RUMAH BARUKU

Jeng..jeng…!!!

 Inilah rumah baruku. Rumah yang aku harapkan bisa menjadi rumah yang cukup asri, rapi, dan nyaman untuk dikunjungi.

Aku merasa lebih nyaman dengan fasilitas-fasilitas yang ada. Bukan berarti aku mengatakan rumah lama ku lebih jelek, tidak nyaman, tidak rapi, sempit, dan hal-hal negatif lainnya lho! Bisa-bisa aku dituntut sama pemilik lahan kalo aku bilang rumah-rumah di lahan itu tidak bagus.

 Aku hanya mreasa lebih nyaman saja di sini.

 So…. Slamat datang. Silakan melihat-lihat koleksi yang ada. Koleksi-koleksi lama sebenarnya, yang saya angkut dari rumah lama. Atau kalo berkenan, sudilah berkunjung ke sini lagi, mungkin sudah ada koleksi-koleksi baru.

Akan sangat menyenangkan, jika Anda semua sudi meninggalkan coretan barang satu dua kalimat, atau setidak –tidaknya tanda tangan di buku tamu. Smoga rumah baruku ini bisa menjadi tempat bagiku untuk bertemu sahabat-sahabat baru.

 Okey.. Slamat Menikmati, Smoga Berkenan

(*tetep berharap sudi untuk mampir ke sini lagi*)

 

Pare, Jun 09

12 Juni 2001

Gak enak banget rasanya jadi sarjana nganggur. Aku pernah mengalami. Tidak benar-benar nganggur sih, ada project dikit dikit, tapi tetap saja kurang puas. Aku merasa tidak fully optimized.
Makanya setelah beberapa kali bolak-balik Jogja – Jakarta, untuk tes dan interview di pelbagai perusahaan, akhirnya aku dipanggil masuk ke salah satu perusahaan yang cukup terpandang. Wuih bangganya. Serasa dunia dalam genggaman. ”Oeyyy Jakarta, lihat aku datang. Akan ku taklukkan kau!!”

Aku berangkat merantau ke Jakarta naik kereta malam. Diantar Ibu, sepupu, dan tentu saja pacarku waktu itu. Sayang sekali Bapak tidak bisa mengantar. Padahal pada saat tes, beberapa kali aku sempat dibonceng oleh beliau ke statiun tugu.
Waktu pamit, Bapak menjabat tanganku. Erat. Erat sekali. Ada senyum bangga terlihat. Senyum yang sampai saat ini masih terus menyemangati. Senyum yang pada awal kedatanganku ke ibukota mampu membuat aku bertahan dan tetap berusaha menaklukkan Jakarta. Bapak waktu itu sudah sakit-sakitan. Beberapa kali sudah keluar masuk rumah sakit.
Malam itu 15 Maret 2001.

Aku segera bergelut dengan pekerjaanku. Untung sekali perusahaan ini dan orang-orang di dalamnya sangat welcome. Salah satu pekerjaanku waktu itu adalah supervisi survey lapangan, dan aku diberi kebebasan untuk mengatur jadwalku sendiri. Aku sengaja membuat jadwalku travelling ke kota-kota sekitar Jogja terlebih dahulu, agar bisa menyempatkan diri pulang ke rumah.

Sabtu, 9 Jun 2001
Aku singgah ke Jogja setelah dua hari bertugas di Madiun. Kondisi Bapak semakin parah. Nafasnya terasa berat. Badannya mengurus. Kulit yang biasa kencang mengikat tubuh gemuk Bapak, kini tampak mengendur. Dan keriputnya semakin dalam.
Walau dengan nafas tersengal, Beliau tetap saja meneguhkan aku.
Ra pa pa, Bapak ora apa apa. Bapak apik apik wae. Mung butuh leren
Dengan senyum yang aku paksakan, dan nafas kutarik dalam dalam, aku mengangguk pelan. Kelu. Tak bisa berkata apa apa.

