Pelajaran Sejarah

Satu tahun empat bulan satu hari…
Sudah lama sekali blog ini aku tinggalkan, lumutan dan berkarat.

Saat ini aku kembali ditempatkan di Jakarta, dengan segala kesibukan dan kemacetannya. Alasan klise untuk tidak meng-update blog ini. Namun, sesungguhnya bukan itu yang menyebabkan sekian lama blog ini terbengkalai. Aku kehilangan passion untuk menulis. Uh… dasar blogger KW3.

Untuk sekarang pun, yang aku posting bukan tulisanku. Ini adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dengan judul seperti tertulis dalam judul tulisan ini. Pelajaran Sejarah. Cerpen ini ada dalam kumpulan cerpen SGA yang berjudul Saksi Mata.

Di penghujung bulan Mei ini, mungkin saat yang tepat untuk mengajak anak-anak untuk belajar sejarah di Semanggi, Trisakti, Glodok, Cawang, serta sudut-sudt lain Jakarta … dan merasakan getaran yang ada di sana

PELAJARAN SEJARAH

Pada jam pelajaran sejarah, Guru Alfonso membawa murid-murid kelas VI ke tempat bersejarah itu. Angin bulan November bertiup kencang, menggugurkan dedaunan yang melayang-layang masuk ke pekuburan. “Anak-anak, kita akan belajar sejarah,” katanya.

Kanak-kanak itu memandang Guru Alfonso dengan mata mereka yang serbabulat dan besar. Guru Alfonso juga memandang mereka dengan mata yang tajam. Aneh, pikirnya, setiap kali datang ke tempat ini mereka terdiam. Padahal, mereka adalah kanak-kanak yang sungguh-sungguh nakal. Di kelas, mereka tak henti-hentinya saling berkejaran, melompat dari meja ke meja.

Inilah untuk kedua kalinya Guru Alfonso membawa murid-muridnya ke pekuburan itu. Angin bertiup kencang. Daun-daun berguguran. Apakah sejarah itu, pikir Guru Alfonso, apakah yang harus kita pahami dari masa lalu? Ia memandang murid-muridnya yang ceria, kanak-kanak berambut keriting, berkulit hitam, dengan gigi putih besar-besar. Kali ini tangan dan kaki mereka diam, mulut mereka terbuka, dan mata mereka menunggu.

Angin bertiup lagi, kali ini membawa bau mesiu.

Guru Alfonso belum lupa peristiwa itu. Bagaimana bisa lupa? Saat penembakan, mereka membagi dalam dua barisan. Komandannya menembak sekali ke atas, sambil teriak “Depan tidur, belakang tembak!” setelah yang belakang menembak, yang depan merangsek dengan menusukkan sangkurnya ke arah semua orang. Guru Alfoso belum lupa, ia hanya bisa berlari-lari tidak tentu arah karena orang-orang berjatuhan begitu saja, bergelimpangan.

“Bapa Guru Alfonso!”

“Ya!”

“Kenapa kita belajar sejarah di luar kelas?”

Guru Alfonso memandang anak itu. Ia senang dengan cara murid-muridnya bertanya. Semua guru di sekolah mereka selalu mendidik agar murid-murid bertanya dengan tegas. Mereka telah mendidik murid-murid mereka agar tidak lekas-lekas memercayai apapun yang mereka ajarkan. Kini murid itu beranya, kenapa ada pelajaran yang harus diajarkan di luar kelas? Dalam kepala Guru Alfonso terdapat suatu jawaban, tapi yang keluar dari mulutnya ternyata lain.

“Karena tidak semua hal bisa diajarkan dalam kelas, Fransesco.”

“Bapa Guru Alfonso!” Seorang murid lain berdiri.

“Ya!”

“Pelajaran sejarah macam apakah yang harus diajarkan di luar kelas?”

Guru Alfonso menghela napas. Semua itu adalah pertanyaan yang jujur. Tapi, betapa bisa menyulitkan sebuah pertanyaan yang jujur. Sebenarnya ia pun sudah punya jawaban di kepalanya, tapi yang keluar dari mulutnya lagi-lagi lain.

“Tentu saja pelajran sejarah yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas, Florencio.”

“Tapi, sejarah macam apakah yang tidak bisa dipelajari di dalam kelas Bapa Guru Alfonso!”

Daun-daun berguguran lagi. Daun-daun kekuningan berguguran melayang-layang di dalam kompleks perkuburan. Daun-daun berguguran selalu mengingatkan Guru Alfonso tentang peristiwa itu, ketika semua orang yang tertinggal dan tidak sempat lari disuruh membuka baju dan dipukuli dengan kayu.

“Sekarang kamu semua bedoa, waktunya sudah tiba, kamu akan mati semua.”

Guru Alfonso tengkurap pura-pura mati. Ia melihat teman disebelahnya yang masih hidup, kepalanya ditusuk dengan pisau.

“Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak. Sejarah itu, Florencio, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya.”

