Ibu Tindak Bali

Ibu Tindak Bali. Ibu pergi ke Bali.

 

Bagi sebagian teman, Bali adalah tujuan wisata yang sudah sangat biasa dikunjungi, bahkan mungkin sudah bosan. Tapi tidak untuk Victoria Suprihatin, ibuku. Dia baru menginjakkan kaki di Bali di usianya yang telah lebih dari tujuh satu puluh tahun. Beberapa hari yang lalu, akhirnya beliau bisa mengunjungi Bali, Pulau Dewata yang menjadi impiannya semasa aku masih kecil.

 

Beberapa bulan yang lalu, Ibu mengajak untuk liburan keluarga bersama ke Bali. Liburan keluarga pertama setelah sekian puluh tahun keluargaku tidak melakukannya. Seingatku liburan keluarga kami terakhir ketika aku masih SD. Tujuannya pun aku sudah tidak ingat dengan jelas, antara Kebun Binatang Gembira Loka, Pantai Parang Tritis, Kaliurang di lereng Merapi, atau Baturaden/Jatijajar di Banyumas. It’s long time ago.

Tanpa panjang pikir, aku langsung meng-iya-kan ajakan Ibu. Kebetulan kakakku, istri dan anaknya juga sudah libur pada tanggal yang ditentukan. Ini adalah liburan keluarga pertama dengan formasi keluarga saat ini. Ibu, kedua anaknya beserta kedua menantu, serta seorang cucu.

 

Ajakan Ibu ke Bali, mau tak mau menyeretku pada kenangan berpuluh tahun lalu.

Continue reading

Victoria Suprihatin

Victoria Suprihatin namanya. Ya Suprihatin. Nama yang sangat jelas menggambarkan dalam kondisi seperti apa ia dilahirkan. Kondisi yang berbeda tentunya dengan nama Astuti ataupun Maryati kakak kandungnya. Terlahir sebagai bungsu dari 10 bersaudara, ia tidak sempat mengenal ayah kandungnya. Sang ayah meninggal ketika Suprihatin masih bayi. Ia lahir pada tahun 1945 sehingga pada masa revolusi fisik ia turut merasakan lari dari kota dan mengungsi dengan digendong kakak-kakanya ke lereng-lereng gunung Merapi .

Ketika lulus SMP Suprihatin muda meneruskan pendidikan di sekolah perawat. Bukan karena ingin jadi perawat. Semata-mata mencari ikatan dinas dan asrama agar terlepas dari keprihatinan yang terus menyertainya.

Namun keprihatinan-keprihatinan itulah yang telah menempa Suprihatin menjadi pribadi dengan tekad seteguh karang dan hati seluas samudra. Segala halangan dihadapinya dengan tabah. Ketika pria pilihannya tidak disukai oleh ibu dan kakak-kakaknya, dia tetap bertahan. Segala sindiran dan cemoohan diterimanya dengan lapang dada. Untunglah setelah bekerja dan berkeluarga, kehidupannya mulai mapan meskipun tidak berlebih. Cukup untuk hidup secara sederhana. Dan berkat kesabarannya pula, akhirnya sang suami dapat diterima oleh ibu dan kakak-kakaknya. Continue reading

Virtual Crime

Berhati-hatilah terhadap orang yang baru saja Anda kenal di dunia maya. Bisa jadi kita menjadi korban penipuan atau pemerasan. Seperti yang baru saja aku alami.

Keinginan untuk memperluas silaturahmi seyogyanya diikuti dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Kita yang familiar di dunia maya, harus selalu sadar bahwa untuk setiap aktivitas kita, akan meninggalkan jejak virtual yang bisa disalah gunakan oleh siapa pun yang berkehendak jahat. Kita harus sadar bahwa account fiktif sangat mudah dibuat dan disalahgunakan. Sekedar pura-pura menjadi teman, kemudian cerita mengharu biru sehingga kita jatuh iba dan ujung-ujungnya minta bantuan dana.

Atau sedikit lebih “canggih” dengan harapan dapat memeras lebih banyak, bukan sekedar mengharapkan iba.

Continue reading

Pelajaran Sejarah

Satu tahun empat bulan satu hari…
Sudah lama sekali blog ini aku tinggalkan, lumutan dan berkarat.

Saat ini aku kembali ditempatkan di Jakarta, dengan segala kesibukan dan kemacetannya. Alasan klise untuk tidak meng-update blog ini. Namun, sesungguhnya bukan itu yang menyebabkan sekian lama blog ini terbengkalai. Aku kehilangan passion untuk menulis. Uh… dasar blogger KW3.

Untuk sekarang pun, yang aku posting bukan tulisanku. Ini adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dengan judul seperti tertulis dalam judul tulisan ini. Pelajaran Sejarah. Cerpen ini ada dalam kumpulan cerpen SGA yang berjudul Saksi Mata.

