Ibu

Bunda

(by potret)

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Reff:
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to reff

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

 

Ibu, tiada bingkisan yang bisa kuberikan, hanya ini yang bisa kuberikan di hari ulang tahun mu…

Selamat ulang tahun Ibu, semoga sehat-sehat selalu

I love you Mom…

tiada kata yang bisa kuucapkan untuk menggambarkan terima kasih ku atas kasih sayangmu selama ini, tiada kata yang bisa kurangkai untuk mengungkapkan betapa aku mencintaimu…

doa dan restumu lah penuntun jalanku

Advertisements

Selamat Idul Fitri

Ketika Ramadhan tiba, aku teringat akan perbincangan dengan seorang teman di Balikpapan beberapa saat yang lalu. Berikut ini pendapat teman tersebut mengenai Ramadhan. Ini adalah pendapat pribadinya, bisa saja salah.

“Ramadhan adalah bulan bonus. Bulan ketika setiap amal kita, setiap ibadah kita mendapatkan pahala berlipat-lipat. Jauh lebih besar daripada bulan biasa. Inilah bulan pembelajaran bagi saya, supaya bisa menjadi lebih baik, lebih taat, dan lebih beriman.

Saya sendiri pada bulan Ramadhan, memang memperbanyak ibadah ke atas, tapi kalo amal kepada yang kurang mampu atau ke panti asuhan, tidak beda dengan bulan biasa, bahkan mungkin sedikit berkurang. Mungkin aku terlalu matematis. Pada bulan ini orang lain telah banyak memberi mereka, so.. aku justru sedikit mengerem sedekahku. Biarlah aku berikan di bulan lain, ketika orang-orang yang lain tidak terlalu banyak bersedekah.

Niatanku adalah membantu mereka, bukan membeli surga. Aku tidak peduli apakah setiap kali aku beramal aku mendapat pahala atau tidak, yang penting aku membantu mereka yang kurang beruntung. Karena sesungguhnya berapa pun pahala yang coba aku kumpulkan, tidaklah akan mampu menutupi kesalahan dan dosaku. Aku manusia lemah dan banyak dosa.

Semoga aku tetap bisa mempertahankan ibadahku setelah Ramadhan usai.”

Sebagaimana menara masjid yang belum usai dibangun, demikianlah perjuangan iman kita. Tidak berakhir seiring gema takbir. Kita masih harus terus membangun menara itu. Kita masih harus terus mengolah diri kita agar lebih taqwa, lebih beriman dan lebih baik, di bulan biasa, bukan hanya di bulan “bonus”.

Kartu ucapan

Mudik

Mudik. Meng-udik. Menuju Udik. Sebuah fenomena sosial yang luar biasa menurutku. Fenomena yang setiap tahun terjadi. Ritual tahunan yang beriringan dengan Idul Fitri. Ribuan orang bergerak menuju kampung halamannya. Ribuan orang mengalir, berduyun melalui jalur-jalur yang ada. Orang rela berdesak-desakan berebut tiket. Antrian luar biasa panjang pun dilakoni. Semua demi satu tujuan: MUDIK. Pulang ke kampung halaman. Pulang ke asal kita. Pulang ke keluarga kita. Pulang ke awal kehidupan kita.

Sebuah fenomena yang menurutku pribadi sangat selaras dengan perjuangan ibadah puasa. Pulang ke asal kita. Kembali Fitri. Kembali seperti kita terlahir.

Terlepas dari spiritualitas atau daya apa yang mendorong orang untuk mudik, sering kita dengar adanya kecelakaan dalam kegiatan mudik ini, entah karena keteledoran si pemudik, atau memang infra struktur yang kurang memadai, sehingga terjadi kecelakaan.

Berikut ini adalah sharing perjalanan saya di beberapa jalur utama di Sulawesi Selatan. Semoga sharing ini bisa menjadi tips bagi para blogger yang ingin pulang kampung dengan melalui jalan-jalan di Sulawesi Selatan, terutama jalur Makassar – Parepare.

Mengapa jalur Makassar – Parepare?