Siang itu aku jagongan dengan pacarku di ruang tamu. Sementara Bapak tertidur di depan TV. Nafasnya semakin berat.
“Aghhh… Aghhh..” Kadang nafas Bapak seperti terhenti beberapa detik. Selang dari tabung oksigen menambah kalut pemandangan.
“Hah…..” Bapak terdengar seperti mengeluh.
Keluh yang selama ini tidak pernah aku dengar. Bapak yang aku kenal selalu nrimo, dan tidak pernah mengeluh.
”To….” Panggilnya.
Nggih Pak
Tulung mbok aku dikeroki
Dengan sedih aku keroki Bapak. Bapak selama ini tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Minta tolong aku, anaknya pun hampir tidak pernah. Hanya ibulah yang menjadi tempat untuk direpoti. Tidak yang lain
Bapak ”mulai melepas dirinya” pikirku saat itu.

Minggu, 10 Jun 2001
Dalam doaku, aku bermohon
”Tuhan, terjadilah kehendakmu. Bukan inginku tapi kehendakMu. Hidup mati kami ada ditanganMu, sehat sakit kami ada di jariMu.
Tuhan kuserahkan semua ke dalam tanganMu”
Malam itu dalam gerbong kereta menuju Jakarta, aku benar-benar merasa berat meninggalkan Jogja. Meninggalkan Ibu seorang diri merawat Bapak yang sedang sakit keras.
Semula aku akan minta ijin tidak masuk karena kondisi ini. Tapi Ibu melarangku.
”Kamu ke Jakarta saja tidak apa-apa. Jangan sedih. Itu bagus buat psikis Bapak”
OK.
Ibu yang paling tahu Bapak. Betapa psikis Bapak akan semakin terkoyak jika melihat aku tidak ke Jakarta hanya untuk menunggui Beliau. Yah… ”Diri” Bapak akan semakin menderita jika aku sedih melihat dia. Aku harus tegar. Aku harus ke Jakarta.

Senin, 11 Jun 2001.
Hari Senin, seperti biasanya kerjaan kantor cukup banyak. Ditambah tidur yang sangat kurang di kereta semalam, membuat badanku terasa sangat lelah. Apalagi ada rasa gundah di hati.
Jam 21.30 aku sudah terkapar.
”Tuhan kuserahkan hidup kami…” ujarku lirih sebelum terlelap.
Jam 23.30an HP-ku berbunyi.
Kudengar suara Ibu dalam isak yang tertahan,
”Bapak kritis, tolong bantu Bapak dan Ibu dengan doa. Temani Ibu berjaga”
”Semua akan baik baik saja. Tolong bantu dengan doa saja”
”Jangan-jangan! Kamu jangan pulang. Cukup dengan doa”. Tetap saja Ibu melarang aku menengok Bapak yang sedang kritis.
Aku coba menyalakan lilin, dan berdoa.
Tapi dasar badan lelah banget, aku tidak sanggup berdoa lama lama. Apalagi berjaga. Doa singkat yang aku ucapkan berulang tiba tiba hilang. Entah kapan aku terlelap. Yang jelas ketika aku buka mata, hari telah pagi.

Selasa, 12 Jun 2001
Jam 10.00an aku di-call pacarku. Deg!!! Pasti ada kabar penting. Tidak biasanya dia menelpon jam segini.
”Mas, pulang, Bapak kritis” katanya singkat.
”Mas… Mas, dililake ya…” ujarnya lirih.
”Bapak tilar?” tanyaku pelan.
Dililake ya…..”
Telepon aku tutup.
Aku tertunduk di meja. Jemariku saling bertautan menyangga kepadalu. Air mata menggenang. Aku tarik nafas dalam dalam.
”Ibu Mel, saya ijin pulang. Bapak seda” ujarku ke atasanku.
Tak lama kemudian kakaku menelpon.
”Wis dikabari?”
”Wis”

”Sing tabah ya… kita ketemu di bandara”
”OK, ketemu di bandara”
Singkat saja telepon kakakku. Ada hati yang menjerit terdengar dalam suaranya. Suara kami tepatnya.

