Mirna

Malam semakin larut, menjelang tengah malam bahkan. Jalanan semakin sepi dan lengang, namun tetap saja ada yang melintas satu dua kendaraan. Angin berhembus pelan, membawa udara dingin mengalir. Beberapa orang masih duduk di warung angkringan. Tak jauh dari angkringan itu Mirna berdiri sendiri, bersembunyi di balik bayang bayang pohon asem tua yang berjajar di sepanjang jalan. Sebuah jaket jeans melekat di badannya, menutup kaos ketat merah yang dikenakan malam ini. Sebuah rokok yang dibeli ketengan dari angkringan setia menemaninya.

Sebuah sepeda motor berhenti sekira 6 meter dari tempat Mirna berdiri. Sepeda motor merah yang sudah 3 kali ini mondar mandir di sepanjang jalan tempat para penjaja cinta menggelar dagangannya. Seorang pemuda tanggung duduk diatas sadelnya, membuka helm, dan menerima telepon. Entah benar-benar menerima telepon atau pura-pura saja, tapi yang jelas matanya sesekali melirik ke Mirna.

“Hmm…. Brondong neh!!” kata Mirna dalam hati.

Hatinya berdebar kencang. Memang sudah sekian tahun Mirna melayani nafsu syahwat laki-laki. Sudah sekian banyak pula lelaki hidung belang yang rebah dalam pelukannya. Namun tetap saja hatinya berdebar keras setiap kali bertemu dengan pemuda tanggung seperti yang baru saja berhenti di dekatnya itu. Terbayang bagaimana ia akan bergelut dengan pemuda tanggung itu, menuntunnya mendaki birahi dan memegang kendali kenikmatan. Bagai kerbau tercucuk hidung, si pemuda tanggung itu pasti akan mengikuti gelora birahi yang dimainkannya, sebagaimana dulu, lebih dari dua puluh tahun lalu, saat ia terhanyut dan terseret dalam gelora birahi. Gelora yang membawa dia menjadi janda muda dengan dua anak di usia belia.

 

Kembali pemuda itu melirik ke Mirna. Tatapan mata mereka beradu. Pemuda itu tertunduk. Ada gelora di dadanya. Pemuda itu kembali mengangkat wajahnya perlahan, dan kembali mata beradu. Mirna mengangguk pelan, sebuah undangan ke pemuda itu. Pemuda tanggung masih terpaku di sadel kendaraan.

Mirna menggerakkan kaki dan melangkah pelan menghampiri si pemuda tanggung bermotor merah.

“Garukaaaannnnnnn…….!!!!”

Teriak seorang waria sambil berlari dan membuka sepatunya jinjitnya. Gemuruh derap sepatu lars Satpol PP terdengar mendekat. Sang pemuda dengan sigap turun dari sadelnya dan membuka busi kendaraannya. Pura pura memperbaiki kendaraannya. Mirna berusaha lari, namun sebuah tangan kekar telah mencengkeram jaket jeans-nya.

Tak .. tuk… tak… tuk… kreeekkk

Mirna menghadap petugas setengah baya yang tengah mencatat data dirinya.

“su – marrr – niii” Lafal sang petugas itu sambil jari-jarinya memukul tuts mesin ketik tua.

“Mirna dong Pak, biar keren..” balas Mirna manja, “Memang sih, nama asli saya Sumarni, tapi kan Mirna lebih keren Pak”

“ti-ga pu-luuhh de-la-pannn ta-hun” lanjut sang petugas sambil terus mengetik.

“Belum pernah kena garukan yach? Belum pernah lihat soalnya”

“Gini Marni, kamu tidak mau lama-lama di tahan di sini kan? Gampang kok. Paling dua tiga hari saja. Asal kamu bisa kerja sama. Istilahnya win-win solution lah…”

Sang petugas membuka penjelasan singkatnya. Dengan tutur manis dia menerangkan apa yang akan dijalani oleh Marni dan teman-temannya yang sama-sama kena garuk malam itu. Enam orang semua. Pembinaan, pelatihan, dan siraman rohani, itulah inti aktivitas yang coba diterangkan oleh sang petugas.

“Besok ikuti saja pengarahan dari bos saya.. setelah itu saya terangkan lebih lanjut caranya. OK..!!!” tutup sang petugas dengan senyum yang membersitkan rahasia, namun terkesan culas.

Hari kedua menjelang tengah malam.

Sang petugas memanggil Mirna ke ruang kerjanya. Sedangkan Angle, bunga jalan yang paling semerbak, dipanggil ke ruang bos.

“Gmana Mirna betah disini?”

“Aku tahu kamu tidak betah disini. Kamu pasti ingat keluargamu kan? Dan pasti ingin cepat pulang”

Mirna alias Marni, Sumarni lengkapnya, diam saja. Ada bisa terdengar dari mulut sang petugas. Ada culas di tatap matanya.

“Aku bisa kok membebaskan kamu besok pagi. Gimana mau, tidak?”

Mirna masih terdiam.

“Gampang kok. Mudah banget. Win win solution. Sama sama senang. Kamu senang. Aku pun senang. Bos juga pasti senang. Semua senang, everi badi hepi!!”

