Pret…Cepret… Potret

Pret… Pret… Cepret..
Bunyi khas kamera membawaku pada kenangan pada tahun 80an, ketika aku masih SD. Pada pertemuan keluarga besar, alias pertemuan Trah Karijapijoga di Muntilan, saat itulah pertama kali aku menekan tombol kamera. Pret… seiring kilatan lampu blitz yang menyala.
Hanya satu cepretan saja, namun cukup menjadi gerbang bagiku untuk masuk hobby yang satu ini. Fotografi.

Dengan sangat antusias, aku mencoba mendeskripsikan apa yang sempat aku jepret dengan kamera kepada Bapak. “Pasti OK Pak, penarinya sedang mengangkat kaki, selendangnya melambai gagah…” Demikianlah kurang lebih penggambaran yang aku berikan ke Bapak sepanjang perjalanan pulang. Bapak menanggapinya dengan serius sambil tersenyum simpul. “Kita lihat hasilnya nanti yach..”

Eng ing eng.. dua atau tiga hari kemudian, Bapak pulang sambil membawa hasil dokumentasi pertemuan trah. Tentu saja setelah filmnya dicuci cetak. Ups… apa yang terjadi….
PANTAT.. man!!!
Yach penari yang dengan gagah telah aku deskripsikan ternyata bagian belakang tubuhnya saja yang tampak… Lambaian selendang hanya tinggal kenangan karena yang terpampang adalah seonggok kain nglemprek.
“Lain kali latihan lagi ya….” hibur Bapak waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, ayah sudah berani memberiku “pegangan” kamera untuk menyalurkan hobby. Dan mereknya adalah… Argus!!! What..!!! Kamera apa tuh.. ? Nama yang baru aku kenal pada saat menerima kamera dari Bapak. Bukan kamera baru, tapi kamera bekas. Tapi lumayanlah, sudah memegang kamera sendiri. Hasilnya lumayanlah untuk seorang anak SD.

-sayang saat ini hasil jepretan masa kecilku belum bisa aku share disini… maklum semua dalam bentuk hard copy, dan masih tersimpan di Jogja… belum di-scan –

Fotografi memang merupakan hobby yang cukup mahal (bahkan sampai saat ini masih terasa mahal), apalagi dulu semua harus dicetak jika ingin lihat hasilnya, tapi untung sekali Bapak sangat mensupport hobby itu.
Sebagai penjual barang bekas alias loakan di pasar Beringharjo, Bapak sering mendapat kamera atau lensa bekas yang kondisinya masih cukup OK. Sebagai pedagang mungkin Bapak cukup “aneh”. Jika mendapat barang bagus, Bapak tidak menjual lagi supaya mendapat untung besar, tapi justru dibawa pulang. He..he..he.. tentunya aku dan Mas Edo yang senang.

Selain kamera Argus itu, selanjutnya aku diberi pegangan beberapa kamera yang lain, aku tidak hafal dengan pasti.. Maklum lumayan banyak kamera yang sering aku pakai, lha wong pada dasarnya adalah dagangan Bapak di pasar. Yang aku ingat sih, pernah apakai Canon, Olympus, dan yang paling lama aku pegang adalah Nikon FM-2. Kadang juga memakai Nikon F-2 jika sedang tidak dipakai Bapak atau kakak. Dan semuanya tentu saja… bekas.

Karena merupakan hobby yang cukup mahal, saat SMA & kuliah, seringkali aku ikut dalam kegiatan sekolah/kampus, tentus saja dengan spesialisasi Sie Dokumentasi. He..he… menyalurkan hobby mumpung dibayari.
Namun sejak mengerjakan tulisan akhir dan bekerja hobby itu terhenti sama sekali. Maklum mesti hijrah ke Jakarta, dan semua kamera aku tinggal di Jogja. Lama tak pegang kamera. Tidak punya.

Setelah sekian lama menabung, akhirnya pada tahun 2007 awal, aku bisa membeli kamera sendiri. Meskipun kamera ecek-ecek, tapi suerrr.. itu satu satunya kamera yang pernah aku beli. Setidaknya sampai saat ini. Waktu itu sebenarnya ingin beli yang lebih OK, tapi karena keuangan terbatas yach terpaksa harus berkompromi situasi yang ada. Lumix FZ50 cukuplah..