Kanak-kanak itu terdiam. Mereka sudah banyak belajar. Selama enam tahun mereka telah belajar membaca, menulis, berhitung, dan menghubungkan sebab-akibat. Mereka telah mempelajari bagaimana berbahasa, bagaimana mempergunakan bahasa, dan bagaimana memanfaatkan bahasa. Selama enam tahun, ya, selama enam tahun, guru-guru mereka yang rahangnya kukuh dan tajam matanya, dan beberapa diantaranya tidak bertelinga, telah mendidik mereka dengan suatu cara agar mereka bisa memahami banyak hal, termasuk sejarah.

Guru Alfonso sudah lama mempelajari, belasan tahun lamanya, bahwa harapan mereka terletak di pundak kanak-kanak itu, tapi Guru Alfonso menyadari betapa harapan itu hanya bisa menjadi kenyataan jika kanak-kanak itu mampu memahami sejarah. Guru Alfonso juga sangat memaklumi, hanya dengan suatu cara berbahasa yang saling bisa dimengerti, sejarah mereka bisa dihayati.

Karena begitulah, memang tidak terlalu mudah mengajarkan suatu pengertian tentang makna peluru yang beterbangan itu. Peluru yang beterbangan, berhamburan, menyambar-nyambar tubuh dan udara selama tujuh menit, kemudian sepuluh menit, kemudian sunyi, dan kemudian terdengar suara erangan. Guru Alfonso sudah lama memikirkannya, bagaimana caranya menceritakan semua itu tanpa harus menjadi terlalu mengerikan. Tanpa cerita darah yang memerahkan aspal, tanpa cerita tentang kepalanya sendiri yang ditendang, bajunya dicopot untuk mengikat tangan, sementara teman di sampingnya dipukul dengan kayu yang ujungnya berpaku. Guru Alfonso sudah lama mencari jalan, bagaimana caranya mengajarkan sejarah macam itu tanpa rasa amarah.

“Hapuskan semua!”

Ia dengar teriakan itu meski tidak didengarnya tembakan. Ia hanya tahu tubuhnya dilemparkan ke dalam truk. Antara sadar dan tidak, ia merasakan bertumpuk-tumbuk tubuh, entah sudah mati, entah setengah mati.

“Bapa Guru Alfonso!”

“Ya!”

“Ceritakanlah pada kami sejarah yang Bapa maksud itu.”

Angin berhembus kembali, membawa bau amis darah. Suara angin sering kali mengingatkan Guru Alfonso pada sebuah prosesi di malam hari. Sebuah iring-iringan yang panjang mengiringkan sebuah peti mati, dengan seribu lilin yang menyala. Betapa kesedihan bisa menjadi luka yang memanjang.

Guru Alfonso sedang berpikir, bagaimana caranya menyampaikan pelajaran sejarah itu sebaik-baiknya, ketika matahari semakin tinggi.

Kanak-kanak itu menunggu, sambil bertopang dagu, tapi dengan mata yang tiada pernah lepas dari Guru Alfonso.

Maka, Guru Alfonso pun berkisah.

“Pada suatu hari, delapan belas tahun yang lalu ….”

Maka angin pun bertiup menghembuskan gelombang sejarah. Kanak-kanak itu mulai terpesona. Mereka dihanyutkan ke sebuah dunia tempat debu bertebaran, peluru berhamburan, darah bermuncratan, dan air mata menetes, tapi mulut terkatup dengan geram. Sebuah dunia tempat ibu-ibu kehilangan anaknya, anak-anak kehilangan orangtuanya, kaum wanita dilecekan dan diperkosa, dan seorang pemuda berberteriak: “Viva…” dan terbungkam dengan darah mengalir dari telinga, yang kemudian dipotong oleh tentara. Mayat-mayat bergelimpangan dan para serdadu berfoto bersama di depan mayat-mayat itu. Kadang-kadang mayat yang berlubang-lubang karena berondogan peluru itu mereka dudukkan seperti orang hidup, dipasangi topi, dan diberi rokok pada mulutnya, lantas para serdadu berfoto bersama sambil tertawa-tawa.

Angjn bulan November masih bertiup kencang, kali ini kencang sekali sehingga dedaunan makin banyak berguguran di pekuburan, membawa bunyi berkerosok di sisi-sisi tembok. Namun, langit mendadak mendung, bagai meneduhkan ratusan roh yang gentayangan penuh dendam. Guru Alfonso masih bercerita. Ia bercerita dengan tenang, tapi menghanyutkan, kanak-kanak itu mendengarkan dengan mulut terbuka, dan sejarah mengalir ke dalam jiwa mereka.

Sebenarnya, seluruh cerita Guru Alfonso itu sudah pernah mereka dengar, bahkan sebenarnya mereka sudah hafal di luar kepala. Tapi, kini mereka mengerti, itulah sejarah, yang tidak tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah.

Jakarta, 3 November 1993

2 thoughts on “Pelajaran Sejarah

  1. inginnya tak mau mengetahui semua kebiadaban itu
    inginnya menganggap itu semua hanya cerita
    tapi…. aku percaya bahwa sefiktif apapun cerita itu, pasti ada nyatanya
    dan kenyataan itu tidak semua indah.

    • Memang mengerikan Mbak EM, tapi… tidak ada asap tanpa api…
      Harus dikabarkan, bukan untuk memupuk dendam tapi agar tidak terjeblos dalam kengerian serupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s