“Caranya Pak?” Tanya Mirna polos.

“Ah masa kamu gak tahu sih? Memang, kamu baru kali ini kena garuk, tapi apa teman-temanmu tidak pernah cerita bagaimana mereka di sini?”

“Jangan pura-pura gitu lho..” kata sang petugas genit sambil berdiri, mendekati Mirna, dan duduk bersandar di meja tepat di depan Mirna. Tak lupa tangannya mencolek dagu Mirna.

Mirna terdiam

“Dah gini aja, biar kamu jelas, dan tidak banyak waktu terbuang, tidak bertele tele”

“Malam ini, kamu temani aku. Malam ini saja. Semalam saja”

“Tidak ada ruginya toh bagi kamu? Lha wong sama sama enak lho… Aku enak, kamu juga enak! Bahkan nanti subuh-subuh, kamu sudah bisa keluar dari sini. Terserah kamu mau ngapain di luar sana.”

“Enak kan? Simple. Kamu bisa keluar. Aku juga keluarrr”

Malam membara di ruangan sang petugas. Dengus napas memburu terdengar.

“Sekarang kamu bisa pulang Marni. Tapi tolong tandatangani ini dulu. Semua ya… jangan ada yang terlewat!” kata sang petugas sambil menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Mirna.

Mirna mengambil pena di atas meja sang petugas, dan membubuhkan tanda tangannya diatas kertas itu. Berkali kali, berderet-deret. Belasan kali, bahkan mungkin puluhan kali Mirna tandatanga di sebendel kertas itu. Sebendel kertas dengan tulisan:

ABSENSI

PELATIHAN DAN PEMBINAAN

DINAS SOSIAL

KOTA ….

Sang petugas pun tersenyum lebar, selebar deretan tanda tangan Mirna. 

Parepare, Maret 2010

Ilustrasi dipinjam dari sini.

23 thoughts on “Mirna

    • Bimbi
      Tak Mau Kenal Lagi Kampungnya
      Bimbi
      Tak Mau Kenal Lagi Saudara

      Tahun Ke Masa Berganti
      Bimbi Tak Dikenal Lagi
      Wajah Serupa Bimbi
      Memelas Pucat Pasi
      Menanti Di Jalan Sepi

    • bukti kalo itu bukan aku:
      1. sepeda motorku hitam, bukan merah
      2. yg jelas aku bukan pemuda tanggung lagi.. baik dari umur maupun ukuran (puass…puasss)
      3. kalo aku tdk akan ragu ragu spt itu (Gubrak!!!! dijewer tetangga sebelah!!
      4. 7&^%^%&*^(&)
      *eitt… cukup 3 saja menurut om trainer*

      halah… fiksi aja kok hrs dicari tokohnya..

  1. prolognya oke…
    jalinan kalimat-kalimatnya juga oke.
    tapi aku juga memiliki pertanyaan seperti nana: memang begitu ya kejadiannya? petugas itu mikir nggak ya kalau dia bisa kena HIV?

  2. Paling suka bagian ini: “Enak kan? Simple. Kamu bisa keluar. Aku juga keluarrr”

    Hahahahahaha…. Sek sek.. Mirna ini banci po dudu?
    Kalau dari nama aslinya kan Sumarni, brarti dia beneran cewek dunk?

    • Halah Don.. senengnya kok bagian keluar keluaran kekekekekekek

      kalo dicrita ini Mirna sih cewek, tapi mangkalnya dkt banci banci…

      kamu pasti tahu setting ini:
      balik bayang bayang pohon asem tua yang berjajar di sepanjang jalan

      hayo ngaku saja!!!

    • Kalo Mirna-Marni sih kayaknya masih ada yach… walaupun mungkin sdh pindah lokasi

      nah kalo petugas petugas itu tidak tahu, apakah masih ada, sudah hilang, atau justru bertambah banyak!!!

  3. Ini settingnya sekitar tahun 90-an, berarti ketika itu Mas Berto lagi tanggung-tanggungnya kaaann…? hahaha…😀

    Ok, back to the point of story:
    Kita ini sekarang ibarat berada dalam sebuah lubuk kecil yang banyak buayanya. Keburukan sudah menjadi kebenaran. Segala topeng yang dipakai, hanya bertahan sebentar dan kemudian terlepas dan memperlihatkan sisi asli pemilik wajah itu. Ternyata, wajah para penegak hukum dan bahkan para moralispun, sama saja dengan wajah para penjahat… Huh… hancur Minaaaahh….😦

    • hadeaziiggg!!!
      *ketahuan deh…*

      wah uda, kalo th 90an aku mah blm lagi tanggung… msh imut imut kaleee…. nyempluk, lucu, gemesin deh… (ciaaahhhhh)

      back to the comments:
      bener uda… miris kalo melihat.. udah “menikmati tubuh” menikmati “uang pembinaan pula” kalo orang jawa bilang “Asu gedhe menang kerahe” (anjing besar memenangkan perkelahian)
      gitulah, yg punya “kuasa” kalo tidak menganggapnya sebagai amanah, jdnya justru semena mena😦

  4. Pingback: NINE FROM THE GENTLEMEN #2 | The Ordinary Trainer writes …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s