Aku dan kakak hanya bisa berpelukan di bandara. Diam. Tetap diam. Tak berkata apa apa. Hanya saling berpelukan, dan menepuk punggung. Air mata berlinang. Sedikit sesenggukan. Pelukan paling erat dari kakakku yang pernah aku rasakan.
Setiba di Adisucipto, kami segera menuju RS Panti Rapih. Beberapa kerabat sudah berkumpul. Ibu berdiri. Melangkah sedikit ke depan. Hanya dua langkah barangkali. Memeluk aku. Memeluk kakaku. Tiada kata yang terucap. Semua kelu, tak berkata apa apa. Ibu menggandeng kami, menuntun kami menuju ke peti jenasah Bapak.

Dalam isak yang sempat mencuat dari ketegaran hatinya, Ibu berujar.
“Deloken kuwi. Bapak mesem”
-Lihat itu. Bapak tersenyum-
Sebuah senyum terlihat tersungging di bibir Bapak.
“Apik, kabeh wis apik!”
“Sedane Bapak apik banget”

Setelah kami duduk, baru Ibu bercerita betapa indahnya kematian Bapak. Betapa tenangnya Bapak pergi.
Sungguh dua kalimat penghiburan luar biasa yang aku rasakan saat itu. Kalimat pendek saja, tapi sungguh menenangkan.
“Apik, kabeh wis apik”
“Deloken kuwi. Bapak mesem”

Terima kasih Bapak, sudah menunggui dan mengantarku aku sampai dapat pekerjaan yang aku harapkan.
Nyuwun pangapunten dereng saged bales punapa punapa

ini adalah satu satunya foto yang pernah masuk ke dompetku,

dan slalu aku bawa kemanapun sampai saat ini

Makassar, 11 Jun 2009

Dalam kenangan akan
Ignatius Wibawadjati, terlahir Oey Hong Tay
25 Des 1938 – 12 Jun 2001

Sosis

Tadi pagi, entah kenapa, aku tiba tiba melo banget. Tiba tiba saja, kenangan akan Bapak semakin kuat. Ini pasti gara gara FB-nya Djeung Lala. Tapi emang sih.. setiap Juni, kenangan itu pasti datang.

It’s OK.

Ini adalah pengalaman manis tentang koki handal yang sempat aku sempat aku singgung sedikit pada bagian akhir tulisan ini. Koki itu adalah bapakku sendiri. Dan resep istemewanya adalah SOSIS. Heemmmm nyam.

Keluarga kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan. Cukup saja. Kalo orang bilang kelas menengahlah. Jadi jangan heran kalo sosis merupakan makanan yang cukup jarang kami nikmati.
Pernah suatu kali, Pakdhe dan Budhe datang dari Solo, untuk mengajak kami jalan jalan ke Borobudur. Sebelum ke Borobudur, kami sempat mampir ke Depot SS, di perempatan Jl. Magelang. (sayang depot itu sekarang sudah tidak ada lagi)
Dan menu yang kami santap adalah… sosis. Benar-benar terasa waktu lezat itu. Kalo om Bondan bilang “mak nyussss…
Aku sangat menikmatinya dan lahap tentu saja. (mungkin waktu itu Bapak melihat dengan miris, wah anakku kok benar-benar kalap gini)

Waktu berlalu, sampai tiba-tiba ibu mengajakku ke pasar, tempat Bapak menggelar barang-barang second hand-nya. Memang kadang aku mampir ke pasar, tapi kok ini tumben tumbennya Ibu mengajak khusus ke sana. Kami naik becak ke pasar. Sesampai di pasar, ternyata Bapak sudah membeli beberapa gulung usus kering, bahan pembuat kulit sosis. Wow… besar banget & panjang. Persis seperti yang di depot SS. Selain itu ada juga sebongkah daging cincang. Hemmmm bakal makan enak neh 🙂
Trus Bapak memberikan ibu catatan kecil. Resep rahasia rupanya. Setelah itu aku dan ibu pergi ke toko yang telah ditunjukkan oleh Bapak. Lumayan juga jalan kaki ke toko itu. Pasar Beringharjo – Pajeksan. Aku tidak tahu namanya, tapi bentuknya bubuk berwarna coklat.

