Guru Guru

Terinspirasi oleh tulisan Om Trainer di sini, yang ternyata terinspirasi juga dari serta Uda Vison di sini, saya ikut-ikutan menulis kenangan akan guru-guru yang menjadi favorit, teladan, bahkan inspirasi bagi saya. Ada lima guru yang meninggalkan kenangan sangat mendalam dari hati saya. Mereka adalah: Pak Pur, Ibu Nari, Pak Waluyo, Pak Yadi dan Pak Herman.

Pak Purwoko

Pak Pur, kami biasa memanggil. Beliau adalah guru kelas sewaktu di SD, jadi semua mata pelajaran diampu olehnya, kecuali Pendidikan Agama dan Pendidikan Olahraga & Kesehatan. Beliau mengajar saya di kelas 4, 5, dan 6.

Lho kok kemaruk, di ajar sampai 3 tahun berturut turut? Saat aku naik kelas 5 SD, ada perubahan pola pembagian tugas diantara guru-guru kami (entah di SD-SD yang lain, apakah ada perubahan pola atau tidak). Sebelum-sebelumnya seorang guru “menetap” di kelas yang sama, dalam artian ngajar kelas 4 ya kelas 4 terus. Namun ketika aku dan teman-teman naik ke kelas 5, kami “diikuti’ oleh guru kelas 4, dan waktu kami naik ke kelas 6, kami “diikuti” lagi oleh guru kami. Jadi deh dari kelas 4-6 kami mempunyai seorang guru. Setelah seorang guru meluluskan siswanya, mereka akan kembali lagi ke kelas 4. Untuk kelas 1-3 guru kelas seperti sebelum-sebelumnya.

Continue reading

Advertisements

Abrakadabra!!

Sruupphhh!! Sesruput teh hangat mengalir melalui bibir Abra di sore itu. Sore yang demikian cerah, secerah hati Abra akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, setelah sekian lama hidup menumpang di rumah mertua, akhirnya sejak dua bulan lalu dia berhasil mengontrak rumah sendiri. Bukan rumah mewah memang, sederhana saja. Letakknya pun agak di pinggir kota, tapi tak mengapa. Justru hawanya masih sejuk sekali, seperti sore ini. Sekolah Dara yang agak jauh pun tidak menjadi masalah. Setiap pagi dia bisa mengantar dengan sepeda motor second yang belum lama ini dibelinya.

Sambil menunggu anak semata wayangnya mandi, Abra mencoba menikmati keberhasilannya saat ini. Mungkin tidak seberapa dibanding orang lain, tapi saat ini sudah merupakan titik tertinggi yang pernah dicapainya sebagai seorang tukang sulap keliling. Terkenang masa-masa lima tahun lalu, saat ia mulai belajar bermain sulap pada Pak Mantra, pesulap kampung yang cukup terkenal di kotanya. Pak Mantra memanglah bukan yang paling top, tapi cukuplah dikenal di kotanya, kota kabupaten yang tidak terlalu besar.

Abra belajar sulap mulai dari menjadi asisten Pak Mantra berkeliling dari panggung satu ke panggung lainnya. Di waktu luangnya Pak Mantra menurunkan ilmu sulap miliknya ke Abra.

“Kepada siapa lagi ini aku turunkan kalo bukan kepada kamu. Anak-anakku tidak mungkin. Entah di mana mereka. Ikut ibunya sejak kecil, tak tahu kemana.” Sebuah alasan yang bagi Abra terdengar sebagai keluh Pak Mantra

Continue reading

Arjuna Sasrabahu

Ini bukan cerita singkat tentang kisah pewayangan Arjuna Sasrabahu, karena saya sendiri pun belum tahu cerita Arjuna Sasrabahu secara detail dan lengkap. Yang saya tahu hanyalah:

Arjuna Sasrabahu adalah tokoh yang menjadi musuh Rahwana. Arjuna Sasrabahu berhasil mengalahkan Rahwana, tapi Rahwana sendiri kemudian mati di tangan Rama dalam kisah Ramayana. Dalam kisah Arjuna Sasrabahu ada tokoh bernama Bambang Sumantri dan Kakrasana.

That’s all. Sudah itu saja yang saya tahu. Mau cari bukunya sekarang, si Arjuna Sasrabahu agak sulit ditemukan. Lain halnya dengan Mahabharata dan Ramayana yang banyak sekali di toko-toko buku.

Banyak pertanyaan mengenai Arjuna Sasrabahu menggelayut dalam benak saya, terutama ketika berusaha menempatkan kisah ini dalam kurun waktu tertentu. Pertanyaan ini muncul karena kelahiran dan kematian Rahwana selalu dikisahkan dalam kisah Ramayana. Tapi dalam kisah Ramayana itu tidak pernah muncul atau menyinggung si Arjuna Sasrabahu ini.

