah. Pada saat berangkat, aku selalu ketempat Simbah terlebih dulu, menitipkan kunci rumah untuk diambil kakak atau ibuku siang harinya.

“Mbah, ndherek kunci… Nyuwun gula jawane nggih Mbah”

(“Nek, titip kunci.. Minta gula jawanya ya Mbah”)

Itulah “mantra” yang aku ucapkan setiap kali mau berangkat sekolah.

Setelah “ritual” itu aku bergegas naik sepeda, berangkat sekolah dengan mengulum sepotong gula jawa yang aku ambil dari toples Simbah. Simbah memang bisa memotong-motong gula jawa dan disimpan di toplesnya. Sering kali cucu-cucunya, termasuk aku, minta gula jawa tersebut sebagai ganti permen.

Aku tidak tahu dengan pasti saat ini dakon itu ada di mana. Namun dari kabar burung yang ada, setelah meninggalnya Simbah, dakon itu sempat disimpan oleh salah seorang sepupuku, dan kemudian dijual kepada kolektor barang antik.

Tinggallah dakon tua tersebut menjadi kenangan pada Simbah. Kenangan bahwa aku, si cucu bungsu, dulu sering main dakon bersama Simbah. Permainan yang kami lakukan disaat kami kesepian karena ditinggal orang-orang di sekitar kami untuk bekerja atau seolah.

Parepare, 24 Oct 2011

Catatan:

Dakon         : permainan tradisional anak-anak, dikenal juga dengan istilah congklak.

Kecik           : isi sawo.

Sawo kecik: tanaman dengan nama latin Manilkara Kaulki, banyak ditanam di rumah-rumah tradisional Jawa, mempunyai filosofi sarwo becik (serba baik).

Adu kecik : Permainan dengan mengadu dua buah kecik. Dua buah kecik diletakkan bertumpukan, kemudian diinjak seraya dihentak dengan menggunakan tumit. Yang keciknya pecah, dia yang kalah.

Klungsu    : isi buah asam

Sharing ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak

16 Responses to “Dakon: Mainanku dan Simbah”

  1. Imelda said

    heheheh kecil…iya biji sawo itu bisa untuk main dakon. Aku juga ingat pernah main dakon dgn biji sawo itu, tapi di rumahku kami tak punya dakon. Apalagi dakochan :D

  2. DV said

    Ceritamu selalu punya landasan romantisme masa lalu! Mencengangkan! Semoga menang!

  3. Dulu waktu aku masih kecil, nenekku ngajarin dakon denagan cara unik. Karena kami belum punya dakon, nenekku menggambar 8 lingkaran di atas kertas menggunakan tutup gelas, plus lumbung. Lalu lingkaran itu diisi biji sawo.
    Awalnya nenek dan papaku yang dominan bermain sambil mengajari, setelah itu aku dan kakakku mulai ikut bermain..

    Setelah kami bisa bermain dakon, papa membelikan kami dakon dari kayu, sayang aku tak tahu jenis kayunya. Yang jelas sih kami senang sekali bisa bermain dakon dengan dakon asli 

    Sekarang, dakon terbuat dari plastik…hhmmm…. kurang menarik ya… gampang pecah pula …

  4. nh18 said

    Bro …
    Ini kenangan yang indah sekali Bro …
    And you know what …
    sebetulnya Dakon itu mempunyai falsafah bermain yang juga sangat tinggi …
    Dakon mengajarkan Strategi …
    Dakon mengajarkan Berhitung …
    Dakon mengajarkan Berfikir analitis …

    Kelihatan hasilnya kan …
    Kamu jadi masuk jurusan apa ??? (hahaha)

    Salam saya Bro
    Semoga sukses ya Bro

  5. vizon said

    Bro.. perasaan, aku sudah komen di sini, apakah tertelan si aki…? :(

    But anyway, terima kasih sudah ikutan dalam acaraku ya..
    It means a lot for me..

  6. Ceritaeka said

    bro apa kabar?
    Aku seneng main dakon! Termasuk jado (curang) lhooo :) )
    hahaha kek gini koq bangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.