Gelaran Terakhir

Senja mulai menyergap, iring-iringan lima truck tua masih merayapi bebukitan, menembus rerimbunan pohon yang makin rapat. Rombongan berjalan perlahan dengan membawa bebannya. Besi-besi yang sudah mulai menua, papan-papan yang mulai terlihat keropos, dan tenda-tenda yang mulai pudar bingarnya.
Inilah perjalanan menuju titik terakhir pagelaran pasar malam keliling musim ini. Sebentar lagi memasuki puncah musim hujan, dan seperti biasa, rombongan pasar malam akan bubar sementara, menunggu musim pagelaran berikutnya.

Musim ini telah 35 kota kunjungi, dan tiga hari lalu mereka melakukan pagelaran terakhir di kota kecil di selatan Jawa. Musim ini seperti halnya beberapa tahun belakangan pengunjung pagelaran pasar malam semakin sedikit. Komidi putar, carrousel dan tong setan tidak lagi menarik anak-anak. Sulap pun makin ditinggalkan, kalah dengan pagelaran-pagelaran di televise. Pesona pasar malam keliling makin redup.

Rombongan memasuki sebuah lembah yang cukup sunyi. Mereka berhenti di sebuah tanah lapang ditepi danau. Pohon-pohon di sekitar tanah lapang itu memberikan kesejukan dan sepoi angin yang sungguh menenangkan. Prakosa menarik nafas dalam-dalam. Dipenuhi dadanya dengan kesejukan dan segar aroma daun.

”Perjalanan ke lokasi terakhir masih jauh Pak?” tanya Prakosa ke Maksum bapaknya.
”Kita di sini bukan istirahat nak. Inilah lokasi pentas kita 2 hari lagi” jawab Maksum, tetua rombongan pasar malam keliling tersebut.
”Di sini Pak? Di tempat sunyi di tengah hutan ini? Gak salah Pak?”
“Benar di sini Nak. Memang kelihatannya sunyi sekali tempat ini. Tapi lihat dua hari lagi. Anak-anak akan berdatangan di sini. Keluarga-keluarga akan berkunjung ke danau ini. Merekalah yang akan kita hibur”

Maksum, lima puluh tujuh tahun, adalah tetua rombongan pasar malam keliling. Rombongan pasar malam yang didirikan oleh Prasodjo, ayah Maksum. Rombongan yang sejatinya merupakan keluarga besar keturuan Prasodjo. Penghibur kenamaan tahun 60-70 an.
Pada masa itu pasar malam keliling Khayal melakoni masa kejayaannya. Setiap tampil di suatu kota, pengunjung selalu berlimpah. Kedatangan mereka selalu ditunggu-tunggu. Musik ceria dan lampu germerlap menjadi atraksi tersendiri bagi para pengunjung. Raungan sepeda motor dalam tong setan menambah meriah suasana. Antrian untuk menaiki komidi putar, maupun carrousel mengular sampai beberapa ratus meter. Apalagi pada waktu itu mereka sering tampil bersama dengan rombongan sirkus keliling Magic yang juga tengah menjalani masa keemasannya.
Perjalanan Khayal dan Magic selalu menjadi magnet bagi para pedagang makanan dan minuman. Mereka turut berkeliling juga sehingga makin besar dan lengkaplah rombongan penghibur keliling itu.

Seperti halnya Maksum, Prakosa terlahir, tumbuh dan beranjak dewasa bersama dengan rombongan. Rombongan yang terus bergerak sepanjang waktu, dari akhir musim penghujan sampai awal musim penghujan. Entah sudah berapa ribu kilometer ditempuh oleh Prakosa. Entah telah berapa kota dia kunjungi dan entah sudah berapa ribu kali dia berjalan keliling memutar carrousel- nya.
Sejak kecil, Prakosa terlibat dalam setiap pagelaran pasar malam keliling. Mulai dari membersihkan perlengkapan, membantu ibunya mempersiapkan makan untuk semua anggota rombongan, penjual tiket masuk, hingga sekarang dipercaya untuk memutar carrousel. Pekerjaan yang pernah dijalani oleh Maksum juga.
Masih ada satu mimpi Prakosa. Dia pingin menggantikan Taruno kakaknya, yang sekarang berposisi sebagai pengendara motor utama untuk pertunjukan tong setan. Tampak gagah sekali Taruno setiap kali mengenakan body protector, pelindung lutut dan siku, serta helm. Apalagi jika telah menunggangi motor trailnya. Prakosa ingin seperti itu. Ingin merasakan sensasi jerit penonton yang melihat aksinya. Merasakan debar yang demikian menantang dalam setiap putaran kendaraannya.

”Segera persiapkan carraousel-mu” tegur Maksum membuyarkan lamunan Prakosa.

Denting palu, besi yang beradu, dan terikan-teriakan aba-aba segera memecah keheningan lembah itu. Hiruk pikuk orang orang yang mempersiapkan pasar malam segera menyeruak. Ditanah kosong itu pelan-pelan mulai berdiri komidi putar, disusul carraousel, dan yang terakhir tong setan. Lampu kelap kelip mulai menari-nari menghiasi perlengkapan pasar malam. Lagu dengan nada ceria membuncah keluar dari speaker-speaker yang terpasang di sudut-sudut tanah lapang. Pagar pagar pengaman mulai dipasang, dan tiket box disiapkan.