Bicara hasil jepretan… wah masih jauh dari yang diidam-idamkan. Beberapa sudah sempat aku share di sini, just dokumentasi saja kan? Kalo mau mencari nilai seni atau artistik dan sebagainya…. nanti dulu lah. Masih jauh.
Berbeda dengan kakakku, Mas Edo. Lumayan bisa dinikamatilah karyanya. Apalagi didukung dengan hobby-nya ber-back packer ria bersama sang istri, mbak Tita. Klop dah… Kemampuan foto OK, object OK. Hasilnya (menurutku) OK OK banget.

Yach.. jeprat jepret dengan kamera alias fotografi adalah “satu-satu darah” yang mengalir dari Bapak dalam diri kami berdua. Aku dan Kakakku.
Tradisi leluhur Bapak… blank, tidak tahu sama sekali.
Darah dagang… hmmmm nanti dulu.
Darah masak memasak…. eit.. itu sama sekali tidak mengalir dalam darah kami.

Pare Pare
May 09

9 thoughts on “Pret…Cepret… Potret

  1. waaah sejak SD? hebring euy.
    Canon dan Nikon, biarpun bekas itu pasti hasilnya OK sekali.

    Saya baru kenal kamera di SMA, karena ikut kegiatan ekskul Sanggar Fotografi. Kamera yang diberikan papa Fujica. Setelah ke Jepang, beli Canon Eos Kiss dengan uang sendiri, eeeh belum sempat bereksperimen banyak, Digital lebih banyak dipakai. Sekarang ingin sekali beli DSLR Canon or Nikon… nabung dulu ah.

    EM

  2. pingin juga beli DSLR, kapan ya kesampaian…??

    tp kalo gk di”rem” pasti nagih terus neh.. abis body, lensa, trus lensa lagi, trus yg lain lagi…

    kayaknya camera bisa jadi zat adiktif neh..😦

  3. Hhmmm …
    Sedikit demi sedikit …
    sejarah hidup kamu terceritakan Bro …
    saya yang bertahun-tahun kenal kamu …
    belum pernah dengar cerita yang ini …

    Another sweet posting Bro …

    Nikon F2 … aaaarrrggghhh …itu kamera milik adik saya yang sering saya pinjam dulu …

    BTW … adikku ikut sanggar fotografi waktu SMA …
    Sama dengan Imelda …

    EM …
    Kamu and Bro kayaknya akan shared a lot of story …
    ada banyak kesamaan diantara kelian …

    sama-sama pernah sekolah SMA di mono gender …
    hahahaha

  4. @ NH18:
    Yup Om.. Saya bukan orang yang bisa ber”tutur” cerita dengan baik dan detail… makanya mungkin tidak banyak yg terungkap dalam keseharian
    So dengan tulisan, kayaknya lebih mudah bagiku utk berbagi cerita.
    -soalnya bisa dilihat lagi, diedit, dibaca lagi, he..he… –

    sedikit koreksi OM, SMA saya multi sex Pak!!
    Suer.. lha wong ada yg ada yg agak kebanci-bancian sgala (bukan berarti merendahkan lho, saya tetep respek pada mereka Just wanna say not only two..)
    Tapi memang banyak teman dari SMA yg monogender itu…
    kalo saya bilang temen SMA (refer to yg mono gender) berarti teman semasa SMA, bukan berarti harus satu SMA Om..
    (kalo menurut team legal sih “termasuk tapi tidak terbatas pada” he..he..)

  5. @ ceritaeka:
    he..he.. the beauty of pantat..
    berhasil membawaku masuk kedala….
    wakakakakakakkkk

  6. ini dia yang kusesali…
    ilmu ini belum sempat kau tularkan bro….masalahe yo aku urung nduwe kamere jhe hehehe

  7. @ afdhal:
    lho.. bukannya dulu dah pernah belajar ke bos di Jawa?? kan belionya lebih jago🙂

  8. Pingback: The Best of Champion « the broneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s