Melihat dari sisi lain

Melihat dari sisi lain?

Ini bukan tentang perubahan paradigma, bukan pula tentang teknik analisis kekuatan competitor, apalagi berhubungan dengan “dunia lain”. Juga bukan tentang lagunya Phil Collins, Both Sides of The Story. Ini benar benar melihat dari sisi lain. Sisi yang berseberangan, sisi yang berhadapan.

Ini adalah tentang Ujung Lero. Sebuah desa nelayan, di seberang pantai kota Parepare, sebagai mana pernah saya sharing-kan tentang keindahan pemandangan setiap sore dari jendela kantorku. Sejak pertama kali aku memandang seberang, telah terbersit hasrat dalam hati “suatu saat aku harus ke sana”. (yaialah… orang tugas gitu loh…!!).

lokasi ujung lero menurut google earth, kotak pada gambar kanan menunjukkan lokasi masjid jami'

lokasi ujung lero menurut om google earth, kotak pada gambar kanan menunjukkan lokasi masjid jami'

Satu yang selalu menarik pehatianku setiap kali melongok keluar jendela adalah menara masjid di Ujung Lero. Sebuah menara yang tinggi menjulang dekat dengan batas cakrawala. Menara masjid itu bagaikan tonggak pengikat yang menghubungkan langit dan bumi. Menghubungkan surga dengan dunia, umat dengan Allah-nya.

Beberapa waktu yang lalu aku sempatkan diri ke sana. Aku mengambil jalan memutar, mengitari teluk Parepare. Dari Parepare, kami harus menuju ke arah kota Pinrang. Setelah berjalan kurang lebih 10-15 km, kami berbelok ke kiri, ke arah PLTD Suppa. Jalan yang kami lalui semakin sempit, namun cukup mulus. Hanya ada beberapa lubang saja. Setelah belokan itu, kami tinggal mengikuti jalan dan penunjuk arah saja. Kurang lebih 20 km dari pertigaan Suppa untuk bisa mencapai Ujung Lero.

nyiur melambai... di tepi pantai

nyiur melambai... di tepi pantai

Sepanjang perjalanan kami disuguhi jajaran pohon kelapa yang meliuk melambai tertiup angin. Meskipun banyak jajaran pohon, namun udara terasa panas sungguh. Matahari bersinar dengan teriknya siang itu. Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan tibalah kami di gapura masuk desa Ujung Lero.

Beberapa orang tampak sedang memperbaiki jaring. Sementara yang lain duduk-duduk sambil main kartu, atau tidur-tiduran di teras rumah panggung. Tampaknya sedang menunggu waktu melaut. Beberapa lembar anyaman bambu terpajang di tepi jalan. Ikan-ikan terjajar rapi di masing-masing lembarnya. Ukurannya hampir seragam. Yang besar dijajar dengan yang besar, sedangkan yang kecil pada lembar anyaman bambu yang lain. Hmmmm calon ikan asin neh… Aroma khas desa nelayan tercium dengan jelasnya di hidung.

Secara perlahan aku susuri jalan utama desa itu, susunan paving block yang sedikit bergelombang, namun cukup bagus untuk sebuah desa nelayan. Fasilitas lain juga cukup lengkap di desa itu. Ada sebuah pasar di tengah desa, dengan kios-kios dan los pasar yang cukup banyak. Ada juga puskesmas yang cukup megah gedungnya, bahkan kantor kas sebuah bank ada di Ujung Lero.

Di pusat desa itu, berdirilah Masjid Jami Ujung Lero. Masjid yang menaranya berdiri megah, dan selalu menarik perhatianku dari seberang. Masjid yang menaranya seakan menghubungkan langit dan bumi, menghubungkan surga dan dunia, mengikatkan umat dengan Tuhannya. Masjid ini cukup megah dengan warna putih bersih.

masjid jami' ujung lero

masjid jami' ujung lero

Sedikit lagi kami susuri jalanan desa nelayan ini, sampai di ujung jalan. Benar-benar ujung, tidak ada jalan terusannya. Tampak sebidang tanah lapang kurang lebih 30 m di depan kami dengan luas kurang lebih sama dengan dua buah lapangan volley ball.

Dari tanah lapang itu kami dapat melihat kota Parepare dengan jelas. Tampak di kejauhan kantor yang sehari-hari aku kunjungi. Jendela tempat aku sering melongok juga terlihat. Dan saat ini, aku berdiri sini, di sisi yang selama ini sering aku lihat dari jendela itu. Aku menerawang dari seberang lautan, memotret tempat dimana aku pernah memotret tempat ini.

Lalu lintas laut juga berlihat jelas di sini. Kapal-kapal besar berlalu lalang datang ke ataupun pergi dari pelabuhan Parepare. Perahu kecil para nelayan atau perahu angkutan untuk penumpang dengan route Ujung Lero – Parepare juga hilir mudik di sini. Perahu inilah yang sering digunakan warga Ujung Lero untuk pergi ke Parepare, karena selain murah (hanya Rp 6.000,- saja) juga waktu tempuh yang singkat saja, 10 – 15 menit.

Satu hal lagi yang cukup menarik, ternyata mayoritas warga Ujung Lero bersuku Mandar, tidak seperti warga Parepare maupun Pinrang pada umumnya yang bersuku Bugis.

Berikut beberapa gambar yang sempat aku rekam di Ujung Lero, sebuah desa nelayan yang selalu tampak setiap kali aku melayangkan pandangan dari jendela kantor ku.

