Sejinah – Part II

Tulisan ini adalah learning dari pengalaman saya untuk menjadi penulis tamu di blog-nya Om NH, dengan judul Sejinah. Silakan diikuti link-nya untuk mengikuti kisah (halah.. !! pakai kata “kisah” lagi) selengkapnya.

Singkatnya sebagai berikut:

Pada waktu saya kecil, diberi pemahaman bahwa sejinah itu berasal dari sing siji ora genah dan mempunyai arti sebelas buah. Pemahaman tersebut sangat kuat terekam  dalam benak saya.

Sebenarnya saya sering mendengar bahwa sejinah itu berarti sepuluh jauh sebelum tulisan tersebut di-upload, namun saya belum yakin. Sepuluh atau sebelaskah arti sejinah itu?

Dalam tulisan tersebut, saya meminta pendapat dari para pembaca sekalian, berapa sih sebenarnya sejinah itu? Sepuluh atau sebelas?? 

Dari comment-comment yang ada, sebagian besar mengatakan bahwa sejinah itu adalah sepuluh. Ada 16 orang yang mengatakan sejinah berarti sepuluh, dan hanya satu yang mempunyai pendapat bahwa sejinah itu berarti sebelas. Jadi sangat jelas bahwa menurut polling tersebut sejinah berarti sepuluh.

 

Namun demikian, sejujurnya dalam hati saya masih mengatakan bahwa sejinah itu sebelas. Hati yach.. bukan otak. Keukeuh bener yach!! Kalo gak mau dibilang stubborn.

Mengapa saya bisa sedemikian keukeuh?

 1. Pemahaman bahwa sejinah berarti sebelas saya dapatkan ketika saya masih kecil.

2. Pemahaman akan kata sejinah ini saya terima dari orang-orang terdekat saya, yaitu nenek.

3. Pemahanan yang saya terima bukan tanpa dasar. Bukan “pokok”nya. Meskipun dasar yang diberikan “cukup lemah” yaitu sejinah = sing siji ora nggenah

Berdasarkan  pengalaman tersebut, alangkah baiknya kita berhati-hati dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak. Karena pemahaman tersebut bisa jadi dibawa sampai dewasa dan dipegang teguh oleh si anak. Apalagi jika pemahaman tersebut berasal dari orang-orang terdekat, terutama keluarga.

Jangan sampai pemahaman yang salah tertanam dalam benak anak-anak. Jika orang tua bilang matematika itu sulit, maka sulitlah matematika itu. Padahal sesungguhnya matematika itu sangat indah.

Satu hal lagi, pemahaman akan lebih “nyantol” jika diberi pemahaman atau penjelasan juga mengapa atau bagaimana, bukan “pokoknya”

Saya yakin pembaca semua sudah mengetahui pentingnya memberikan pemahaman yang benar kepada anak-anak. Bahkan sangat mungkin jauh lebih berpengalaman dari saya.  Tulisan ini sekedar mengingatkan saja.

Membentuk masa depan

Jika akhir-akhir ini kita penat mendengar berita kekerasan dan kerusuhan, mungkin inilah saat bagi kita untuk introspeksi diri. Sudah benarkah pemahaman dan nilai-nilai yang tertanam dalam anak-anak kita. Sudah cukup bersosialisasikah anak-anak dan diri kita? Apakah yang kita tonton di televisi? Sesuatu yang mendidik, atau sinetron yang penuh intrik dan balas dendam? Diskusi yang santun dan argumentatif atau debat kusir?

Generasi mendatang akan mendengar berita kekerasan atau keharmonisan, kita lah yang menentukan sekarang.

Halah.. kok malah ngladrah kemana-mana tulisan ini.

Hanya satu yang ingin saya tulis sekarang.

INDONESIA MILIK BERSAMA

INDAHNYA KEBERAGAMAN

MARI KITA JAGA BERSAMA

Gambar saya pinjam dari sini

Salam,

6 thoughts on “Sejinah – Part II

  1. Hehe, tulisan ini menarik….
    Pemahaman tentang sesuatu memang harus dimulai dari kanak-kanak, dan yang lebih penting, kebenaran itu harus datang dari keluarga, menurutku.
    Kalau yang ngga nggenah udah terlanjur besar njuk enaknya diapakan ya? Ini mungkin jadi agak bias karena pada akhirnya aku pengen membawamu menimbangkan Part III dengan isi ttg mereka yang jadi “sejinah”, mereka yang jadi ‘ngga nggenah’:)

    Pripun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s