Setelah sampai dirumah, segera ibu mempersiapkan bumbu bumbu sesuai dengan catatan Bapak. Lama sekali rasanya menunggu Bapak pulang. Akhirnya suara khas itu datang. Suara yang seperti menyapa “Bapak pulang…” Suara yang tercipta dari bercumbunya stang sepeda onthel dan tempat minum alumunium (itu tuh… tempat minum yang biasa dipakai tentara). Aku bergegas membuka pintu.
Setelah istirahat sejenak, masuklah sang koki ke gelanggang pemasakan. Ibu bertindak sebagai assisten koki. Kurang topinya aja neh… :-p
Bumbu bumbu diulek dan disatukan. Daging cincang, dicincang lagi. Setelah itu daging cincang itu diuleni dengan bumbu. Ditambah kecap sedikit, dan diuleni lagi. Hemmmm berbayang nikmatnya sosis di depot SS.
Setelah semua siap, mulailah daging cincang berbumbu rahasia ayah mulai dimasukkan ke usus. Usus yang sebelumya berisi angin, pelan pelan berisi daging. Tak lupa aku ngrusuhi Bapak dan Ibu. Ingat, ngrusuhi ya, bukan membantu. Kakak juga nimbrung di dapur. Seru!! Aseek juga masak rame rame di dapur.
”Eeeitt.. ett.. eettt!!” seru Bapak ketika ususnya terkoyak dan isinya terburai keluar. Sementara kami hanya bisa memandang dengan geli.

Akhirnya malam itu kami makan besar. Sosis special racikan Bapak. Tentang rasa, jangan ditanya. Depot SS juga lewat. Jauuuhhh…
Dan menurutku, sosis itu terasa lebih mak nyus karena prosesnya. Karena reriungan dan canda di dapur. Karena empet empetan kami berempat di dapur yang kecil, apalagi sambil ngrubungi senampan kecil daging cicang berbumbu itu. Terasa nikmat sekali.

Paginya kami makan sosis lagi, siang sosis lagi, sore masih sosis lagi. Keesokan harinya lagi, masih makan sosis. My lovely father, he was a great chef.

Pare Pare, Juni 09

Di Lima Kilometer Terakhir

Pada waktu naik kelas tiga SMA, aku sedang giat-giatnya terlibat dalam kegiatan OSIS. Ada 3 kepanitiaan sekaligus yang aku ikuti. Kemaruk gak sih?
Ketiganya adalah: penerimaan siswa baru, pelepasan kakak angkatan yang baru lulus, dan satu lagi perkemahan.
Penerimaan siswa baru tentu tidak lepas dari Penataran P4 dan orientasi sekolah. Suer bukan perploncoan lho!!.
Pelepasan kakak kelas, sudah bisa dibayangkan tentu akan ada malam hiburan dan ha ha hi hi.
Nah, perkemahan ini yang berbeda. Nama perkemahan tersebut adalah: Perkemahan Teladan Bakti Wira Dharma Pertiwi. Panjang banget yach. Sering kami singkat sebagai PTBWDP, atau PTB saja.
Apa tuh? Kalo mudahnya, anggap saja seperti KKN, tapi seluruh pesertanya terkumpul di satu desa saja, dan tidak menumpang di warga, tapi berkemah di lapangan sekitar desa lokasi PTBWDP. Detailnya bisa dilihat di sini.

Waktu itu aku mendapat tugas sebagai coordinator survey dan perijinan. Setelah beberapa minggu keliling mencari cari lokasi (aseeek bisa jalan jalan di jam pelajaran..he.he..) akhirnya kami sepakat untuk melaksanakan PTBWDP di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Desa Jangkaran merupakan desa di sudut barat-selatan DIY, satu-satunya desa di DIY yang terletak di barat sungai Bogowonto. Sungai tersebut memisahkan Kabupatan Kulon Progo dengan Kabupaten Purworejo. Waktu itu, tahun 1993, Dusun Pasir Mendit masih termasuk dusun IDT.

Desa jangkaran, adalah satu satunya desa di barat sungai Bogowonto, untuk bisa mencapainya harus melalui wilayah Jateng terlebih dahuhu

Tanah lapang, diantara muara sungai dan pepohonan itulah lokasi perkemahan kami. Titik yang terlihat terang di samping tanah lapang tersebut adalah SDN Pasir Mendit.

