Sumur Tua Sebelah Rumah

Berpuluh tahun yang lalu di tengah kampung sekitar 1 km di barat alun alun utara Jogjakarta, terdapatlah sebuah rumah pendopo. Rumah itu cukup besar, dengan luas tanah kurang lebih 600 m2. Dalam rumah pendopo itu tinggallah seorang janda, beserta sepuluh orang anaknya.

Dibelakang pendopo itu terdapat sebuah sumur tua. Entah mulai kapan sumur itu ada di situ. Yang jelas si bungsu keluarga itu, pada waktu kecil sering mandi di sumur tua tersebut. Besar kemungkinan sumur itu telah ada jauh sebelum tahun 1945, mengingat si bungsu tadi lahir pada tahun tersebut. Dan kakak-kakaknya pun tidak tahu kapan sumur tersebut digali.

Pada pertengahan tahun 70an, sang janda yang mulai menginjak usia senja dan membagi harta satu-satunya tersebut untuk kesepuluh anaknya. Dibuatlah jalan selebar kurang lebih 2 m, membujur di tengah tanah tersebut, membelah sebidang tanah itu, dari ujung depan rumah di sisi utara sampai ujung belakang rumah di sisi selatan. Kemudian di masing-masing sisi tanah yang telah terbelah tersebut, dibagi menjadi lima bagian. Lima bagian di sisi timur jalan tengah, dan lima bagian di sisi baratnya.

Rumah pendopo itupun akhirnya dirubuhkan dan mulai berdirilah rumah masing-masing anaknya.

Putra pertama dan kedua mendapat bagian depan tanah bekas pendopo itu, dan si bungsu mendapat bagian tanah paling belakang. Dengan pembagian seperti itu, maka letak sumur tua tersebut sekarang menjadi terletak di antara bidang tanah si bungsu dan anak kesembilan keluarga itu. Tepat berada di tepi jalan tengah yang dibuat.

Sumur tersebut cukup dalam, mungkin belasan meter. Salah satu keunikan sumur tersebut adalah diameternya yang cukup lebarr, dan tidak ada dinding penyangga di dalam rongga sumur. Benar-benar tanah dan batu padas yang menjadi dindingnya. Di sepanjang dinding sumur tersebut banyak ditumbuhi lumut dan paku. Bagi yang belum terbiasa melihatnya, ada kesan “seram” jika kita melongok ke dalamnya.

Namun dibalik wajah “seram”nya, sumur tersebut memancarkan air yang sangat jernih dan segar.

Continue reading

Advertisements