Time Out

Waktu SMA, aku kadang iri dengan teman-temanku yang bisa bercanda, dan bermanja-manja dengan ibunya. Ih.. kenapa aku tidak bisa.
Ini pasti karena Ibu sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi sekarang iri itu menjadi syukur tak terhingga, ketika aku melihat sekelilingku. Betapa banyak bayi yang masih sangat kecil telah ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya. Baru 3 bulan sudah ditinggal.
Syukur banget aku masih ditunggui oleh ibu, meskipun hanya sampai kelas 2 SD.

Terkenang indah ketika aku disuapi ibu sambil dibacakan buku.
Atau ketika terayun ayun di boncengan sepeda “jengky” biru yang udah butut ketika diantar jemput Ibu waktu TK dan kelas 1 SD. Oh indahnya…
Indah bagiku.. tapi mungkin ngos-ngosan buat Ibu. Lha wong lumayan jauh je … 4-5 km di terik matahari.

Terima kasih Ibu, karena telah rela keluar dari pekerjaanmu waktu itu.

Ibu ketika gadis adalah seorang perawat di salah satu RS di Jogja.
KetikaIbu memutuskan untuk menikah dengan Bapak, dengan rela Ibu keluar dari pekerjaannya.
Ibu mengandung kakakku, satu setengah tahun setelah pernikannya.
Setelah kakakku lahir, kemudian menyusulah diriku ini dikandung Ibu tiga tahun kemudian.

Ketika aku kelas 1 SD, Ibu mulai sering bermimpi bertemu dengan teman-teman sekerja dulu. Teman sekerja, sekaligus teman seangkatan, sekaligus teman seasrama. Karena memang Ibu lulusan sekolah perawat yang mengharuskan Beliau untuk tinggal di asrama.
Yach.. yang diceritakan padaku, mimpi itu hadir setelah aku kelas 1 SD.
Tapi bisa jadi sejak Ibu keluar dari pekerjaannya mimpi itu telah hadir.
Dalam mimpinya, Ibu bertemu teman-temannya dan mereka mengajak Ibu untuk gabung kerja lagi.

Maka setelah aku dianggap cukup besar dan bisa ditinggal, kelas 2 SD, Ibu kembali menjadi perawat. Di rumah sakit yang sama.
Teman-temannya telah banyak yang menjadi kepala unit, atau perawat senior. Ibu kembali menjadi perawat dari nol. Dengan tekhnologi kedokteran yang sudah cukup jauh di depan jika dibandingkan ketika Ibu keluar.

Meski menjadi perawat, Ibu tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu. Semua kebutuhan telah disiapkan oleh Ibu sendiri. Tanpa asisten sama sekali.
Pagi-pagi sekali Ibu menghangatkan makanan yang sudah dimasak pada malam sebelumnya.
Pakaian juga telah disetrika dengan rapi. Rumah telah dibersihkan.
Luar biasa Ibu….

Saat ini Ibu telah pensiun sebagai perawat RS itu, namun masih terus menjadi asisten di praktek dokter setiap Senin, Selasa dan Sabtu.
Dokter tersebut cukup kondang di Jogja dan banyak pasiennya, sehingga kadang di usia senjanya Ibu harus pulang jam 23.00 bahkan lebih. Sampai saat ini peran ibu di tempat dokter itu belum tergantikan. Karena Ibu adalah satu-satunya perawat di situ yang bisa nyontik bayi dengan baik.
Semua dijalani dengan senyum. Senyum yang sama dengan apa yang aku lihat waktu kanak-kanak dulu. Oh, betapa teduhnya senyum itu…
Dan masih…. Ibu tidak mau ditemani asisten untuk mengurus rumah.

Terima kasih Ibu untuk semuannya.
Untuk semua pengorbanan ketika engkau mengambil “time out” dari pekerjaanmu. Time out yang cukup panjang, 12 tahun. Demi bisa menjagai aku dan Mas Edo.

ups… berkaca-kaca neh waktu nulis

Matur nuwun ibu..
Sembah sungkem kula..
Nyuwun pangapunten asring damel ibu repot, sebel lan duka
Nyuwun sewu, dereng saged paring menapa menapa

Palopo,
May 09

14 thoughts on “Time Out

  1. salam kenal
    tulisasnnya menginspirasi…..menyenntuh….. mengingatkan aku pada ibuku di medan yang sudah mulai tua.

    pengorbanan seorang ibu tidak ternilai….smoga ibu tetap sehat dan panjang umur…

    kunjungi blog aku ya…
    salam

  2. okey brother, sekarang gw tau kenapa dirimu itu jadi orang begitu sabar buangeett…
    dirimu telah dididik oleh salah satu wanita hebat didunia ini..

    –ahh jadi berkaca-kaca juga nih–

  3. @entranable:
    salam kenal mbak…
    setuju, kadang kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan sesuatu tentang ibu

  4. @the afdhal:
    ibuku gitu loh… she’s the best (for me)
    he..he..he..

    juga gak herankan, kadang kerja sampai malam…
    tp kalo yg ini suerrr… bukan krn ibu

  5. @the afdhal:
    ibuku gitu loh… she’s the best (for me)
    he..he..he..

    juga gak herankan, kadang kerja sampai malam…
    tp kalo yg ini suerrr… bukan krn ibu

  6. lha jadi kerja sampe malam tuh gara-gara sapa?sapa penyebabnya??
    apakah yang diruangan sebelahku ini?? hihihii

  7. how sweet… Baca penggambaran soal ibu dari anak laki-laki…

    Panti Rapih ya? Ibuku justru pergi dari Yogya, ke Jakarta ikut kakaknya dan menjadi perawat di Carolus krn gratis (malah digaji katanya). Dan berhenti kerja setelah 1 tahun gara-gara emang ngga cocok jadi perawat (semaput liat jarum suntik hihihi)

    tapi hebat ya ibunya masih bekerja sampai sekarang.

    EM

  8. @ the afdhal:
    itu salah satunya…

    @ Ikkyu san AKA EM:
    Yup RS PR
    Ibu pernah juga di Carolus, tp gk lama, ikatan dinas stelah lulus aja…
    Tp untunglah balik lagi ke RS PR.. lha wong ktemunya Bapak di RS PR je..

  9. Bro Neo …
    Jangankan kamu Bro …
    Aku yo berkaca-kaca ini membaca tulisanmu …

    Why …
    Ibuku juga begitu …
    Ketika menikah … ambil Time Out …
    Bedanya ibumu Perawat …
    Ibuku Guru …
    Ibu mulai (berani) ngajar lagi … ketika adikku sudah TK …

    Salam saya

  10. @NH18:
    sangat beruntung yach kita, masih ditunggui Ibu ketika di “golden age masa pertumbuhan” (kayak iklan susu aja)
    Meskipun “hanya sesaat” tapi cukup sebagai bekal

    salam,

  11. @ eka:
    jangan jangan kita sebelahan waktu itu… aku jg lahir di RSPR.
    is’t a clue for our conversation in FB?
    wakakakakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s