the broneo

orang biasa yang mencoba berbagi pengalaman biasa biasa saja

Archive for the ‘Intermezzo’ Category

Lebih Baik daripada Bunuh Diri

Posted by albertobroneo on May 28, 2011

Wah aku memberi judul tulisan ringan ini kok jadi bombastis banget ya?? Kayak koran-koran kuning saja. Tulisan ini tidak ada hubungan sama sekali dengan tindak kriminal atau kekerasan. Ini adalah tulisan ringan tentang kegiatan sehari-hari mengupas buah.

Berawal dari joke antara Pakdhe dan Budhe saya.

Sebagai informasi, Pakdhe saya orang Jogja asli, sedangkan Budhe saya orang Jakarta asli Sunda yang telah lama banget tinggal di Jakarta.

Pada suatu kesempatan Budhe melihat Pakdhe sedang mengupas buah dengan sebuah pisau dapur. Melihat “gaya” mengupas Pakdhe, Budhe berkomentar,

“Ngupas kok kayak mau nusuk orang”

Dengan nyantai Pakdhe saya membalas,

“Daripada kamu, kalau mengupas seperti mau bunuh diri aja”

Apa sih yang dimaksud dengan “mau nusuk orang” dan “mau bunuh diri”??

Mungkin gambar-gambar ini bisa membantu menjelaskan: Read the rest of this entry »

Posted in Intermezzo | Tagged: , , | 17 Comments »

Intermeso

Posted by albertobroneo on June 29, 2010

What do you think??

bill hotel

Posted in Intermezzo | Tagged: , | 14 Comments »

Fiksi Mini

Posted by albertobroneo on May 18, 2010

Posesif

 

“Maaf, aku terlalu mencintaimu, tak mampu aku melihatmu bersanding dengan orang lain!”

Sejumput kembang pertama tertabur dari genggamannya.

 

Fiksi mini…

Pertama kali melihat di blognya Om Trainer. Ternyata Om Trainer sedang mengikuti kontes fiksi mini yang diakan oleh WI3NDA.

Tertantang juga aku untuk membuat tulisan bentuk ini.

Kelihatannya simple, tapi ternyata tidak mudah juga. Perlu beberapa kali edit-an supaya bisa memenuhi kaidah-kaidah fiksi mini.

So, Wi3nd dan Nda… berikut partisipasi saya…

*sejujurnya bukan sekedar tantangan baru, tapi juga sekaligus merupakan jalan keluar dari kebuntuan menulis yang aku alami akhir-akhir ini*

Yiiippppiiiii…..

Parepare, May 2010

Posted in blogging, Intermezzo | Tagged: , | 47 Comments »

Lutut Ayam

Posted by albertobroneo on April 18, 2010

Disclaimer:

Tulisan ini hanya merupakan jawaban iseng atas pertanyaan “dimanakah lutut ayam?” “Benarkah lutut ayam menghadap ke belakang?” Dan tulisan saya ini tidak akan mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah mendapatkan hikmat dari “perbedaan” lutut manusia dan lutut ayam. (sebagaimana diceritakan di sini, maupun di beberapa tulisan lain yang senada)

Beberapa waktu yang lalu, saya dan rekan rekan berkesempatan untuk makan bersama di sebuah warung di pinggir jalan. Menu utama di warung itu adalah ayam bakar atau goreng.

“Mas, ayamnya paha ya Mas” pintaku

“Baik Pak” jawab pemilik warung.

“Yang kanan ya Mas”

“Apa Pak?”

“Pahanya yang paha kanan,” jawabku sambil tersenyum

“….” Mas mas penjaga warung itu, bengong, dan memasang tampang sedang berpikir.

“Udah-udah Mas, bercanda kok. Gak usah dipikir. Pokoknya paha saja.”

Saya dan rekan-rekan pun menunggu makanan yang kami pesan

“Mengapa pilih paha yang kanan?” Tanya temanku

Read the rest of this entry »

Posted in Intermezzo, utak atik otak | Tagged: , , , | 12 Comments »

Garuklah Punggungmu Sendiri

Posted by albertobroneo on April 9, 2010

“Garuklah punggungmu sendiri”.

Kalimat di atas tidak bermakna kias, bukan slogan, bukan peribahasa ataupun kiasan, bukan pula tag line suatu product, apalagi judul buku, film, sinetron, drama  atau judul lagu. Sungguh kalimat itu tidak bermakna lain selain bahwa saya menyarankan Anda untuk menggaruk punggung Anda sendiri jika merasa gatal.