Pada hari kebarangkatan yang telah ditentukan, pagi pagi aku telah pamit ke kedua orang tua, siang itu aku akan berangkat ke Pasir Mendit. Karena kedua orang tuaku bekerja, maka pagi itulah kesempatanku pamit.
Sekitar pukul 14.00 rombongan besar berangkat ke lokasi. Namun karena masih ada urusan di kepanitiaan yang lain, aku masih tinggal di Jogja. Nanti akan menyusul. Sebenarnya tugasku sudah selesai. Survey sudah kelar pastinya. Ijin kegiatan udah ditangan. So… tinggal grubyak grubyuk saja sebenarnya. Makanya aku ijin untuk nyusul jam 5.00-an.

Jam 16.30 aku pulang ke rumah dulu, mandi-mandi dulu,
”Lho kok belum berangkat?” tanya bapakku.
Kujelaskan ke Bapak, kalau memang aku akan menyusul. Selepas azan Maghrib, aku berangkat kesana. Sendirian. Dengan mengendarai sepeda motor, aku tancap gas ke lokasi. Karena sudah sering ke sana, aku cukup hafal medan. Dimana ada tikungan atau lobang besar, aku sudah terbiasa mengantisipasi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, sampailah aku di lokasi. Dingin juga angin malam menusuk tubuhku. Segera aku bergabung dengan tenda kelompok untuk makan malam dan breaking ice kelompok. Oh ya, dalam perkemahan ini kami dibagi dalam beberapa kelompok, berdasarkan extrakurikuler kami masing masing. So ada kelompok PMR, kelompok Pramuka dan sebagainya. Kegiatan sosial kami tidak jauh dari ekstrakurikuler, misalnya PMR ya akan bakti sosial seputar masalah kesehatan, kelompok ilmiah akan mengajar murid SD, dan sebagainya.
Belum sampai 15 menit aku duduk di situ, tiba tiba datang Pak Wasis datang dengan wajah pucat dan tegang. Matanya berkaca kaca. Bibirnya begetar.
”Pak Singgih dan Pak Ziazili tabrakan!” katanya lirih.
”Saya coba kejar truck-nya tapi tidak dapat”

What..!!!!
Tabrakan!!! Dengan truck!!!

”Dimana Pak?” sahutku.
”Masih jalan raya, tidak jauh dari jalan masuk ke sini”

”Rom kita kesana!!” seruku.
Aku segera masuk ke mobil Rommy. Tancap gas!!
”Cepat Rom!!” teriakku.
Dalam perjalanan itu aku sangat tegang. Membayangkan hal terburuk yang terjadi. Sepeda motor vs Truck. Oh… no….
Tak lama berselang, aku melihat orang krubung-krubung di tepi jalan.
”Astaga!!” aku kenal sosok itu. Pak Ziazili. Terbayang jelas senyum khas beliau. Memang aku tidak pernah diajar beliau langsung, tapi aku tahu betul, sosok yang tertelungkup di pematang ladang tebu itu beliau. Meski separuh tubuhnya telah ditutup daun pisang, tapi aku yakin betul. Oh.. my God!!
”Benar ini guru Anda?” tanya seorang polisi seraya membalikkan sosok itu.
Aku coba melihat dengan seksama, meskipun ada kengerian dalam hati. Ingin wajah ini berpaling. Oh my God. Aku lihat sekali lagi. Dibalik darah yang mulai mengental, dan debu yang melekat, serta beberapa semut yang merayap, aku kenal betul wajah itu. Benar Pak Ziazili.
”Benar Pak” jawabku tertahan. Seakan suaraku berhenti di kerongkongan saja.
”Pak Singgih dimana Pak?” tanyaku ke Pak Polisi.
”Coba ke Puskesmas Mas!”
Beberapa temanku datang menyusul.
”Kalian di sini, aku ke Pak Singgih!” seruku sambil berlari ke mobil Rommy lagi.
Biarlah Pak Ziazili di sini. Toh sudah meninggal pikirku. Biarlah beliau beristirahat dalam damai.
”Yang masih hidup ini yang harus segera ditolong” bisikku dalam hati. Aku dan Rommy bergegas ke Puskesmas Temon II dalam diam. Lidah kami terasa kelu.
Benar, di Puskesmas Temon II, Pak Singgih mendapat pertolongan pertama. Teriakan dan rintih kesakitan beliau benar benar membuat bulu kudukku berdiri.
Pak Singgih harus segara dibawa ke rumah sakit.
Aku segera masuk ke ambulance yang membawa beliau. Aku di samping sopir, dan Yudhistira temanku, dibelakang, menjaga Pak Singgih. RS PKU Jogja tujuan kami.

