Dakon: Mainanku dan Simbah

Adatiga hal yang mengingatkanku pada sosok Simbah, yaitu: kunci, gula jawa, dan permainan dakon. Melalui ketiga hal itulah selama dua tahun aku berinteraksi dengan Simbah hampir setiap hari.

Aku tidak sempat mengenal kedua kakekku. Mereka meninggal ketika Ibu dan Bapak masih kecil. Sangat kecil bahkan, sehingga orang tuaku sendiri tidak mempunyai kenangan akan ayah-ayah mereka. Aku memanggil nenekku dengan sebutan Simbah untuk ibunya Ibu, dan Simak untuk ibunya Bapak. Aku adalah cucu terkecil dari Simbah maupun Simak. Ibu adalah anak bungsu Simbah, dan Bapak adalah anak bungsu Simak. Sedangkan aku adalah anak bungsu dari kedua orang tuaku. Lengkap sudah aku jadi cucu bungsu.

Waktu kelas 3-4 SD aku masuk siang hari, sehingga setiap pagi aku tinggal sendiri di rumah. Kakak dan kedua orang tuaku  bekerja. Sepupu sepupuku juga bersekolah. Teman-teman sebaya juga sekolah. Tinggal aku sendiri di rumah dibawah pengawasan nenekku, yang tinggal persis disebelah rumah.

Sebagai anak-anak tentu hasrat bermainku cukup besar, namun sayang tidak ada teman untuk bermain. Jadilah nenekku menjadi teman bermain. Tentu aku tidak bisa melakukan permainan yang banyak melakukan aktivitas fisik, karena Simbah sudah berusia kurang lebih 80 tahun. Oleh simbah aku diajari main dakon. Permainan yang telah dimainkan Simbah semenjak kecil. Permainan yang menjadi teman simbah disaat sendiri. Walaupun dakon adalah permainan untuk dua orang, namun sering kali Simbah memainkannya sendiri.

Continue reading

Advertisements