Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Wuih… berat benar judul di atas, kayak seorang ahli saja saya ini berani-beraninya memberikan cara mencegah dan menanggulangi tawuran. Lha wong tawuran saja saya belum pernah… jadi yang akan tertulis hanya merupakan opini berdasarkan pengalaman saya saja.

Happy Family

Saya sangat beruntung dilahirkan di dalam keluarga yang penuh cinta. Meskipun bukan keluarga yang berlimpah harta, namun sungguh beruntung kami tidak berkekurangan. Cukupanlah. Bapak bekerja sebagai penjual barang-barang second di pasar, dan ibu bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta yang cukup ternama di Jogja, kedua orang tua saya mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan setiap tahap perkembangan anak-anaknya. I was very happy.

Saya merasa aman bila di rumah, karena kedua orang tua yang sangat mencintai dan melindungi saya. Sebagai anak, wajar saja saya beberpa kali berantem dengan teman-teman sepermainan. Namun berantem bukan dalam artian berkelahi. Beberapa kali saya jothakan dengan teman sepermainan, namun setiap kali jothakan, orang tua saya selalu me-wawuh-kan kembali. Bapak akan mengajak aku mengunjungi rumah teman yang jothakan itu, dan mendamaikan kami, dihadapan orang tua mereka juga.

Teladan bukan nasehat kosong

Bapak ibu saya adalah teladan nyata dengan hidupnya. Bukan kata-kata yang dijejalkan ke kepala saya waktu saya masih kecil, namun dengan contoh, teladan. Setelah dianggap dewasa saja Bapak dan Ibu memberikan nasehat-nasehatnya. Namun nasehat itu hanya merupakan “rangkuman/kesimpulan” akan kehidupan mereka sehari-hari.

Bapak tidak pernah menyuruh-nyuruh saya belajar, tapi Bapak menjadi mahasiswa universitas terbuka. Semata-mata bukan untuk gelar sarjananya (toh Bapak tidak pernah lulus UT), namun teladan untuk belajar bagi saya dan kakak.

Ibu tidak pernah menasehatkan untuk bekerja keras, namun itu sungguh nyata tampak dalam keseharian ibu. Sebagai perawat dan sebagai ibu rumah tangga tanpa seorang assistant rumah tangga, merupakan pesan yang sangat kuat bagi saya untuk kerja keras.

Bukan dididik media

Sewaktu aku masih kecil, ibu selalu mematikan TV ketika memasuki jam belajar. Waktu itu aku hanya diijinkan untuk nonton film pada jam 17.30 sebagai hiburan, program lain yang boleh aku tonton adalah flora & fauna, Dunia dalam Berita, dan tontonan-tontonan lain yang sarat pesan moral seperti Rumah Masa Depan, ACI, dan sebagainya.

Saya sangat prihatin dengan tontonan televisi sekarang ini. Sinetron penuh kebencian, intrik, dan balas dendam. Tayangan berita dengan porsi berita criminal dan kekerasan yang cukup besar. Gambar-gambar penuh dengan darah, politikus yang berdebat kusir, artis yang nikah-cerai, saling caci di media. Ah… ngeri sekali melihat sajian berita saat ini. Jadi rindu tayangan seperti Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara dan sebagainya.

Sudah saatnya kita renungkan lagi, seberapa banyak anak-anak remaja menonton televisi yang tidak mendidik seperti itu. Apakah orang tua memberikan pendampingan yang cukup? Apakah pihak penyiar mempertimbangkan pengaruh mereka terhadap anak-anak dan remaja?

Sportif

Dulu waktu saya SMA, mendapat cerita dari kakak, yang kebetulan sudah kuliah di UGM. Kakak cerita, bahwa club-club olahraga UGM prestasinya biasa-biasa saja. Namun demikian, terdapat kelompok supporter yang cukup fanatik. Ketika team kesayangannya bermain, mereka akan mengibarkan spanduk, dengan tulisan “MENANG TIDAK SOMBONG, KALAH SUDAH BIASA” Sebuah dukungan yang terasa janggal, namun cukup menunjukkan sifat sportif. Fanatik, namun tidak fanatik buta. Sikap yang membuat mereka tidak pernah tawuran. Oh ya, kalo team mereka sudah hampir kalah, mereka akan bernyanyi: “Hahahaha ha… Hihihihi hi… tampaknya kalah lagi…!!!” dengan lagu seperti sepatu kaca-nya Ira Maya Sopha.

Pertandingan olah raga, antar kelas, antar sekolah, antar fakultas, dan sebagainya bisa menjadi sarana untuk saling mengenal dan memperkuat persatuan, jika dilandasi sikap sportif. Menang tidak sombong, kalah sudah biasa!!

