Bu Ageng

Pulang kampung adalah saat untuk ber-kuliner ria. Kembali merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini bersemayam di memory. Tempat-tempat makan yang dulu sering aku kunjungi, tentu saja sudah masuk dalam list. Namun ada satu tempat baru yang masuk dalam list. Bu Ageng. Tempat makan rumahan yang sering muncul di timeline-ku.

Mendengar nama Bu Ageng, mau tak mau, ingatanku terseret ke akhir tahun 80an – awal 90an. Waktu itu, aku selalu membaca kolom Umar Kayam yang dimuat setiap minggu di harian Kedaulatan Rakyat. Kolom berisi gleyengan Pak Ageng, sebagai tokoh utama, bersama Mr Rigen, pembantunya. Gleyengan yang memotret fenomena social saat itu. Gleyengan adalah nasihat, sindiran, protes, usul, dan sebagainya yang disampaikan ringan, bercanda, dan tidak ngotot; sangat sering secara tidak langsung namun kadang cukup nge-kick. Gleyengan ini tumbuh subur di dalam budaya Jawa (tidak tahu ada tidak di budaya yang lain). Mungkin acara Sentilan Sentilun bisa cukup menggambarkan relasi antara Pak Ageng dan Mr. Rigen berikut gleyengan-nya.

Dalam kolom ini ada juga tokoh tokoh lain, seperti Bu Ageng, Ms Nansiyem, Beni Prakosa, Tolo-tolo, Prof Lemahombo, Prof Legowo Prasodjo, dan Pak Joyoboyo.

Pak Joyoboyo adalah penjaja tenongan dengan penggeng eyem sebagai menu favorit. Penggeng eyem dengan santan yang mlekoh, sangat eksotis digambarkan oleh Umar Kayam. Menerbitkan liurku saat itu.

Berawal dari penggambaran eyem penggeng yang benar-benar profokativ, aku ingin bisa merasakan ayam panggang ala Umar Kayam itu. Pernah keinginanku itu aku sampaikan ke Ibu, tapi sayang sekali ibuku tidak tahu yang kumaksud, dan tidak tahu dimana bisa membelinya. Seingatku ibu pernah membuat ayam panggang Klaten yang bersantan, tapi tidak seperti gambaran eyem penggeng-nya Umar Kayam.

Oh ya, tulisan-tulisan Umar Kayam itu telah diterbitkan dalam 4 seri buku, Mangan Ora Mangan Kumpul (untuk buku ke 2, 3 dan 4, ada sub judulnya, berturut-turut: Sugih Tanpa Banda, Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih, dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit).

Secara digital dapat juga dinikmati klipingnya di sini.

Kembali ke acara mudikku kemarin, saking ngebetnya aku ke rumah makan Bu Ageng, aku sempatkan bertanya ke sang pemilik, Butet Kertaradjasa, lewat akun @masbutet untuk menanyakan kapan Bu Ageng buka saat libur lebaran. Mas Butet segera menginfokan tanggal bukanya, namun saking ngebetnya, aku sampai lupa tanggal, dan 1 hari sebelum tanggal bukan, aku sudah ke sana. Wedewwww…

Singkat kata singkat cerita…

Aku duduk, seorang diri, di warung masakan omah Bu Ageng. Oh ya, Bu Ageng adalah panggilan untuk Ibu Rulyani Isfihana, istri Butet Kertaradjasa. Apakah ada hubungan dengan Bu Ageng istrinya Pak Ageng dalam kolom tadi… Entahlah.

Setelah melihat-lihat menu yang ada… EUREKA!!!!  Eyem Penggeng ala Umar Kayam!! Keingingan yang telah sekian lama tersimpan akhirnya terwujud!!

Eyem Penggeng berikut deskripsinya

Tak perlu kuceritakan bagaimana rasanya… Harus dicoba. Areh yang mlekoh itu, berpadu dengan ayam yang empuk.. oh… Mak Nyus!!!! Tak perlu pula ku-upload fotonya. Takut ada air liur menetes di keyboard.

Oh ya.. istilah Mak Nyuss sebelum di”nasional”kan oleh Bondan Winarno, sebenarnya telah sering digunakan oleh Umar Kayam dalam kolomnya.

Rumah makan Bu Ageng, terletak di jalan Tirtodipuran, Jogja. Bangunannya bergaya lama, dengan kayu sebagai bahan utama rumah. Dilengkapi dengan meja kursi kayu nan sederhana. Nuansa nJawani sangat terasa.

Suasana nJawani yang sangat terasa

Di bagian belakang terpampang foto tokoh tokoh baik bidang seni budaya, politik, ekonomi, agama dan lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang lahir di Jogya, ataupun yang “digembleng & dibesarkan” di Yogya. Antara lain terpampang foto Sri Sultan HB IX, Pak Harto, KH Ahmad Dahlan, Pak Dirman, Prof Mubyarto, Bagong Kusudiharjo, WS Rendra, Umar Kayam, Nyi Condrolukito, Mgr Soegija, Romo Mangun, hingga Romo Zoetmulder yang kelahiran Belanda tapi lebih nJawani dari orang Jawa sendiri.

Tokoh-tokoh yang lahir atau digembleng oleh suasana kota Jogja

Untuk temen-temen yang berkesempatan ke Jogja tidak rugi kalo menyempatkan mampir ke sini. Baceman kambing, lele njingkrung, dan aneka masakan yang lain siap menyambut, dengan harga khas Jogja.

Apa kuliner Anda pada saat mudik kemarin?

19 thoughts on “Bu Ageng

  1. waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh catet catet!!!
    Ya aku pernah baca Mangan ora mangan kumpul, tapi lupa apa pernah baca eyem penggeng ngga !

