Skripsi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata skripsi? Mungkin yang terbayang adalah setumpuk penelitian ilmiah, atau wajah dosen pembimbing, atau sidang skripsi dengan sejumlah dosen penguji yang cukup menegangkan.

Menurut teman-temanku, banyak suka duka ketika mengerjakan skripsi. Ada yang kesulitan menemui dosen pembimbing. Ada juga yang harus merombak isinya karena judulnya berubah. Ada yang file-nya hilang atau tidak ter-save dengan baik sehingga harus menulis ulang. Namun ada juga yang mengerjakan skripsi lancar-lancar saja, mulus tanpa hambatan suatu apa.

Beberapa kakak angkatanku sempat nglokro (patah semangat) ketika penelitian berbulan-bulan di lab kimia hangus terbakar saat kampus kami mengalami kebakaran besar.

Ada juga temenku di fakultas ekonomi UGM yang misuh-misuh (mengumpat) karena sang dosen pembimbing diangkat menjadi menteri, sehingga membuat skripsinya terlantar beberapa bulan, dan harus menerima dosen pembimbing baru, dengan pola kerja baru dan pemikiran yang berbeda.

Lebih seru lagi cerita saat pendadaran. Ada yang tidak bisa tidur karena tegang dan grogi. Ada yang saat pendadaran tiba-tiba blank, tidak tahu harus ngomong apa, karena yang sudah ada di otak tiba-tiba serasa menguap entah kemana. Namun ada juga yang tenang tenang saja, atau bahkan tiba-tiba bisa memberikan jawaban brilyan ketika ditanya oleh dosen penguji.

 

Dibalik semua ketegangan atau keribetan ketika penyusunan, skripsi juga memberikan kelegaan yang luar biasa, rasa “plong”se-“plong plong”-nya, ketika dinyatakan lulus ujian skripsi.

Berbagai perasaan atau cerita di atas adalah apa yang dirasakan atau dialami teman-teman saya. Mungkin Anda punya pengalaman atau cerita tersendiri tentang skripsi ini.

By the way, kok saya cuma cerita pengalaman dan perasaan orang lain? Cerita dan pengalaman Bro Neo sendiri bagaimana??

Maaf saudara-saudara, saya tidak bisa bercerita pengalaman dan perasaraan saya sendiri saat membuat skripsi. Lha wong saya lulus kuliah, tanpa membuat skripsi jee… Benar saudara, saya lulus tanpa membuat skripsi.

Lho kok bisa?

Di tempat kami, skripsi adalah salah satu bentuk tugas akhir saja, boleh mengambil tugas akhir yang lain. Kelas seminar misalnya.

Dan di jurusan kami, sangat jarang orang yang mengambil skripsi.  Di program studi statistika misalnya, dari 23 mahasiswa seangkatanku, hanya satu orang yang mengambil skripsi sebagai tugas akhir.

Mengapa demikian?

Menurut dosen wali saya, Pak Zanzawi, khususnya jurusan matematika, pada jenjang S1 mahasiswa cukup bisa belajar sendiri. Nah kalo S2, mahasiswa harus membuka wawasan lebih lebar, dan bisa menemukan masalah. Cukup sampai menemukan masalah saja. Jawaban atas masalah tersebut, baru dipecahkan di S3.

Dengan demikian, jadilah saya lulus S1 zonder skripsi. Dengan kelas seminar saja, “cukup” untuk menunjukkan saya bisa belajar sendiri atau tidak.

Jadi bagi temen-temen yang sempat direpotkan oleh skripsi.. maaf yach.. saya tidak tuh!! Saya tidak sempat dipusingkan ataupun di-stress-kan oleh si skripsi itu.

Bagaimana dengan proses pembuatan skripsi Anda?

Parepare, Nov 09

36 thoughts on “Skripsi

  1. haha..bagus neh tulisannya Bro..jadi inget masa kuliah dulu.tapi maaf ya, aku juga ga ada masalah tu dengan skripsi, hanya menghabiskan sekitar 2,5 bulan saja..nah sekarang yang bermasalah tu dengan tesis bro sdh hampir setahun msh belum kelar..wish me luck ya..targetnya tahun ini kelar..hehe

    salam

    IJuliars

  2. waaah aku? panjang lah ceritanya…eh ngga juga sih.
    karena sebetulnya aku sempat membuat dua skrips, satu untuk aku dan satu untuk… (sssstttt itu masa lalu)

    Di sini juga banyak fakultas yang tidak mewajibkan skripsi sebagai tanda kelulusan. Tapi biasanya yang tidak menulis skripsi akan sulit jika mau melanjutkan ke S2.

    EM

    • oh gitu yach.. bakal sulit ngambil S2… kalo ambil bakso masih boleh kan? or es-nya satu satu ambilnya gak langsung dua (oot mode on)

  3. Hah …
    Curang sangat …!!! zonder skripsi …

    Saya ???
    yang saya ingat hanyalah …
    skripsi draft 200 lembar lebih …
    skripsi final tinggal 40 lembar saja … (itu pun sudah ditambah … daftar referensi yang bererot panjang … plus … kata pengantar yang juga di panjang-panjangkan …)

    Salam saya

    • sorry ya om.. he..he..

      btw, dosen saya cerita, dia pernah lihat ada disertasi cuma 15 lembar aja, udah termasuk daftar pustaka, judul, kata pengantar…. singkat bener yach.. tp bliau tidak yakin kami bisa membacanya he..he..he.. soalnya banyak banget huruf yunani yg dipakai he..he..

