Senja di Dinding

Angin bertiup sepoi sepoi, meniup mentari ke ufuk barat. Langit menjingga berbias kuning di dasarnya. Sungguh senja yang sempurna untuk menutup hari ini dan membawa kita ke malam penuh harap.

Sungguh indah senja yang kita nikmati berdua. Ya, kita berdua saja, di sini, seperti biasa. Seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi.

Kita berjalan melintasi padang rumput, sampai di sini, diujung ladang impian kita. Kemudian kita berbincang seadanya di pagar kayu ini, tepat di samping pohon rindang yang menaungi kita. Pagar kayu tempat lelah kita sematkan, dan penat kita lepaskan.

(dst dst dst)

 

Begitu mungkin yang ada di benak kami. Anak-anak SMA yang mulai beranjak meninggalkan masa remaja. Anak-anak SMA yang beberapa diantaranya mulai merasakan jatuh cinta. Seperti kami baca di roman-roman.

Dengan bayang indah jatuh cinta itulah daya kreatif kami muncul. Kreativitas yang dibalut sedikit kenakalan kami. Kreativitas yang tidak bisa melihat sebidang dinding kosong di sudut sekolah kami, tepat di ruang kami sering berkumpul. Ruang salah satu kegiatan ekstra kurikuler kami.

Maka dengan semangat menggebu, tergambarlah sebuah gambar di sudut sekolah kami.

Gambar yang membuat presidium kami dipanggil oleh Ibu Kepala Sekolah.

Senja di Dinding Sudut Sekolah

Tentu sudah bisa dibayangkan apa yang disampaikan oleh Ibu Kepala Sekolah😉 he he he…

Dan sebagai bentuk pertanggung jawaban, kami “terpaksa” menambahkan sebuah tas punggung yang melekat pada si pria. Buku dan penggaris segitiga yang ada di genggaman tangannya. Kalo tidak salah ingat, hadir juga orang ketiga dengan segenap perlengkapan sekolahnya.

Ah sayang sekali kami tidak punya gambar yang sudah “diperbaiki”. Maklum film di camera-ku sudah habis.

Mungkin cerita romansa cinta masa SMA kami harus ditambah:

Setelah kita belajar bersama, matematika dan trigonometri, kimia organic atau fisika. Setelah semua PR sejarah, PSPB atau PMP kita kerjakan. Menjelang malam dimana kita mempersiapkan ulangan!

Oh ya, sudah kah surat cinta bergambar r= a (1+ cos (theta)) kau baca??

(halah… kok jadi kayak gini ceritanya… grhhhhhh)

(dari pelajarannya ketahuan banget angkatan berapa ;) )

 

Tulisan ini terinspirasi oleh invitation-nya Om NH. Sebenarnya pingin aku kirimkan, tapi karena sudah aku sudah terlarang untuk ikut, jadinya ya nongol saja di sini.

Oh ya, jika penasaran gambar apa itu r=a (1+cos (theta)) bisa googling dengan key word polar coordinate 🙂 atau klik di sini aja biar mudah

Parepare

27 Feb 2011

12 thoughts on “Senja di Dinding

  1. waduuuuuuh kenangan yang bagus sekali. Gambarnya keren bangetttttt!!!! Masih ada ngga sekarang?

    SMA ku gedungnya sudah dibongkar hiks hiks hiks. Mau tulis ttg masa SMA di tempatnya mas NH, tapi ngga pede🙂

    Sayang bro ngga boleh ikut (lagi) ya.

    EM

    • Mbak EM, seingatku gambar itu tidak bertahan lama. Beberapa saat setelah kami lulus, gambar itu sdh tidak ada.. dicat bersih ketika ada program pengecatan sekolah…

      wah pdhl seru tuh buatnya🙂

      Ayo Mbak tulis pengalaman SMAnya.. pasti seru… apa lagi (klo gk salah) cewek semua kan satu sekolahan🙂

      salam,

  2. Hahahah …
    Ini lucu tur menarik …
    sayang … I stick to the rule … yang udah pernah nulis ndak boleh nulis lagi …
    heheh

    Yang jelas …
    first think first …
    gugling …. apa itu “polar coordinate”

    Salam saya Bro

    • Never mind Om… emang sdh rule nya gitu kok😉

      btw kalo gugling, sdh nemu koordinat kutub, jangan lupa cari yg fungsinya: r=a(1+cos(theta)) ya… soalnya koordinat kutub hanya sistem pembuatan grafik saja.. yg menentukan bentuknya adalah fungsinya🙂

      salam

    • DV,

      emang banyak gambar klo key word nya polar coordinate, mesti cari gambar yg r=a(1+cos(theta))

      kalo yg kayak obatnya nyamuk tuh fungsinya: r=n(theta) hehehehe

      salam,

  3. Oooo… begini toh cerita lengkapnya tentang gambar di dinding sekolah itu… oknumnya siapa aja pasti masih ingat dong ya… hihihi… penasaran sama Bu Kepsek “speak-speak”-nya gimana ya… hihihi…
    Kira-kira oknum yang lain ada yang nyimpen versi tas punggung dan segala penggaris itu nggak? ngebayangin jebule orang ketiga di lukisan itu bu Kepse yang lagi methentheng… hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s