Pertanyaan tersebut akhirnya mendapat sedikit jawaban ketika saya chatting dengan IJuliars. Walaupun hanya garis besarnya saja, namun percakapan singkat di dunia maya itu telah memberikan sedikit gambaran bagaimana meletakkan Arjuna Sasrabahu dan Ramayana dalam rentang waktu.

Continue reading

Skripsi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata skripsi? Mungkin yang terbayang adalah setumpuk penelitian ilmiah, atau wajah dosen pembimbing, atau sidang skripsi dengan sejumlah dosen penguji yang cukup menegangkan.

Menurut teman-temanku, banyak suka duka ketika mengerjakan skripsi. Ada yang kesulitan menemui dosen pembimbing. Ada juga yang harus merombak isinya karena judulnya berubah. Ada yang file-nya hilang atau tidak ter-save dengan baik sehingga harus menulis ulang. Namun ada juga yang mengerjakan skripsi lancar-lancar saja, mulus tanpa hambatan suatu apa.

Beberapa kakak angkatanku sempat nglokro (patah semangat) ketika penelitian berbulan-bulan di lab kimia hangus terbakar saat kampus kami mengalami kebakaran besar.

Ada juga temenku di fakultas ekonomi UGM yang misuh-misuh (mengumpat) karena sang dosen pembimbing diangkat menjadi menteri, sehingga membuat skripsinya terlantar beberapa bulan, dan harus menerima dosen pembimbing baru, dengan pola kerja baru dan pemikiran yang berbeda.

Lebih seru lagi cerita saat pendadaran. Ada yang tidak bisa tidur karena tegang dan grogi. Ada yang saat pendadaran tiba-tiba blank, tidak tahu harus ngomong apa, karena yang sudah ada di otak tiba-tiba serasa menguap entah kemana. Namun ada juga yang tenang tenang saja, atau bahkan tiba-tiba bisa memberikan jawaban brilyan ketika ditanya oleh dosen penguji.

  Continue reading

Terima kasih kawan

Berapa sih rata-rata comment atas status FB Anda? Lima, sepuluh, dua puluh, atau bahkan lebih? Mungkin yang ber- “talipong bimbit nan lebar badan” akan banyak mendapat comments atas statusnya. Maklum boleh dibilang online 24 jam. Bagi saya pribadi sangat sedikit. Paling sekitar 4-5 comments saja. Pernah sih mencapai lebih dari sepuluh, tapi frekuensinya sangat rendah.

Tapi kehebohan terjadi malam minggu kemarin, 31 Oktober 2009. Tiba-tiba comments atas statusku mencapai 21. Bahkan kenalan yang jarang comment pun bermunculan. Bukan hanya itu, beberapa teman juga menulis di wall, dengan nada yang serupa dengan comments itu. Surprise!! Hmm, apa sih statusku?

A new baby born!!! Mom.. your dream comes true.. 🙂 thanks God the almighty

Yah… itulah status yang aku post malam minggu kemarin, jam 23.17 wita. Langsung deh, ucapan selamat berdatangan. Doa-doa agar si anak sehat, berbakti pada orang tua, dan doa-doa yang lain. Atau “sekedar” “congrats ya”. Juga beberapa pertanyaan “anak siapa?” karena sebelumnya memang tidak ada kabar berita istriku hamil.

Sungguh, perhatian yang luar biasa dari teman-teman membuat saya terharu. Demikian banyak teman yang memperhatikan saya dan keluarga. Terima kasih kawan!!

Continue reading

Pulang Kemana Mak?

BADAI GUNTURGuntur masih terus bersahutan di kejauhan Angin keras menerpa, membuat rumah bambu tua di tepi pantai berderit derit. Daun pintunya menghentak-hentak gerendel kayu penahannya. Pintu yang tidak pernah tertutup rapat itu berguncang-guncang seiring dengan hantaman angin. Kilatan cahaya sesekali menempus celah celah anyaman bambu dinding rumah. Telah lebih dari tiga jam bayang-bayang seorang ibu muda yang tengah memeluk anaknya bergoyang goyang seiring goyang nyala lampu minyak diatas meja kayu. Ember-ember pemampung tiris mujan mulai penuh, dan airnya mulai membasahi lantai tanah.

Maryam bersenandung lirih sambil menimang Bagas agar tertidur. Dipeluknya Bagas di balai-balai bambu. Diselimutinya tubuh mungil itu dengan selembar sarung lusuh untuk sekedar menghangatkan tubuhnya, dan menghindari cipratan air yang mengucur. Seraut kegalauan terbersit di wajah Maryam.

Malam berbadai telah berlalu. Matahari cerah bersinar. Namun kecerahan itu tetap saja tampak muram bagi beberapa wanita yang berdiri di tepi pantai. Mereka memandang ke laut lepas. Dikejauhan tampak perahu bergerak pelan. Terseok-seok dibawa gelombang.

“Hanya dua perahu Mak” bisik Maryam pada wanita tua disampingnya.

Continue reading