  4. asyemmmm…enak tenan kowe…
    nek aku semua kendala skripsi tidak masalah, lha wong lagi ngerjain skripsi sambil pedekate ama si chubby, n si chubby ngasih semangat pula
    dududududududu

  5. Aku bikin skripsi 2… yang pertama akhirnya batal hehehe…smpt stress jg tuh..

    Syukurlah pacarku sabar bgt ngajarin dan bantu aku mengolah data…hehe..

  6. skripsi? kalau ditanya gimana skripsiku … ah, rasanya biasa saja. cuma aku jadi ingat kakakku yang jadi dosen dan dia beberapa kali jadi penguji. suatu pagi menjelang jam 7, dia ditelepon dari kampus. rupanya dia harus menguji skripsi. padahal… padahal… saat itu dia sedang menggoreng tempe denganku. hahahaha! dia lupa kalau pagi itu jadwalnya menguji skripsi. untung rumah kami dekat dg kampusnya. jadi tinggal “mak weeeng!” … lima menit sampai kampus deh hehehe.

    • alamakkk… aku membayangkan si mahasiswa yg mo diuji.. wah pasti kacian tuh.. “penderitaan pra pendadarannya” diperpanjang kalo sampai kakakmu telat he.he.

  7. skripsi saya, hhhmm cukup mengesankan saya karena harus lintas fakultas (saya Elektro dengan dosen pembimbing Elektro dan mesin). Cukup menguras tenaga juga, pengalaman 2 pemikiran yang berbeda untuk menjadikan satu kajian yang komprehensif. Lumayan juga akhirnya skripsi saya, hanya saya yang mengerti secara keseluruhan, dosen penguji pun mengerti sebagian saja (mesin saja atau elektro saja).
    Hal yang didapat: Capek, ditolak analisisnya, revisi masing-masing bab, praktek pada mesin, tahan banting. Monggo silakan kalau mau banting saya sekali lagi😀😆

    • alamaaakkkk udah lama nian ternyata aku kuliah… :-p

      wah, sekarang ada skripsi (wajib) ya? dulu sih ada skripsi, tp tdk harus.. he..he… 1 orang angkatanku yg bikin skripsi tuh ibu Ruri, kenal gak? ibu Ruri, pernah jadi dosen disitu kok. nah aku seangkatan dia he..he..
      oh ya, saya seangkatan jg dr Dr. Fajar

      mas aria angkatan berapa? makasih sdh berkunjung ke sini…🙂

  8. Skripsi S1 saya yang pertama (Teknik Geodesi, gedungnya adu punggung dengan MIPAnya Bro Neo) setengah mati Bro. Lha wong dosen pembimbingku aja nggak ngerti. Teorinya aku ambil dari buku. Akibatnya, skripsiku salah pun Pak Dosen nggak ngerti … hihihi.

    Skripsi S1 yang kedua (Teknik Sipil) juga mati-matian, lha wong saya bikin program komputer untuk menghitung salah satu bagian gedung. Padahal saya nggak bisa komputer. Akhirnya … akhirnya saya kursus, dan minta diajarin (tepatnya dibikinin) oleh instruktur kursus saya … weks!

  9. Hehehe skripsi dan kuliah adalah sesuatu yang ‘luar biasa’ bagiku, Bro.
    Aku kuliah sejak 1996, tapi karena alasan ekonomi (dan sedikit rasa nggak niat) aku berhenti tahun 98.

    Tahun 2000 mulai kerja, kecil2an bikin usaha dengan teman2…
    Mengecap sukses yang lumayan mbikin aku semakin lupa dengan yang namanya kuliah sampe akhirnya taon 2006, aku memutuskan untuk melawan rasa malas dan egoku, kembali ke kampus dan kuliah!

    September 2008, sebulan sebelum aku pergi meninggalkan Jogja, akhirnya aku meraih gelar sarjana.
    Ini sesuatu yang kumaknai istimewa, karena dulu (93) aku datang ke Jogja untuk mengawali studi (SMA De Britto) dan tahun lalu (2008) aku pergi setelah aku menunaikan studiku dan mendapatkan gelar S1 :))

    Tulisan yang menarik.. setidaknya membuatku ingat akan peristiwa setaon silam :))

    • salut don, tidak mudah menaklukkan ego dan memompa semangat utk kuliah lagi

      Luar biasa pengalaman kuliahmu…

      salut bener!! i mean it!!

  10. yang jelas saya mengalami stress udah itu eh…gagal diujian pertama padahal semua jawaban dah bener tapi Alhamdulillah di fase kedua saya berhasil menjawab dengan benar walau atu agak ngaco…yang penting saya lulus hehehe

  11. !@#$#%%$^
    iriiiiiiii
    koq dosenku gak ada yang punya pemikiran begitu ya?
    Malahan dibilang.. S1 itu harus mampu buat skripsi sekian halaman!
    Jebret alhasil berat gue naik aja pas skripsi..
    stress=makan😀 hahaha

  12. agak sulit menerima kebijakan zero skripsi itu. karena, sebagai produk akademik, seyogyanya seorang sarjana pernah menelurkan sebuah tulisan ilmiah yang menjadi masterpiece-nya. tapi, ya sudahlah, itu kan hak masing-masing perguruan tinggi…

    kalau aku, skripsi maupun thesis lumayan lancar. tapi, sekarang ini, disertasi, wuih… ribet tenanan, padahal targetnya tahun depan… doain ya bro🙂

    • sekarang skrisi di program studi statistika sdh wajib kok uda.. (based on comment aria turn diatas)

      tp meskipun bukan skripsi, tapi bukan berarti tidak ada karya tulis lho…

      Uda, smoga disertasinya dpt segera kelar Uda.. salut!!!

  13. walahhhh kalau masalah skripsi kayaknya aku ga begitu susah mas, secara pembimbingku adalah kepala LAB tempat aku kerja dan lebih enaknya lagi project yang aku kerjain jadi skripsinya…hihihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s