Abrakadabra!!

Sruupphhh!! Sesruput teh hangat mengalir melalui bibir Abra di sore itu. Sore yang demikian cerah, secerah hati Abra akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, setelah sekian lama hidup menumpang di rumah mertua, akhirnya sejak dua bulan lalu dia berhasil mengontrak rumah sendiri. Bukan rumah mewah memang, sederhana saja. Letakknya pun agak di pinggir kota, tapi tak mengapa. Justru hawanya masih sejuk sekali, seperti sore ini. Sekolah Dara yang agak jauh pun tidak menjadi masalah. Setiap pagi dia bisa mengantar dengan sepeda motor second yang belum lama ini dibelinya.

Sambil menunggu anak semata wayangnya mandi, Abra mencoba menikmati keberhasilannya saat ini. Mungkin tidak seberapa dibanding orang lain, tapi saat ini sudah merupakan titik tertinggi yang pernah dicapainya sebagai seorang tukang sulap keliling. Terkenang masa-masa lima tahun lalu, saat ia mulai belajar bermain sulap pada Pak Mantra, pesulap kampung yang cukup terkenal di kotanya. Pak Mantra memanglah bukan yang paling top, tapi cukuplah dikenal di kotanya, kota kabupaten yang tidak terlalu besar.

Abra belajar sulap mulai dari menjadi asisten Pak Mantra berkeliling dari panggung satu ke panggung lainnya. Di waktu luangnya Pak Mantra menurunkan ilmu sulap miliknya ke Abra.

“Kepada siapa lagi ini aku turunkan kalo bukan kepada kamu. Anak-anakku tidak mungkin. Entah di mana mereka. Ikut ibunya sejak kecil, tak tahu kemana.” Sebuah alasan yang bagi Abra terdengar sebagai keluh Pak Mantra

“Aku ini sudah tua, ilmu sulap ini pasti guna buat kamu. Ilmuku memang tak seberapa. Setelah ini, kamu bisa belajar ke ahli ahli sulap yang lain. Kamu masih muda dan berbakat! Suatu hari kelak, kamu bisa seperti Houdini pasti!!”

Setelah hampir setahun belajar dari Pak Mantra, ditambah dua bulan belajar dari Mister Magic, pesulap paling top di kotanya, Abra memberanikan tampil sendiri. Berawal dari perpisahan di SD inpres tempatnya sekolah dulu, Abra mulai menjalani episode baru dalam hidupnya. Menjadi tukang sulap. Beberapa order manggung di kelurahan atau kecamatan diambilnya. Panggung hiburan 17-an atau perpisahan sekolah sudah menjadi jadwal rutinnya beberapa tahun belakangan ini. Di bulan-bulan sepi dia menjadi street magician yang berjalan dari kampung ke kampung demi mempertahankan hidupnya sebagai pesulap.

Ia tidak mau lagi terseret ke masa lalunya. Masa dimana kecepatan dan kegesitan tangannya menjelajahi terminal dan pasar-pasar. “Aku tak mau lagi mencopet!” Sebuah tekad yang menguatkan jalannya merintis karir sebagai tukang sulap.

Hidup Abra terasa lambat sekali karena undangan manggung yang belum tentu ada setiap minggu. Namun ia tetap bertahan, sampai “ABRAKADBRA!!!” dan kehidupannya berubah drastis mulai awal tahun ini. Panggilan tampil berdatangan. Bukan hanya di kelurahan, kini Abra telah mulai tampil di kantor walikota. Undangan ke beberapa kota disekitar tempat tinggalnya pun mulai berdatangan. Apalagi dia tidak memasang tarif terlalu tinggi untuk ilmu yang dia peroleh secara gratis dari Pak Mantra. Abra pun kini mulai berani mempraktekkan sulap dengan “menciptakan” burung. Ilmu dari Pak Mantra yang satu ini memang baru akhir-akhir ini bisa dipraktekkannya. Bukan karena tidak mampu, tapi dulu dia tidak cukup modal untuk membiarkan seekor burung terbang seiring tepuk tangan penonton.

“ABRAKADABRA!!” Luar biasa pengaruh televisi. Dalam sekejap sulap menjadi tontonan favorit. Kehidupan Abra pun membaik seiiring kenaikan rating tayangan The Master di RCTI.

“Ayo Pak kita berangkat!” ajakan riang Dara menyadarkan Abra dari lamunannya. Sore itu mereka pergi ke toko buku, di satu-satunya mall di kota mereka.

“Sana cari buku yang kami cari, Bapak lihat-lihat buku di sini ya”

Sederet buku sulap terpampang rapi di rak-rak dekat kasir. Membongkar Abrakadabra, Sulap dalam Sekejap, Misteri Magic, Menjadi Harry Potter dan masih banyak lagi. Senyum Abra mengembang melihat itu semua.

“Hmmm … ini rupanya jalan untuk selalu menambah ilmu sulap sebagaimana dipesankan oleh Pak Mantra”.