    Bener bro, untung ngga upload fotonya… bisa rusak keyboardku.
    Soalnya aku baru saja selesai ungkep ayam utk dipanggang pakai pressure cooker nih, nanti tinggal dipanggang dikit sebelum makan. Tapiiiii ngga pakai santan! Coba ada resepnya ya, aku mau coba😀

    • Mbak EM<

      ayam ungkep panggang pressure cooker… hemmm kayaknya menggoda juga hehehe
      *makanan apa sih yg gk menggoda buat gue??*

      bisa masuk dalam list kalo ke Jogja Mbak EM

      Salam,

    • Bener banget….
      Kayaknya chef ata harus coba dan kasih penilaian deh.. biar objective, soalnya yg aku tulis hanyalah referensi dr orang yg tahunya cuma enak ama enak banget wakakakaka

      Salam,

  2. waduuuuuh penggeng eyeeeem. aku juga dari dulu membayangkan kaya apa sih penggeng eyem kesukaan Tolo-tolo itu. aku juga mengoleksi karya-karya Umar Kayam.🙂

    kayaknya harus dicoba nih kalau pulang! nyam! nyam!

    • Satu lagi orang yg terprovokasi oleh tulisan Umar Kayam ttg penggeng eyem… Jd bukan hanya aku kan… heheheh

      Buku Umar Kayam yg aku punya Para Priayi, tp kalo Mangan Ora Mangun Kumpul gk punya, soalnya waktu itu masih blm kuat beli buku… sekarang nyari sdh susah
      untungnya sdh baca di KR

      Salam,

      • aku sempat beli mas. waktu aku sudah kerja, kalau nggak salah dicetak ulang. lumayan buat tombo kangen dengan bahasa jawa. dan bahasa pak ageng itu kan khas banget.🙂 iya, sekarang sudah susah nyari bukunya umar kayam.

  3. yah…aku penasaran… mana mas eyem penggengnya….

    ada ayam panggang santan ala kampung yang sering dimasak sama buyutku …
    pengen tau mirip nggak ya…

    • Mas Teddy,

      Akhirnya aku nemu jg eyem penggeng ala umar kaya… setelah sekian tahun penasaran. lebih dr 20 tahun menanti….
      bener2 mak nyusss….

      Salam,

  4. Bener, Ata! Aku makan di warung Bu Ageng.. dan rasanya nggak enaaakkkk! Hehehe, maksudku, nggak enak kalau cuma makan sedikit dan sekali! Hahahaha…

    Bro, kamu bener dan memang tampaknya bener-bener kita tumbuh di alam dan era yang sama ya meski kita tak saling kenal dulu! Kita hidup dan pernah sangat terkesima dengan cara Pak Umar Kayam bercerita!

    Waktu itu pernah saking ngefansnya aku dengan beliau, aku kenal sama salah seorang keponakannya.. Aku lantas diajak ke rumahnya. Tapi beliau saat itu sedang tidur siang di kursi malasnya yang menghadap ke jendela. Dan momen untuk melihat beliau secara langsung sekali seumur hidup itu sungguh memesonaku! Sayang, beberapa saat setelah itu beliau meninggal.

    Dan you know what… aku sempat jadi langganan eyem penggeng yang asli yang dijual oleh seorang penjual yang asalnya dari Klaten… waktu itu kan kantorku di Papringan setiap pagi selalu dilewati penjual eyem penggeng itu.

    Jadi tiap pagi aku slalu beli eyem penggengnya dan beliau cerita soal Pak Umar Kayam. Dan cerita tentang bagaimana pak penjual itu menyusun formasi perang baratayudha terhadap barang jajanannya itu memang benar-benar dilakukannya setiap pagi! Edan ya?

    Dan tau satu lagi hal yang paling mengejutkan… ternyata pak penjual eyem penggeng itu masih saudara dengan almarhumah eyang buyutku. Rumahnya pun hanya terpisahkan sungai di Klaten! :))

    Whatta small world!

    • DV,

      Yup, kita satu kohor hehehe.. meskipun dulu waktu sama2 di Jogja kita blm saling kenal… Pdhl lumayan jg temenku yg ex De Britto, termasuk Bapakku hehehe

      Wah ternyata dikau kenal/tahu penjual penggeng eyem asli.. di seberang sungai rumah buyutmu pula.. hemmmm!! Dan berbahagialah dikau yg telah merasakan pengeng eyem asli waktu di papringan!

      Bener Don, tulisan Umar Kayam mengalir demikian enak, membuat kita terkesima

      Salam,

  5. Pingback: Bumbu Instant | The BroNeo

  6. Adalah sebuah kesalahan besar jika aku sebagai orang yang sudah lumayan lama tinggal di Jogja, belum menyempatkan diri untuk makan di warung tersebut. Dan aku tidak mau berlama-lama dalam kesalahan tersebut. So.. Bu Ageng harus segera kukunjungi, hehe..😀

      • Waah….mas pengalaman “air liur” anda hampir mirip saya tuh..saya juga dulu penggemar kolom itu…cuma kalo sentilun kok kayaknya beda style dengan Mr Rigen ya…sentilun agak lebay,kalo mr Rigen sindirannya lebih polos gitu…sedang mak nyuus pak Bondan,memang di akui oleh beliau mengambil dari pak Umar…nah kalo soal eyem penggeng yang legendaris itu,sayalebih beruntung mas…asal ada dana cukup,dulu penjual ayam “jenis” itu memang keliling pake tenong…meski terasa agak mahal waktu itu,tapi beberapa kali saya mengunyahnya ( hanya sedikit,karena harus berbagi dengan seluruh keluarga…maklum saat itu termasuk ” Elite Food”…he he }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s