Parepare dari seberang, tampak bangunan di tepi pantai, maupun di bukit-bukit, tanda panah menunjukkan jendela longok ku

Parepare dari seberang, tampak bangunan di tepi pantai, maupun di bukit-bukit, tanda panah menunjukkan jendela longok ku

 

Pelabuah Parepare dari seberang

Pelabuah Parepare dari seberang

 

Angkot jurusan Parepare Ujung Lero... penumpang kalo mo turun di "jalan" juga boleh

Angkot jurusan Parepare Ujung Lero... penumpang kalo mo turun di "jalan" juga boleh

 

Nelayan nelayan junior bermain sampan

Nelayan nelayan junior bermain sampan

30 thoughts on “Melihat dari sisi lain

    • Yup, ujung lero masuk kab Pinrang… wah musti bener benar kenal wilayah neh.. biar gak nyasar kalo lg …. he..he. (*boleh diomongin gak??*)

  1. Saya belum pernah ke Sulawesi euy … paling-paling transit di Bandara Makassar … Kalau ke daerah atau lihat gambar/foto-foto seperti yg di sini kita sadar betapa luasnya Nusantara kita ya bro …

    • bener Pak Oemar… luas sekali negara kita.. dan sangat banyak yg bisa kita kunjungi.. gak kalah kok ama luar negeri!!

      Indonesia Timur tuh.. banyak banget pemandangan indah yg blm diangkat…

      smoga tetap lestari keindahannya

  2. Aku suka banget foto nelayan-nelayan junior itu…
    sepertinya mereka “hanya” bermain….tapi mungkin sebenernya mereka tengah berlatih untuk meluncurkan sampan, menyeimbangkannya, dan kelak ketika mereka dewasa mereka menjadi nelayan-nelayan handal dan pelayar-pelayar tangguh seperti nenek moyang mereka..

    Hebat ya…sekecil itu udah berani nyemplung ke laut….kalu aku paling cuma berani nyemplung di pantai yang cetek aja..

    • nenek moyang ku orang pelaut!! he..he.. jadi inget arus baliknya Pramoedya.. kita telah terdesak masuk ke pedalaman, pdhal nenek moyang kita adalah pelaut pelaut tangguh!!

    • rasanya?? hemmm gmana gitu.. he..he..he…

      menara masjid di sini memang tinggi tinggi eka… yg ini “blm” seberapa he.he..he…

  3. Masjid yang menaranya seakan menghubungkan langit dan bumi, menghubungkan surga dan dunia, mengikatkan umat dengan Tuhannya.

    Wow … kalimat yang indah sekali, Bro. Berapa usia masjid tersebut? Kelihatannya sudah cukup tua ya.
    Btw, jadi kantor Bro Neo di pinggir teluk ya. Hm, asyik pemandangannya ya …

  4. Melihat dari posisi jendela kerjamu kayaknya memang asik melongok dari situ terus…
    Hmmm.. sulawesi, aku pengen ke sana lalu ke utara ke arah Bunaken dan Manado.. makan kawanua guk guk guk! :))

    • he..he.. untunglah aku “punya” jendela longok itu, bisa sebagai sarana refreshing he.he..he..
      manado emang aseek, apalagi bagi pemakan segala seperti kita… bunaken katanya indah, tapi sayang blm sempat ke sana hiks..hiks..

      kalo di toraja ada papiong.. B2 dicincang, dberi bumbu, lalu dimasukkan ke dalam bambu.. & di bakar.. uih.. maknyus juga he..he..

  5. mel suka ama nelayan juniornya,,,,innocence face…
    menggambarkan wajah wajah tak berdosa jauh dr bisingnya kota yg panas gersang penuh dosa,,,
    loke it so much

  6. aku blom pernah kesana tapi kampung papaku di Barru (kalo gak salah namanya sumpang binangae itu juga kota nelayan mas) dulu setiap kesana aku selalu suka dengan ritual pagi dan sore karena dikala itu kami akan duduk2 di teras belakang memandang matahari sambil menikmati teh manis dan kue2 tradisional….huhuhuhu kangen deh!

    kota nelayan memang khas dengan kapal2 kecil yg hilir mudik ke tengah laut untuk mengambil hasil laut yg di tangkap di kapal2 besar namanya itu “bagang” bener kan? hehehehe…

    gambar2nya keren mas…apalagi foto terakhir itu…keren bgt!!!

  7. UJUNG LERO memang mantap dng keindahan alamx…. Q merindukanmu kampung halamnQ,,
    I LOVE UJUNG LERO

  8. mantabz mank to kamponq…!!!
    tp skrng dah mkin brubah… btw just info…. umur Mesjid JAMI Ujung LERO kira dah ratsan taon…. & mnurut info yg sy dngar yg sy dngar dr Nnek sy klau wktu mnbangun Mesjidx nG pke semen tp cm pke telor doank tuk mnbangun Mesjid trsbut….!!!!
    “SUBHANALLAH”

  9. Aq tertarik mo kesana krn ada data bhw ada pendek menderita kanker payudara pd usia muda yg lbh byk;dr 40 org;32prsen usia remaja::ada something wrong disana

  10. betul2 indah,,, saya sudh melihat langsung,,, hehehe dan masyarakatnya juga sangat ramah,,, silahkan berkunjung ke ujung lero,,, akses untuk ksana sangat mudah di tempuh,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s