Ini karena jalur ini saat ini sedang sedang dalam proses perbaikan dan pelabaran jalan. Sehingga banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan, supaya tidak terjadi kecelakaan. Memang sampai saat ini saya belum mendengar adanya kecelakaan fatal di jalur ini, tapi ada baiknya kita berhati-hati, supaya perjalanan mudik para blogger lancar dan aman.

Continue reading

Ajakan “Menyesatkan”

Ajakan “menyesatkan”?? Apa tuh?

Jangan berprasangka tentang ajakan untuk melanggar norma-norma hukum, adat, maupun kesusilaan. Bukan pula tentang ajaran sesat, sempalan agama-agama yang marak diberitakan beberapa saat yang lalu.

Ini hanyalah tangkapan lensa iseng saja.

Selama ini aku “diajar” untuk selalu meningkatkan awareness suatu product. Salah satunya dengan branding. “Optimalkan media yang ada untuk menjaga agar product yang kita tawarkan selalu ada di benak konsumen”.  Begitulah kira-kira intinya. Ujung-ujungnya agar mereka mau membeli dan mempergunakan product kita.

Jadi jangan heran kalo Anda semua pernah melihat kendaraan dengan aneka branding product atau iklan. Mungkin Anda semua pernah melihat mobil box dengan iklan rokok pada box-nya, atau bus dengan gambar minuman energi, dan lain-lainnya. Bukan hanya product, bahkan caleg dan pasangan capres-cawapres pun banyak yang melakukan iklan di kendaraan menjelang pemilu yang lalu.

Itu adalah salah satu contoh optimalisasi branding tadi. Mereka berharap agar awareness mereka naik, dan orang-orang memilih product atau caleg tersebut.

Tapi yang ini agak lain. Anjuran atau ajakan yang tertulis justru bukan untuk “memakai” atau “mengkonsumsi” tetapi justru untuk “meninggalkannya”. Terlepas dari “isi anjuran” tapi yang jelas ini “bertentangan” dengan “theory marketing” yang aku kenal selama ini.

Continue reading

“Secuil surga” bernama Matano

Setelah 4-5 jam menempuh perjalanan lebih dari 200 km dengan hati dag-dig-dug, tibalah kami di kota Sorowako. Kota kecil di salah satu sudut Luwu Timur. Kota ini hidup dari aktivitas penambangan PT Inco. Tambang nikel terbesar didunia ada di sini. Sungguh kaya negeri kita, tapi entahlah bagaimana pemanfaatannya. Jadi ingat pasal 33, ayat 3 UUD ‘45.

 

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

 

Setelah kami menjankan tugas kantor, kami menyempatkan diri ke tepi danau Matano. Di Pantai Idee tepatnya. Lokasi Pantai Idee ini terletak di kawasan perumahan PT Inco. Jalan menuju Pantai Ide tidak sulit dicari. Masuk saja ke kompleks perumahan PT Inco, tak lebih dari 100 m, ada halte bus di sisi kanan. Belok ke kanan setelah halte itu…ikut saja jalannya… dan wow… Danau Matano!!

 

Danau yang sangat tenang dan asri. Bentangan air tampak berkilau kilau memantulkan cahaya matahari sore itu. Bagaikan cermin raksasa, airnya memantulkan bayangan awan yang berarak arak di atas sana. Di kejauhan tampak membiru daratan seberang danau. Airnya sangat jernih, sehingga kita bisa melihat dasarnya, dan terasa dingin menyegarkan. Pohon-pohon yang terjaga menambah sejuk udara. Benar-benar segar.

Andai saja tidak sedang bertugas dan membawa perlengkapan yang lebih proper, ingin rasanya terjun ke air, berenang di tepi danau yang sangat tenang itu, dan bergabung dengan orang-orang yang sedang merasakan segarnya air danau di sekujur tubuhnya, alias nyemplung di air.

  Continue reading

Debar di Palopo – Soroako

Setelah menyusuri sambil menikmati jalur Parepare – Rantepao (Tator) – Palopo, pagi itu aku bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Palopo – Soroako. Jarak sejauh lebih dari 200 km akan aku tempuh PP. Karena keesokan harinya aku sudah harus kembali ke Parepare di sore hari. Jadi daripada besok aku harus menempuh perjalanan 10 jam dari Soroako, lebih  baik malam ini aku kembali bermalam di Palopo.