Siapkan diri untuk menikah

Saya dan istri sangat beruntung, bahwa dalam setiap proses pernikahan di Gereja Katholik, kami harus melalui tahap kursus pernikahan. Kami diberi gambaran tentang dunia pernikahan, sharing pengalaman dari pasutri yang sudah pengalaman, dan bagaimana mendidik anak-anak yang kelak akan dipercayakan kepada kami. Bagaimana menghadapi permasalahan dalam kelurga, masalah ekonomi, tanpa “harus” mengorbankan pendidikan bagi anak. Dan yang paling penting bagaimana kami harus membesarkan anak-anak dalam cinta dan kasih. Harapannya sih semua keluarga menjadi happy family.

Melihat banyaknya orang yang nikah-cerai, saya jadi ragu, apakah mereka sudah benar-benar siap ketika memasuki alam rumah tangga. Apakah mereka siap secara lahir, batin, dan juga finansial? Bukan berarti kita harus menjadi kaya raya sebelum menikah, namun lebih kepada bagaimana secara finansial rumah tangga tersebut akan dihidupi.

Ah, jadi ngelantur kemana-mana cerita ku ini. Padahal saya juga masih bau kencur untuk berbagi pengalaman hidup. Belum banyak asam dan garam kami cicipi, apalagi dalam hal mendidik anak. Lha wong sampai sekarang masih belum punya anak je

Singkatnya, berdasarkan pengalaman-pengalaman saya, bisa diambil beberapa kesimpulan, yang bisa menjadi alternative cara mencegah dan menanggulangi tawuran:

  1. Keluarga adalah pendidik utama bagi anak, berikan rasa aman dan penuh cinta agar anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, tanpa dendam dan kemarahan. Ini memberi tanggung jawab secara tidak langsung kepada pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja, sehingga orang tua tercukupi secara ekonomi, dan mampu berbagi waktu dan cinta dengan anak-anaknya.
  2. Teladan dari orang tua, para pemuka masyarakat, tokoh nasional dan pemerintah jauh lebih bermakna dari nasehat-nasehat kosong. Mereka dituntut mempunyai integritas agar tutur dan perbuatan selaras.
  3. Batasi tayangan yang tidak mendidik, dan orang tua menyediakan waktu untuk mengarahkan tontonan bagi anak-anaknya, baik yang masih kecil, maupun remaja.
  4. Ajarkan sikap sportif, tidak fanatik buta
  5. Persiapkan diri benar-benar sebelum memasuki masa berumah tangga. Tidak mudah untuk membangun keluarga yang penuh cinta, namun jika tidak kita usahakan dan perjuangkan, keluarga seperti itu tidak akan tercipta. Kita perlu mempersiapkan diri baik-baik.

 Semoga sharing pengalaman saya ini bisa diambil manfaatnya.

Oh ya, artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran

Tasikmalaya, 15 Oct 2012 – 01.31

15 thoughts on “Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

    • Terima kasih juga undangannya Pakde… Kehormatan bagi saya, Pakde berkenan mengajak saya untuk berpartisipasi

  1. Memang kalo ditanya, gimana sih cara mendidik anak? Gak ada jawaban dari orang tua yang sukses mendidik anaknya, karena mereka sebetulnya tidak mendidik, tapi memberi teladan. Seperti orang-orang bilang, “orang tidak dilihat bagaimana ia berbicara, tapi bagaimana ia berbuat”, mungkin sangat betul.

  2. “MENANG TIDAK SOMBONG, KALAH SUDAH BIASA”

    Saya tersenyum membaca kalimat spanduk ini …
    Khas anak-anak Jogya banget🙂

    Sukses Bro

    Salam saya

    • dan satu lagi pelajaran saya dapat …
      “Mendidik dengan Teladan”

      ndak usah pakai banyak petatah petitih … tetapi nasihat selalu dilakukan dengan tindakan nyata … tidak asal ngomong

      salam saya lagi Bro …
      setuju dengan Nana … saya juga terharu membaca bagian itu

      • Yup, setuju Om, dg teladan kedua orang tua, diharapkan anak bisa hidup lurus… Perlu integritas dari para orang tua untuk bisa melakukannya

        salam,

    • Setuju Om… dan sangat “nerimo”
      Tidak mudah untuk menerima kekalahan, tapi sebagai salah satu sifat sportif, hal itu patut kita biasakan.

      Salam,

  3. Keluarga adalah gereja mini, dan aku percaya itu! Jadi benar, apapun motivasi tawuran, sebenarnya pembinaan terbaik ya dari keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s