Sirine ambulance meraung raung, memecah padatnya lalu lintas malam itu. Aku tercenung. Diam. Tak bisa berbuat apa-apa, selain duduk dan memandang kosong. Kilatan cahaya sirine yang berputar putar membawaku semakin masuk dalam pusaran kekosongan. Sementara teriakan dan jerit Pak Singgih menyusup ruang hampaku. Teriakan menyayat yang diiringi doa doa yang tergetar dari mulut Yudhistira yang di belakang.
Oh Pak Singgih. Beliau meradang ketika berada di ambang kesadaran dan pingsan, ambang kesakitan yang tertahan.
Sesampai di RS PKU, Pak Singgih segera mendapat pertolongan. Tak lama kemudian, beberapa teman datang. Kabar yang mereka bawa, Pak Ziazili sudah ruang mayat RSU Wates. Waktu itu belum ada HP, jadi semua serba lisan.
Setelah beberapa teman berkumpul, kami membagi tugas. Kami harus segera memberitahu para guru dan alumni. Aku bersama Gatut temanku, bertugas untuk memberi info ke Pak Harno. Wakasek bidang kurikulum. Kami tidak tahu alamat dengan pasti, hanya nama kampung saja. Tanpa nomor rumah, tanpa RT/RW yang jelas. Untunglah kami bertemu dengan Pak Sidi, guru matematika yang tinggal di kampung yang sama. Beliau sedang nongkrong di gardu ronda. Bersama dengan beliau kami menuju rumah Pak Harno.
”Pak, Pak Ziazili dan Pak Singgih kecelakaan” hanya pesan itu yang terucap. Tidak kuasa kami berujar ”Pak Ziazili meninggal”
”Pak Singgih sekarang di RS PKU” informasi tambahannya, tapi tetap saja info tentang Pak Ziazili tidak keluar.
”OK, saya ganti baju dulu” kata Pak Harno.
Ketika Pak Harno sudah menyingkap tirai pembatas ruang tamu, entah kekuatan apa yang mendorong kami.
”Pak, anu Pak!!! Pak Ziazili tilar”
”Innalilahi….” ujar Pak Harno
”Apa..??” Pak Singgih terperanjat.

Malam itu berlalu sangat lambat. Aku paksakan mata terpejam, tapi tidak bisa juga. Lelah tubuh ini, tapi lebih lelah lagi hatiku. Ada kengerian menyeruak. Ada gentar yang tergelar. Oh Tuhan, terimakasih atas perlindungan-Mu. Tadi aku ngebut sendirian ke Pasir Mendit. Andai saja aku yang kecelakaan… tidak kuasa aku meneruskan andai andai ku.

Jam 03.30 aku ketok pintu rumah.
”Lho ada apa lagi? Kok belum berangkat?” tanya Bapak dengan kaget.
”Sudah, sekarang kamu tidur!!” kata Bapak setelah mendengar cerita singkat tentang apa yang terjadi.
Tetap saja dini hari itu mataku tidak bisa terpejam dengan tenang.
Pukul 06.30 aku ke rumah Pak Bambang, ketua BP3, memberitahukan apa yang telah terjadi. Kemudian dengan sangat pelan aku berangkat lagi ke Pasir Mendit. Untuk mengikuti upacara pembukaan perkemahan sekaligus penutupan. Pukul 12 siang rombongan kembali ke Jogja.
Ketika melintas kejadian, tak terasa air mataku tergenang.