 

Seperti biasa, sebelum berangkat aku periksa secara singkat kondisi kendaraan. Tekanan ban OK, rem OK, semua lampu bisa menyala dengan baik. BBM lebih dari setengah kapasitas full. Bekal minum di perjalanan siap.

 

OK. Siap berangkat.

 

Jalur yang aku tempuh relative datar, tidak banyak tanjakan dan turunan. Kendaraan bisa aku pacu cukup kencang. Memasuki kota Masamba, Luwu Utara aku berencana mengisi BBM. Hmm SPBU ramai sekali. Antrian cukup panjang. Karena memburu waktu, udah nanti saja isinya. Toh masih banyak.

Selepas kota Masamba, ada SPBU lagi. Heemm sepi neh. Hanya ada 2 truck saja. It’s time to re-fuel! But… lhaik “premium habis”, sebuah tripleks dengan tulisan seadanya bertengger di pintu masuk. Alamak…. Cari SPBU lain.

Kendaraan melaju lagi. Kami coba menghubungi teman-teman yang bertugas di Luwu Utara dan Luwu Timur. Mencari informasi. Yup!!! Next SPBU ada di Wotu. OK lanjut…, meskipun dengan hati mulai berdebar-debar. Sebuah informasi: Premium langka di Lutra (Luwu Utara) dan Lutim (Luwu Timur).

Sesampai Wotu, kondisi sama saja. Papan dengan tulisan HABIS kembali terpampang.

“Coba di Mangkutana Pak,” info seorang penjaga SPBU.

Waiiittt.. Mangkutana mah di sudah mengarah ke Sulawesi Tengah. Arah-arah Poso gitu. Jalur kami tidak ke sana.

 

Kami berbelok ke arah Malili, ketika menjumpai pertigaan dengan penunjuk arah Malili dan Mangkutana. Malili adalah ibukota Lutim. Jaraknya masih 60 km lagi dari pertigaan itu. Jalannya cukup mulus namun sempit. Kami melaju melintasi perkebunan sawit. Hati terus berdebar-debar, sementara persediaan BBM memakin menipis. Penunjuk jumlah BBM semakin mendekati strip terakhir.

  Continue reading

Pesona Toraja – Palopo

Dalam melakukan pekerjaan aku dituntut untuk banyak melakukan perjalanan ke beberapa area. Ini adalah sepenggal sharing pengalaman dalam perjalananku, Pare-Pare – Rantepao (Tana Toraja) – Palopo – Soroako. Sepenggal kisah path Pare-Pare – Toraja telah aku sharing-kan dalam tulisan Berkibarlah Benderaku.

 

Ini adalah penggalan berikutnya. Toraja – Palopo.

Tulisan mengenai penggalan Palopo – Soroako berikut keindahan dan ketenangan Danau Matano akan menyusul dalam tulisan selanjutnya.

 Sebenarnya route Toraja – Palopo pernah aku lewati, namun waktu itu telah malam sehingga tidak tampak keelokan alamnya.

 

Perjalanan dari Rantepao ke arah Palopo diwarnai dengan tanjakan, turunan dan kelokan. Pemandangannya sungguh asri. Dari Rantepao, kami harus merambat mendaki gunung. Gugusan gunung itu cukup tinggi sehingga selalu tertutup awan di puncaknya. Ketika merayapinya seakan-akan kita menuju dan memasuki “wilayah” yang lain. Ada suasana magis yang menyelimuti. Kental terasa.

 

Sebelum menembus puncak berbalut awan tersebut, kami melewati perkampungan-perkampungan masyarakat Toraja. Banyak sekali kami menjumpai rumah adat Toraja (tongkonan), baik yang masih baru maupun yang sudah cukup tua. Sangat beruntung aku sempat melihat orang membangun atap tongkonan.

 

Tongkonan yang sudah jadi dan yang sedang dalam proses pembuatan atap

Tongkonan yang sudah jadi dan yang sedang dalam proses pembuatan atap

  Continue reading