Di penghujung bulan Mei ini, mungkin saat yang tepat untuk mengajak anak-anak untuk belajar sejarah di Semanggi, Trisakti, Glodok, Cawang, serta sudut-sudt lain Jakarta … dan merasakan getaran yang ada di sana

Continue reading

Three Minutes Updates (inspired by: “Three Minutes, Think with Fun !!!”)

Jumat malam, 25 Januari 2013, saya masih mengerjakan beberapa hal di kantor. Untuk sejenak melepas lelah, aku tinggalkan layar laptop dan beralih melihat Path. Saya terkesiap melihat sebuah foto yang di-upload salah seorang teman. Foto dengan caption singkat: For me you are the very good coach n trainer Pak – wish you all the best!

Dilihat dari foto tersebut, jelas memperlihatkan “farewell party” untuk Om Trainer. Ah, mau kemana Om yang satu ini. Apakah beliau akan assignment ke luar negeri? Atau setidaknya short temporary assignment? Saya masih bertanya tanya, ketika seorang teman memberitahukan “Pak NH resign Bro”

Deg… ada sesuatu yang hilang sesaat.

Continue reading

Tali Asih

Kembali hadir setelah sekian lama hiatus di dunia per-blog-an. Bukan maksud hati untuk mengundurkan diri, namun saya harus serangkaian perjalanan dengan setumpuk pekerjaan sehingga the broneo ini sedikit terbengkalai.

Beberapa waktu lalu, tepatnya 31 Oktober, kantor saya mengadakan meeting tahunan di Bali. Biasa, briefing menghadapi 2013. Semua peserta diharapkan bisa hadir di Bali pada hari minggu siang, karena serangkaian meeting tersebut diawali dengan team building pada hari minggu sore.

Nasib bagi saya, yang bertugas di kota tanpa bandara, perjalanan dimulai sehari sebelumnya. Pada hari sabtu saya menuju kota yang mempunyai jadwal penerbangan ke Bali pagi hari, agar bisa mengikuti team building sore harinya.

Setelah sekian hari mendengarkan briefing, dan diselingi beberapa games menarik, akhirnya meeting di Bali selesai. Namun itu bukan berarti perjalanan telah selesai. Saya masih harus terbang ke Balikpapan untuk beberapa urusan Pribadi di sana.Ternyata oh ternyata tidak ada flight langsung Bali-Balikpapan. Dan jadwal penerbangan yang connect dan sesuai dengan jam akhir meeting (jam 13.00) hanya ada Bali-Jakarta-Balikpapan. Singkat cerita, urusan di Balikpapan (setengah) selesai.  Setelah selesai urusan di Balikpapan, kembali lanjut dengan acara lain, di Jakarta.

  Continue reading

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Wuih… berat benar judul di atas, kayak seorang ahli saja saya ini berani-beraninya memberikan cara mencegah dan menanggulangi tawuran. Lha wong tawuran saja saya belum pernah… jadi yang akan tertulis hanya merupakan opini berdasarkan pengalaman saya saja.

Happy Family

Saya sangat beruntung dilahirkan di dalam keluarga yang penuh cinta. Meskipun bukan keluarga yang berlimpah harta, namun sungguh beruntung kami tidak berkekurangan. Cukupanlah. Bapak bekerja sebagai penjual barang-barang second di pasar, dan ibu bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta yang cukup ternama di Jogja, kedua orang tua saya mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan setiap tahap perkembangan anak-anaknya. I was very happy.

Saya merasa aman bila di rumah, karena kedua orang tua yang sangat mencintai dan melindungi saya. Sebagai anak, wajar saja saya beberpa kali berantem dengan teman-teman sepermainan. Namun berantem bukan dalam artian berkelahi. Beberapa kali saya jothakan dengan teman sepermainan, namun setiap kali jothakan, orang tua saya selalu me-wawuh-kan kembali. Bapak akan mengajak aku mengunjungi rumah teman yang jothakan itu, dan mendamaikan kami, dihadapan orang tua mereka juga.

Teladan bukan nasehat kosong

Bapak ibu saya adalah teladan nyata dengan hidupnya. Bukan kata-kata yang dijejalkan ke kepala saya waktu saya masih kecil, namun dengan contoh, teladan. Setelah dianggap dewasa saja Bapak dan Ibu memberikan nasehat-nasehatnya. Namun nasehat itu hanya merupakan “rangkuman/kesimpulan” akan kehidupan mereka sehari-hari.

Bapak tidak pernah menyuruh-nyuruh saya belajar, tapi Bapak menjadi mahasiswa universitas terbuka. Semata-mata bukan untuk gelar sarjananya (toh Bapak tidak pernah lulus UT), namun teladan untuk belajar bagi saya dan kakak.

Ibu tidak pernah menasehatkan untuk bekerja keras, namun itu sungguh nyata tampak dalam keseharian ibu. Sebagai perawat dan sebagai ibu rumah tangga tanpa seorang assistant rumah tangga, merupakan pesan yang sangat kuat bagi saya untuk kerja keras. Continue reading