Lima kilo jalanan terakhir
Menjelma menjadi jalan tak bertepi
Hanya lima kilo lagi
Namun tiada pernah kau kesini

Pak Ziazili,
Kini perjuanganmu telah berakhir
Di sini, di lima kilo terkahir
Jogja – Pasir Mendit
Mengantar kau ke langit

Diiring harum bunga tebu
Kami hantar kepergianmu
Berbahagialah kau selalu
Bersama Dia, pemilik hidup

Pare, Juni 09

Step by STEPS

Tak terasa telah hampir empat jam orang terakhir meninggalkan kantor. Kini tinggallah aku sendiri di dalam gedung dan beberapa security di gerbang depan. Jam hampir menunjukkan jam 23.40, dan aku masih bergelut dengan presentasi business plan. Tak terasa telah berhari-hari aku mengerjakan presentasi ini. Siang hari brainstorming, malam hari menuangkan hasil brainstorming ke dalam presentasi, dini hari mengumpulkan topic untuk brainstorming selanjutnya. Maklum saja, salah satu tugasku adalah menjadi compiler
“Cukuplah hari ini, besok lagi”

Dengan tenaga yang masih ada, kukemasi laptop dan kurapikan catatan-catatan yang terserak di meja. Dengan gontai kutinggalkan kantor. Untuk menemani perjalanan kunyalakan tape di dalam mobil.
“… step by step….!!” Terlantun lagu dari New Kids on The Block (NKOTB) yang sempat hits belasan tahun lalu. Lagu tersebut membawa sebuah memory melintas dalam benak. Namun jangan dibayangkan yang terlintas adalah gerak lincah anggota NKOTB, atau wajah ganteng Knight bersaudara. Yang terlintas adalah bayangan om NH dan Pak TOM. Memory akan wajah mereka berdua diikuti oleh wajah teman-teman sekelompok, dan tentu saja serangkaian diskusi panjang nan melelahkan. Lho kok bisa?

Om NH dan Pak TOM adalah dua trainer yang memfasilitasi saya ketika mengikuti Training STEPS. Superior Team-based Execution of PS. Training yang memberikan “common language” bagi seluruh afiliasi perusahaan kami di seluruh dunia dalam menanggapi situasi atau masalah yang ada.

Training yang “cukup” berat namun mengasyikan. Bayangkan saja, dalam training tersebut kita diminta untuk berdiskusi dan memecahkan case-study sampai larut malam, bahkan ada yang sampai dinihari. Yang tidak tidur pun ada.
Sebenarnya sih tidak harus sampai pagi, lha wong case studynya sederhana saja, tapi karena masing-masing anggota kelompok mempunyai pandangan yang beragam dengan argumentasinya masing-masing yang logis dan kuat, maka dengan “sangat terpaksa”diskusi dilaksanakan hingga larut malam bahkan dinihari.
Selain diskusi yang panjang, situasi diperunyam dengan kemampuan bahasa Inggris kami yang cekak. Lha wong semua case-study yang berlembar-lembar itu tertulis manis dalam bahasa Inggris je…
Kalo orang Jawa bilang, “training nganti step” deh. Training sampai step, yang artinya kurang lebih training sampai kejang-kejang karena gejala epilesi.

Pada malam terakhir training, waktu telah menunjukkan pukul 01.15. Diskusi masih saja panas, bahkan hampir mendidih. Maklum ditengah kelelahan fisik dan otak, emosi mulai ikut merangkak naik juga. Tiba-tiba telepon di war room kami berdering. Terdengar suara dari seberang sana
“Bisa bicara dengan Bapak Broneo
“Ya saya sendiri… dari mana Pak?”
“Dari Reception Pak. Bapak jadi order massage Pak. Ini sudah siap Pak”
“Yang pesan dari dari kamar berapa Pak?” tanyaku bloon “Ini war room Pak”
“Benar Pak, dari war room. Tadi ordernya disampaikan via house keeping kami Pak”
Sialan ada yang ngerjain nih gerutuku dalam hati.
“Maaf Pak, saya tidak order massage” dengan nada agak tinggi.
Tapi untunglah telepon itu berdering. Bisa rileks sejenak, otak dan emosi mulai mendingin lagi.