Saran untuk menggaruk punggung berasal dari pengalaman saya pribadi, berdasarkan apa yang pernah saya rasakan.    Jika Anda mempunyai pendapat tersendiri berdasarkan pengalaman diri Anda sendiri, ya silakan saja. Namanya juga hanya saran. Bisa diikuti, atau bisa juga dicuekin.

Read the rest of this entry »

Posted in all about me, Intermezzo | Tagged: , , , | 30 Comments »

Ngakak of the month

Posted by albertobroneo on March 8, 2010

Setelah sempat sedikit mengurangi aktivitas di dunia maya, terutama blog walking, karena aktivitas njajah deso milang kori, akhirnya mulai minggu kemarin saya sudah sempat jalan-jalan lagi mengunjungi beberapa sahabat, walau kadang numpang lewat saja, tanpa meninggalkan comments.

Setelah berjalan beberapa saat, sampailah saya di Mystorius, salah satu blog yang saya kagumi, sebagaimana pernah saya ceritakan disini. Setelah senyum senyum membaca “komik” yang ada, saya bisa ngakak guling-guling koprol gak karuan melihat hasil jawaban salah satu pertanyaan yang ada di blog itu. Bener-bener bikin saya mules, terpingkal, sampai berderai air mata. Jauh lebih bikin ngakak daripada gontok-gontokan di Senayan sana.

Pertanyaan nya adalah sebagai berikut:

Hidup adalah pilihan, terkadang pilihan hidup sangat sulit dan tanpa petunjuk apapun..

Berikut ini ada pilihan, pilih angka 1, 2 atau 3. Tujuan utama anda adalah ke Rumah, namun 2 tujuan lain tidak lah mengenakkan yaitu Buaya dan Ikan Hiu. Mana yang anda pilih? 1, 2 atau 3.. Beranikah anda memilih??? Siapa yang bisa sampai Rumah? Silahkan….

 

 

 

Dua orang sahabat saya, Uda Vizon, dan The Afdhal, memberanikan diri menjawab tantangan diatas, dan hasilnya yang sukses membuat saya ngakak, dapat di lihat langsung di sini.

Benar-benar kocak dan orisinil!!!

BUY, salut gue sama loe!!! Thanks sudah bikin gue ngakak gak karuan!!

Ternate, Maret 2010

Posted in blogging, Intermezzo | Tagged: | 12 Comments »

Mirna

Posted by albertobroneo on March 4, 2010

Malam semakin larut, menjelang tengah malam bahkan. Jalanan semakin sepi dan lengang, namun tetap saja ada yang melintas satu dua kendaraan. Angin berhembus pelan, membawa udara dingin mengalir. Beberapa orang masih duduk di warung angkringan. Tak jauh dari angkringan itu Mirna berdiri sendiri, bersembunyi di balik bayang bayang pohon asem tua yang berjajar di sepanjang jalan. Sebuah jaket jeans melekat di badannya, menutup kaos ketat merah yang dikenakan malam ini. Sebuah rokok yang dibeli ketengan dari angkringan setia menemaninya.

Sebuah sepeda motor berhenti sekira 6 meter dari tempat Mirna berdiri. Sepeda motor merah yang sudah 3 kali ini mondar mandir di sepanjang jalan tempat para penjaja cinta menggelar dagangannya. Seorang pemuda tanggung duduk diatas sadelnya, membuka helm, dan menerima telepon. Entah benar-benar menerima telepon atau pura-pura saja, tapi yang jelas matanya sesekali melirik ke Mirna.

“Hmm…. Brondong neh!!” kata Mirna dalam hati.

Hatinya berdebar kencang. Memang sudah sekian tahun Mirna melayani nafsu syahwat laki-laki. Sudah sekian banyak pula lelaki hidung belang yang rebah dalam pelukannya. Namun tetap saja hatinya berdebar keras setiap kali bertemu dengan pemuda tanggung seperti yang baru saja berhenti di dekatnya itu. Terbayang bagaimana ia akan bergelut dengan pemuda tanggung itu, menuntunnya mendaki birahi dan memegang kendali kenikmatan. Bagai kerbau tercucuk hidung, si pemuda tanggung itu pasti akan mengikuti gelora birahi yang dimainkannya, sebagaimana dulu, lebih dari dua puluh tahun lalu, saat ia terhanyut dan terseret dalam gelora birahi. Gelora yang membawa dia menjadi janda muda dengan dua anak di usia belia.

  Read the rest of this entry »

Posted in Coretan Tangan, Intermezzo | Tagged: , , , , | 23 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.