Pak Jono

Pak Jono, namanya. Oleh teman-teman dan kerabatnya sering dipanggil Jon saja. Pekerjaan sehari-harinya adalah penjual barang bekas di Pasar Inpres Balikpapan. Penampilannya sangat sederhana. Ciri khas penampilan Pak Jono adalah kebiasaannya untuk memakai topi pet, namun dipakai terbalik. Bagian depan topi yang berfungsi sebagai penahan sinar matahari selalu terpasang di belakang kepalanya. Selain penampilan yang sangat sederhana, fasiltas-fasilitas “jaman modern” juga tidak melekat padanya. Pak Jono tidak membawa HP, dan untuk bepergian mana-mana pun hanya mengandalkan angkot saja.

Namun dibalik kesederhanaannya itu tersimpan “anugerah” luar biasa. Dia dipercaya untuk bisa melakukan cabut angin. Anugerah yang diperolehnya secara tidak sengaja.

“Semua ada di Al- Qur’an, kalo dibaca dengan teliti” demikian jawab Pak Jono setiap kali ditanya dari mana “ilmu cabut angin” itu diperoleh.

Kemampuan tersebut berawal dari kisah perjalanan Balikpapan – Samarinda, pada suatu malam, bertahun-tahun yang lalu. Pak Jono beserta rekannya mengendarai kendaran dalam perjalanan itu. Pak Jono memegang kemudi, sementara temannya tertidur pulas ketika memasuki hutan. Pada turunan pertama di dalam hutan, tiba-tiba kendaraan yang mereka tumpangi macet. Pak Jono berusaha membangunkan temannya tapi sia-sia. Dia turun dari kendaraan dan mengecek kondisi kendaraan. Tampaknya tidak ada yang rusak atau bermasalah.

Tiba-tiba Pak Jono melihat jalan setapak di pinggir jalan. Disusurinya jalan itu, dan dijumpailah sebuah rumah di ujung jalan. Rumah biasa, seperti yang kita kenal. Ada ruang tamu, meja makan, dan sebagainya. Ada sebuah keluarga tinggal di situ. Seorang bapak-bapak yang sudah cukup berumur, berjanggut panjang, dan berpenampilan rapi. Sebuah peci bertengger di atas kepalanya. Ada juga istrinya dan anak-anaknya, namun kurang mendapat perhatian dari Pak Jono.  Mereka melakukan aktivitas sebagaimana layaknya sebuah keluarga.

Dari Bapak itu, Pak Jono diberi banyak wejangan, dan dibuka wawasannya. Dengan wawasan itu, Pak Jono bisa “membaca Al-Qur’an secara lebih teliti”, dan menemukan rahasia cabut angin di dalamnya. Selain itu Pak Jono diberi wejangan juga tentang laku yang harus dijalankan dan tanggung jawabnya dalam mengemban ilmu itu.

Pada waktu pulang Pak Jono kembali melewati jalan setapak itu, namun tiba-tiba saja Pak Jono terantuk batu, dan tersadar sedang merangkak mendaki tebing yang cukup terjal. Setelah sampai di kendaraan, temannya masih terlelap, dan mesin kendaraan bisa menyala dengan normal pada saat di-stater.

Setelah sampai di rumah, Pak Jono menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada sang istri. Termasuk laku yang harus dijalani. Sang istri dengan ikhlas mendukung suaminya untuk mengemban “ilmu” cabut angin tersebut.

Sejak saat itulah Pak Jono sering membantu orang untuk mengobati berbagai penyakit.

Tidak banyak syarat yang diminta oleh Pak Jono untuk mengobati pasien. Tidak pula Pak Jono memasang tarif untuk anugerah ilmu yang diperolehnya secara cuma-cuma itu. Pak Jono, hanya meminta 3 pack rokok  Dj* S** *oe saja. Untuk uang seikhlasnya saja, berapa pun akan diterima, sekedar pengganti pembelian jahe.

Namun ada satu hal, yang sangat diperlukan oleh Pak Jono untuk bisa mengobati pasiennya. DUKUNGAN dari keluarga pasien. Pernah Pak Jono “terpaksa” menghentikan pengobatannya karena salah satu keluarga pasien justru mencela pengobatan yang tengah dijalankan oleh Pak Jono. Padahal sudah ada tanda-tanda kondisi si pasien membaik. Kaki dan tangan pasien yang semula kaku akibat stroke sudah mulai bisa digerakkan. Istri pasien tersebut sampai nangis-nangis minta ke Pak Jono agar mau mengobati lagi, tapi karena keluarganya yang lain tidak mendukung, maka dengan sangat terpaksa Pak Jono tidak bisa melanjutkan pengobatannya.