Keesokan harinya ketika breakfast, aku berpapasan dengan Bang MON. Salah seorang trainee juga dari kelompok lain. Sambil tersenyum dia berbisik ke aku,”Gimana pijatnya semalam?”
Sialan!! Kamu Bang yang telpon semalem!!!”
Ho oh… “ jawab dia sambil ngakak.
Dasar Bang MON!! Emang Bang MON ini salah satu rekan kami yang paling jahil. Mo tahu crita lain tentang dia? Bisa baca Gotcha, hasil coretan om NH.

Sungguh beruntung aku boleh mengikuti training ini, meskipun aku belum manager. Yup, training ini memang design awalnya hanya untuk para manager saja.
Karena melalui training yang sempat aku kutuki waktu itu, ternyata memberikan banyak manfaat saat ini. Kerangka business plan yang saat ini sedang aku kerjakan, tidak lepas dari STEPS.
Bahkan di luar pekerjaan di kantor pun, STEPS dapat memberikan kerangka dan pola yang jelas dan terstruktur dengan baik. Dapat memberikan langkah demi langkah dengan lebih terarah.

“… step by step…”
“ … step by STEPS…”

koleksi lawas dengan beberapa perbaikan, teriring salam untuk om NH18
Bpn Dec 08
Pre Jun 09

Maafkan Ibu Anakku

Senja ini aku kembali bertemu dengan mu
Gadis Ceria anakku
Ingin aku mendekap mu, memeluk mu, mencium mu
Tapi tak kulakukan itu
Biarlah aku tetap menjadi tante berkerudung ungu bagimu
Dan jangan lagi kau pinta aku membuka kacamata hitamku
Biarlah itu menjadi penutup mata kelam bergenang air mata

Air mata yang bisa mengalir dan menghayutkanmu
Ke kelam masa lalu mu
Cukuplah aku yang tenggelam, bukan kamu
Biarlah kamu hidup bersama orang tuamu
Itu yang terbaik bagi mu

Maafkan Ibu anakku
Maafkan aku yang hanya menyusuimu tiga hari
Maafkan aku yang tidak sanggup menjadi bapak dan ibu
Maafkan aku yang hanya bisa menyelimuti
Memeluk mu
Mencium mu
Lalu meninggalkanmu

Gadis Ceria anakku
Rasakanlah kesegaran setiap titik embun pagi
Ada hening dan hangat pelukku
Dan dalam setiap semilir angin senja
Ada senandung dan belai tanganku
Atau lihatlah cerianya cahaya rembulan
Ada senyum dan sapaku
Percayalah dalam setiap nafasku
Ada doa bagimu anakku

Satu pinta Gadis Ceria anakku
Jangan pernah kau hina para pelacur
Karena merekalah yang menjadi bentengmu
Benteng kesucian bagi Gadis Ceria
Mereka rela diterkam serigala berliur nafsu
Mereka telah mati jiwa, dan menjadi seonggok daging
Daging yang bisa dibeli dan dinikmati
Lalu dibuang
Jangan pernah kau tanyakan keagungan cinta mereka
Mereka telah mati bagi orang yang dicintai
Bagi teman temanmu yang lahir dan besar di sini
Di lokalisasi
Sekali lagi pintaku padamu
Jangan pernah kau hina para pelacur
Demi aku, ibumu

Gadis Ceria,
Jangan kamu bermegah menjadi anak cucu Maria
Hanya karena kamu tumbuh di dalam harmoni
Aku takut kamu menjadi Maria Magdalena
Jika kamu tumbuh di sini, di lokalisasi
Jangan pernah kau salahkan juga ibuku
Karena mendekapku di sini
Dan jangan kau tanyakan duka dan tangisku
Ketika memutus rantai ini

GA 603, Jkt – Upg
Jun 09

Bebaskan Ibu Prita

Saatnya hati yang berbicara, bukan materi

meski lirih biarlah saya turut bersenandung
aku percaya meski lirih suara ini
jika digabungkan dengan senandung hati teman-teman semua
akan menjadi gema yang dahsyat!!