”Besok kita gelar pertunjukan besar kita!! Keluarkan semua kemampuan kalian!!” Teriak Pak Maksum memberikan briefing ke anggota rombongannya.
”Kita tunjukkan kehebatan kita pada para tamu yang datang! Mereka yang datang adalah tamu-tamu istimewa!!”
”Basuh dan segarkan tubuh kalian ke dalam air danau. Reguk bening airnya dan biarkan jernihnya merasuki jiwa, bersihkan diri dan siapkan diri kalian. Biarkan ketenangannya menjadi kekuatan, dan kedamaiannya menenangkan kita”

”Taruno, Prakosa ini adalah pakaian peninggalan kakekmu, Prasodjo, pendiri rombongan Khayal ini. Pakailah untuk pertunjukan besok pagi” pesan Maksum menjelang tengah malam.
”Pakaian inilah yang dipakai kakek ketika pertama kali menggelar pasar malam. Pakaian inilah yang menjadi seragam kebesaran kakek dan saudara-saudaranya berkelana, menghibur setiap pengunjung. Kenakanlah, dan semoga kakek kalian memberikan restu dan menyemangati kita semua”

Matahari mulai condong ke barat. Prakosa mengenakan pakaian serba putih peninggalan kakeknya. Sebuah celana dibawah lutut, seperti yang sering di pakai oleh para petani berwarna putih. Pakaian putih bersulam benang warna perak menutup tubuhnya. Sebuah ikat pinggang dari kain putih mengikat erat baju itu. Taruno berdiri disampingnya, dengan pakaian yang hampir sama.
“Kak, entah mengapa untuk acara malam ini aku berdebar-debar ya?” tanya Prakosa pada Taruno kakaknya.
“Tidak tahu, aku juga merasakan getar yang sama. Tidak pernah aku secanggung ini. Kesunyian tempat ini, kedamaian tempat ini terasa lain. Ingin aku berlama-lama di sini. Sungguh damai dan tenang.”
“Benar Kak, tempat ini asing, namun terasa sangat dekat denganku. Akhirnya kerinduan ketenangan dan kedamaian terpenuhi di sini. Sekian jauh perjalanan telah kita tempuh, beribu tempat sudah kita lewati, namun tidak ada yang setenang ini”

Senja mulai temaram ketika kerlip lampu mulai berbinar dan alunan musik terdengar. Seorang anak datang keluar dari balik pepohonan. Wajahnya berbinar ceria dan tersenyum menyaksikan komidi putar dan carraousel yang berputar perlahan. Seorang anak lagi muncul, disusul yang lain. Orang-orang dewasa mulai berdatangan juga, menggandeng anak-anak mereka. Tak terasa semakin banyak orang datang seiring semakin larutnya malam.

Anak-anak tertawa ria menunggang kuda-kuda di carrousel. Jerit dan teriak kegirangan menggema dari kursi-kursi komidi putar yang mengayun di udara. Musik ceria mengiringi orang-orang itu menari-nari. Pesta pasar malam telah tiba. Semua ceria, semua tertawa, semua bahagia.

Prakosa berjalan perlahan memutar carrousel-nya. Makin lama semakin cepat dia barjalan, seiring dengan tawa anak-anak yang semakin keras terdengar. Prakosa makin mempercepat putaran langkahnya, berlari dan terus berlari. Sesekali dia melonjat duduk sejenak di lantai carrousel, turun lagi dan berlari lagi. Tidak pernah dia seperti ini, namun keceriaan anak-anak dan tawa riang mereka membuat Prakosa terlalut dalam kegembiraan yang sama. Prakosa berlari semakin cepat.

Taruno mulai melakukan atraksinya. Dia berputar dengan kecepatan tinggi, sambil kedua kaki menjulur kebelakang, seolah-olah dia tengkurap di kendaraannya. Motornya semakin kencang berputar. Dia melejit naik, mendekati para penonton yang ada diatasnya. Tangan dia rentangkan dan menyambut uluran tangan para penonton. Taruno makin cepat memacu motornya.

Semakin cepat komidi putar, tong setan, dan carrousel berputar. Orang-orang tertawa riang, anak-anak berteriak riang. Makin cepat mereka berputar, hingga tinggal bayangan yang kelihatan. Bayangan putih berputar kencang dan bergulung-gulung. Pijar lampu warna warni telah menjelma dari menjadi gulungan cahaya juga, menyatu dengan warna putih yang berputar semakin cepat. Tiga lingkaran cahaya putih berkilatan, berputar saling mendekat dan menjelma menjadi bulatan cahaya putih bagai bola putih bersih yang bersinar dengan indahnya.

Bola cahaya bersinar semakin terang, dan perlahan-lahan tampak mulai mengambang. Terikan dan tawa anak-anak semakin tinggi terdengar, dan tiba-tiba….
BAAMMM!!!!
Bola cahaya tampak meledak, diiringi kilatan cahaya yang menyilaukan mata.

Lembah kembali tenang, setenang permukaan danau yang memantulkan cahaya bulan. Damai merasuk kembali diiringi semilir angin yang membelai dedaunan.

Mamuju – Tasikmalaya

Gambar saya pinjam dari sini

5 thoughts on “Gelaran Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s