Beberapa orang yang pernah ditolong Pak Jono menyarankan agar Pak Jono membuka tempat praktek, bahkan ada yang mau meminjamkan tempat kalau mau, tapi ditolaknya.

“Kalo memang jodoh, pasti ketemu juga dengan yang perlu ditolong” demikian Pak Jono memberikan alasan.

Prinsip pengobatan melalui metoda cabut angin sebenarnya sangat sederhana. Pak Jono percaya bahwa semua penyakit berasal dari angin. Angin yang masuk ke dalam tubuh, kemudian mengkristal dan tersimpan secara laten di dalam tubuh kita, itulah sumber penyakitnya.

“Mudah-mudahan bisa sembuh kalau anginnya sudah bisa keluar” terangnya.

Waktu melakukan cabut angin pada saya dulu, sering kali Pak Jono juga berbagi pengalamannya waktu muda dulu saat masih sering berkelana di pedalaman Kalimantan Timur. Dari sharing-nya itu saya belajar banyak hal kecil, simple, namun sangat berguna pada saat melakukan perjalanan ke kota-kota kecil di Kaltim

“Ya untuk jaga-jaga saja Pak, supaya tidak susah di jalan, apalagi Bapak kan sering pergi-pergi nih

“Jangan pernah bilang bawa bekal Pak kalau ada yang bertanya ‘Memang Bapak membawa bekal apa sampai sini?’ Jawab saja ‘Saya tidak membawa bekal sama sekali, justru saya ke sini untuk mencari bekal’ supaya kita tidak dikerjai Pak”

Demikian tips sederhana Pak Jono. Hal itu karena kadang yang dimaksud bekal oleh orang-orang di pedalaman adalah “ilmu”. Jadi kalo kita bilang “Adalah sedikit bekal” atau “Membawa bekal banyak” justru kadang “ilmu” kita yang akan diuji.

Selain kegiatannya sehari-hari dipasar dan membantu pasien, Pak Jono mempunyai aktivitas lain yang patut kita contoh. Setiap malam Jumat, Pak Jono akan berkumpul dengan teman-temannya, orang-orang yang diberi anugerah-anugerah khusus. Ada yang mempunyai anugerah cabut angin, seperti Pak Jono, ada yang diberi anugerah bisa mengurut, ada yang bisa berkomunikasi dengan makhluk dunia lain, dan sebagainya. Mereka berkumpul bersama, sholat bersama, dan berdoa bersama. Dari malam sampai pagi mereka berdoa.

“Ya doa apa sajalah, demi kebaikan kita-kita juga. Mudah-mudahan bisa menjaga Balikpapan tetap aman seperti sekarang” paparnya.

Pak Jono, pria sederhana, rendah hati, namun mempunyai “anugerah” luar biasa dan dengan ikhlas berbagi “anugerah” yang dimilikinya. Tulus. Tanpa pamrih.

Parepare, Jan 10

41 thoughts on “Pak Jono

  1. dari cerita ini yang paling menarik untuk saya adalah:
    3 pack rokok Dj* S** *oe hihihihi

    kenapa ngga minta 5 aja ya 234 nya😉
    kalau satu memang kurang😀

    EM

  2. Luar Biasa neh kayaknya “Cabut Angin” ini, mungkin nanti suatu saat aku bisa mencoba di cabut angin ya bro..kalo aku perhatikan, sepintas metode pengobatannya sama dengan BEKAM, cuma kalo di Cabut Angin yang dikeluarin adalah angin yang sdh lama (mengkristal), sedangkan kalo di Bekam yang dikeluarin adalah darah-darah kotor yang menurut mereka adalah sumber penyakit.
    Nice posting bro..

    Salam
    IJuliars

    • satu lagi bro, aku setuju dengan pendapat Pak Jono.Memang di setiap daerah, terutama di daerah pedalaman banyak sekali adat-istiadat yg hrs kita pahami, sehingga memang kita harus lebih hati-hati dalam berkata-kata maupun bertindak..

      Salam

      IJuliars

      • bener banget Bro, jangan sampai kita dpt masalah hanya gara gara tdk tahu kebiasaan/adat di suatu daerah…

        better tanya2 dulu deh.. he..he..he..