Diambilnya sebuah buku, dibuka-buka dan dibacanya baris demi baris. Namun rangkaian huruf yang ada di dalam buku itu tiba memudar, berbinar dan menjadi kunang kunang. Kunang kunang yang berpendar dan bertebaran dan mulai meredupkan hidupnya yang baru mulai bersinar.

“Oh… apa jadinya hidupku kalau ilmu sulap terpampang sedemikan gamblang dan mudah sekali di dapat”

Abra mencoba bertahan, dikerdipkan matanya berulang-ulang mencoba mengusir kunang-kunang. Ia mengalihkan pandangan keluar toko buku, sekedar menghindarkan tatapannya pada deretan buku yang membuat dia serasa melayang. Namun tiba tiba badannya menjadi lunglai dan pandangannya menjadi pekat ketika menumbuk sebuah tulisan singkat di sebuah booth dengan ditutup kain hitam diluar sana.

KURSUS SULAP DALAM SEKEJAP

Parepare, Nov 09

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

30 thoughts on “Abrakadabra!!

  1. daleeem ….

    dan sebetulnya ini untuk semua pekerjaan loh.
    bayangkan pabrik kertas yang omzetnya turun krn semua sudah pakai email/ebank/ecommerce dsb dsb.
    ahli komputer yangdulu sedikit, skr sudah byk sekali.
    atau semakin banyaknya penulis krn sudah banyak yang ngeblog😉

    EM

    • iya sih mbak, roda waktu terus berputar, perubahan terus terjadi
      yg tdk siap menghadapi itu bisa-bisa tergilas roda waktu😦

  2. Bagus bro cerpennya, jadi menambah spirit untuk terus berpikir maju agar dapat menyesuaikan diri menghadapi perubahan.. Orang yang bisa survive adalah orang yang dapat segera menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi..Setuju bro?

    Salam

    Iwan

  3. Hehehehehe aku suka bagaimana kamu menyusun “properti” toko bukunya dalam cerpen ini, Bro!
    Kamu jeli menuntun tokoh Abra untuk pergi ke toko buku dan bertemu dengan booth KURSUS SULAP… cerpen ini menggigit…

    Di satu sisi modernisasi memang menawarkan kemudahan untuk belajar, tapi sekaligus melindas mereka yang telah belajar sekian lama dengan sekuat tenaga…

    • stuju Don, moderenisasi menawarkan kemudahan-kemudahan, dan pasti ada sisi positif maupun negatif-nya.. hanya mereka yg mampu beradaptasilah yg mampu bertahan🙂

  4. sim salabim, nyambung lagi prok prok prok…😀

    segala sesuatu akan menjadi umum bila sudah banyak yang mengetahui, tinggal kreatifitas kita untuk membuat yang kita miliki berbeda, sehingga tetap terasa dibutuhkan…

    • kalo org marketing bilang deferensiasi ya Uda…🙂
      mereka yang mampu menyesuaikan diri dg perubahan yg ada lah yg akan mampu bertahan..
      perubahan tdk bisa dihindarkan, tinggal bagaimana kita menyikapinya

  5. Dunia selalu berubah meskipun alatnya tetap.
    Buku sulap sudah banyak beredar di mana-mana dan mudah dipelajari. Kalau hanya terpaku pada bagaimana bermain sulap maka sebenarnya itu mengulang ulang cara sulap jaman dahulu, itu-itu saja.
    Namun kita bisa melihat bahwa para sulap sekarang semakin hebat dan hebat serta tetap mendapatkan apresiasi / penghasilan dari keahliannya.
    Sulap hanya cara, namun bagaimana sulap menjadi suatu performance dalam membawa keadaan dari yang tidak mungkin menjadi mungkin akan selalu megikuti perkembangan jaman, tidak akan pernah mati.

    • bagi saya keindahan sulap terletak pada misterinya… setelah misteri itu tidak lagi menjadi misteri.. bagi saya keindahan sulap sdh memudar.. tinggal make up saja🙂

  6. Semua ilmu pada akhirnya pasti akan terbuka dan bisa dipelajari oleh orang banyak. Tapi, orang yang benar-benar menguasai ilmu itu tetap akan menjadi yang terbaik, yang keluar sebagai pemenang. Pada cerpen Bro Neo, memang benar buku sulap bisa diperoleh dimana saja, tapi orang yang bisa melakukan sulap dengan baik tetap tidak banyak, dan mereka tetap bisa eksis dengan keahliannya.

    • ibu tuti… kalo yg dijual adalah “mysteri”.. dan jika mysteri itu telah terkuak… akan susah jualan dong… (setidaknya itu bagi saya lho..)

  7. hiks…orang IT yang dulu langka banget sekarang sudah bejibun banyaknya, yang biasanya ngurusin server dulu bisa di itung pake tangan sekarang bisa tambah banyak…hiks😦

    belajar dan belajar terus ya mas…agar ilmu selal bertambah terus….

    • tapi makin lama IT kan juga makin berkembang Ria… semua skr di IT-kan he..he.. bahkan buku diary pun udah berubah menjadi personal blog he..he.. denger2 udah jadi konsultan development blog bukan he..he.. :-p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s