Sumeleh

Mengenang yang tercecer dari peristiwa Gempa Jogja, 27 Mei 2006:

”Untung lho awake dhewe iki. Pancen okeh sing dadi korban. Pancen okeh sing tilar. Omah-omah dha ambruk. Ning sing dipendhet Gusti dudu panguripane dhewe. Ra kaya Lapindo. Sawah sawah dha klelep. Matine rak alon-alon to kuwi”

(Beruntung kita ini. Memang banyak yang jadi korban. Memang banyak yang meninggal. Rumah-rumah roboh. Tapi yang diambil Tuhan bukan penghidupan kita. Tidak seperti Lapindo. Banyak sawah tenggelam. Meninggalnya kan pelan-pelan”)

 

Sebuah kalimat jujur nan polos, ungkapan hati yang meluncur dari warga Bantul. Ungkapan syukur yang aku dengar kurang lebih setelah dua tahun terjadinya gempa besar yang meluluhlantakkan Jogja, Bantul, Klaten dan sekitarnya.

Continue reading

Advertisements

Fiksi Mini

Posesif

 

“Maaf, aku terlalu mencintaimu, tak mampu aku melihatmu bersanding dengan orang lain!”

Sejumput kembang pertama tertabur dari genggamannya.

 

Fiksi mini…

Pertama kali melihat di blognya Om Trainer. Ternyata Om Trainer sedang mengikuti kontes fiksi mini yang diakan oleh WI3NDA.

Tertantang juga aku untuk membuat tulisan bentuk ini.

Kelihatannya simple, tapi ternyata tidak mudah juga. Perlu beberapa kali edit-an supaya bisa memenuhi kaidah-kaidah fiksi mini.

So, Wi3nd dan Nda… berikut partisipasi saya…

*sejujurnya bukan sekedar tantangan baru, tapi juga sekaligus merupakan jalan keluar dari kebuntuan menulis yang aku alami akhir-akhir ini*

Yiiippppiiiii…..

Parepare, May 2010