      • prinsipnya satu pasien satu jarum suntik bro, jd setiap habis dipakai jarumnya langsung di buang, sedangkan begitu kita akan mulai di bekam, biasanya therapisnya mengeluarkan dan memperlihatkan djarum baru yg masih disegel bro..

  3. Wah, ternyata pak jono tidak hanya mampu mencabut angin, tapi juga punya banyak “bekal” yang bisa diberikan pada para petualang. Mantap itu…

    soal ketulusan dalam menolong, itu sepertinya masih menjadi ciri khas masyarakat pedesaan Bro. kalau di kota, sudah amat sangat susah menemukannya. sebuah pembelajaran yang sangat berharga Bro. thanks🙂

    btw, ini bukan iklan produk perusahaanmu kan? kalaupun iya, dirimu patut mendapatkan reward, hahaha…😀

  4. HHmmm …
    Cerita yang menarik Bro
    Dan tips dari pak Jono … mengenai Bekal …
    itu pasti berguna sekali bagi Bro …

    Semoga Pak Jono bisa terus berkarya …
    dengan caranya sendiri …

    Salam saya

  5. Saya jadi ingat tukang pijat yang jadi langganan saya dan teman-teman, bahwa segala sesuatu asalnya dari angin. Kok sama ya?
    Dan jika memang cocok, setelah dipijat rasanya badan menjadi segar…jadi dulu, jika saya tugas ke luar kota, sebelum pulang ke Jakarta sudah pesan tempat dulu, agar bisa segar saat kembali ke kantor.
    Sejak pensiun, saya jarang pijat ke beliau lagi, mungkin karena stres nya berkurang, saya tak mudah pusing seperti dulu.

    Dan yang sama, mereka tak pernah meminta imbalan, hanya sekedar apa yang diberikan oleh orang ang menerima jasanya.

    Btw…j**s**s* nggak bisa diganti yang lain?

  6. wahhh pak jono hebat ya mas🙂
    orang seperti pak jono itu udah sangat langka, semoga Allah selalu menganugerahi hal-hal baik untuk pak jono.

    kamu sakit apa sih mas, sampe sering ke pak jono? di urut aja?

  7. Di desa saya ada juga yang pandai mengobati penyakit seperti Pak Jono. Tapi ia mengaku tidak pernah tahu dari mana ia mendapat ilmu itu. Dan saya menduga, keahliannya itu adalah anugrah dari yang Kuasa, atas sifatnya yang sangat penyabar sekali.

  8. Bro.. aku baru aja kemarin kebetulan di tarik angin ama pak Jono, itu terjadi karena kebetulan. Kebetulan sedang gak enak badan (masuk angin), kemudian secara kebetulan Fery juga masuk angin trus kebetulan juga aku main ke tempat Fery. Malemnya Fery nelpon pak Firman agar pak Jono dateng, kebetulan ada dan langsung menuju tempat Fery tanpa pemberitahuan dan mereka harus nunggu kita akhirnya, karena kebetulan kita keluar makan dulu, kebetulan mereka mau nunggu. Akhirnya di tarik angin deh sama pak Jono. Kebetulan yang aneh..

    Tapi pak Jono memang mantapz (harus ada “z”-nya)

  9. Tulisan yang menarik.
    Menurutku, orang-orang seperti Pak Jono ini memang selamanya akan berada di jalur yang ‘tulus’ dan ‘tanpa pamrih’ karena melihat dari bagaimana ia sedikit ‘ngambek’ ketika keluarga tidak mendukung, lalu dengan ‘uang seiklasnya’.. ia susah untuk masuk ke profesionalisme…

    Eh, tapi siapa juga yang mau ya.. lha wong intinya menolong..ya pa ngga?

    • profesionalisme kayaknya jauh deh dari benak Pak Jono, lha wong yg dia anggap sebagai profesi (kalo bisa disebut profesi neh) adalah penjual barang bekas jee…

      cabut angin adalah anugerah yang dibagi bagi🙂

  10. OOT …

    Sudah dilirik sama sebelah to Bro …
    Ndak ditulis tah postingannya …
    cerita mengenai ketiduran di “toko” sebelah ?

    Hehehe

  11. soal ketulusan memang sudah langka ya sekarang, kecuali mungkin masih ada pada orang2 desa, Bro Neo.
    terima kasih utk bekal yg berupa doa dan shalat bersama yg datang lewat Pak Jono via Bro.
    salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s