Was vs Am

Sebagai pembuka era baru dalam ngeblog, saya coba menghighlights perkembangan atau perubahan apa saja yang telah terjadi selama ini. Sebagai tolok ukur adalah awal 2013, sebelum blog ini sekarat, dibandingkan awal 2020.

Tak terasa sudah tujuh tahun blog ini hidup segan mati tak mau, ada banyak perubahan terjadi. Berikut adalah perkembangan besar dibandingkan tujuh tahun lalu. I was vs I am

Obesitas vs Overweight

Awal tahun 2013 tubuh saya masih cukup tambun, bahkan puncaknya pernah mencapai 120 kg. Sekarang belum ideal memang, namun sudah berubah cukup significant. Dari yang sebelumnya obesitas kelas III sekarang berada pada posisi overweight yang tidak over-over banget. Ukuran kemeja pernah mencapai XXXL, sekarang berkisar M atau L. Namun 2 bulan terakhir kok rasanya baju mulai menyempit ya? Mesti minum jamu jarak lagi nih!

Obesitas Kelas III vs Overweight

Continue reading

I’m Back

Desember 2016, tepatnya tanggal 19, terakhir kali aku mengupdate blog ini. Sudah tiga tahun lebih. Saatnya kembali [mencoba untuk] aktif. Meskipun update terakhir Desember 2016, sebenarnya blog ini sudah cukup lama pingsan, hidup segan mati tak mau. Desember 2016 hanya ada 2 tulisan, sebelum itu hanya ada 2 tulisan pada pertengahan tahun 2014, bulan Mei dan Juni. Sebelum 2 tulisan tersebut, update kulakukan pada Jan 2013. Boleh dibilang Jan 2013 adalah periode terakhir aku cukup rajin mengupdate blog ini. Seingatku setelah pindah kantor ke Jakarta lagi pada bulan Maret 2013, boleh dibilang aku mulai jarang memperbaharui blog ini.

Trigger untuk merawat lagi blog yang sudah sekian lama aku tinggalkan berawal dari comments ketika Pak royhekekire.com mengumumkan blog barunya di Facebook. Sungguh aku merasa malu, dengan alasan klasik tidak punya waktu lah… sibuk lah… dan sederet alasan lain.
Aku tahu benar Pak Roy jauh lebih sibuk dari pada aku dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar pula. Beliau saja bisa cukup aktif mengupdate blognya, masa aku tidak bisa. Sebenarnya keinginan untuk mengupdate lagi telah cukup lama muncul, namun aku selalu menyerah pada alasan-alasan klasik di atas.

Semoga aku bisa cukup konsisten untuk mengupdate blog ini, dan mencoba tips dari superblogger.id agar minimal memposting 2 tulisan per minggu.

Salam

Yogyakarta, 5 Januari 2019

Ibu Tindak Bali

Ibu Tindak Bali. Ibu pergi ke Bali.

 

Bagi sebagian teman, Bali adalah tujuan wisata yang sudah sangat biasa dikunjungi, bahkan mungkin sudah bosan. Tapi tidak untuk Victoria Suprihatin, ibuku. Dia baru menginjakkan kaki di Bali di usianya yang telah lebih dari tujuh satu puluh tahun. Beberapa hari yang lalu, akhirnya beliau bisa mengunjungi Bali, Pulau Dewata yang menjadi impiannya semasa aku masih kecil.

 

Beberapa bulan yang lalu, Ibu mengajak untuk liburan keluarga bersama ke Bali. Liburan keluarga pertama setelah sekian puluh tahun keluargaku tidak melakukannya. Seingatku liburan keluarga kami terakhir ketika aku masih SD. Tujuannya pun aku sudah tidak ingat dengan jelas, antara Kebun Binatang Gembira Loka, Pantai Parang Tritis, Kaliurang di lereng Merapi, atau Baturaden/Jatijajar di Banyumas. It’s long time ago.

Tanpa panjang pikir, aku langsung meng-iya-kan ajakan Ibu. Kebetulan kakakku, istri dan anaknya juga sudah libur pada tanggal yang ditentukan. Ini adalah liburan keluarga pertama dengan formasi keluarga saat ini. Ibu, kedua anaknya beserta kedua menantu, serta seorang cucu.

 

Ajakan Ibu ke Bali, mau tak mau menyeretku pada kenangan berpuluh tahun lalu.

Continue reading

Virtual Crime

Berhati-hatilah terhadap orang yang baru saja Anda kenal di dunia maya. Bisa jadi kita menjadi korban penipuan atau pemerasan. Seperti yang baru saja aku alami.

Keinginan untuk memperluas silaturahmi seyogyanya diikuti dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Kita yang familiar di dunia maya, harus selalu sadar bahwa untuk setiap aktivitas kita, akan meninggalkan jejak virtual yang bisa disalah gunakan oleh siapa pun yang berkehendak jahat. Kita harus sadar bahwa account fiktif sangat mudah dibuat dan disalahgunakan. Sekedar pura-pura menjadi teman, kemudian cerita mengharu biru sehingga kita jatuh iba dan ujung-ujungnya minta bantuan dana.

Atau sedikit lebih “canggih” dengan harapan dapat memeras lebih banyak, bukan sekedar mengharapkan iba.

Continue reading

Pelajaran Sejarah

Satu tahun empat bulan satu hari…
Sudah lama sekali blog ini aku tinggalkan, lumutan dan berkarat.

Saat ini aku kembali ditempatkan di Jakarta, dengan segala kesibukan dan kemacetannya. Alasan klise untuk tidak meng-update blog ini. Namun, sesungguhnya bukan itu yang menyebabkan sekian lama blog ini terbengkalai. Aku kehilangan passion untuk menulis. Uh… dasar blogger KW3.

Untuk sekarang pun, yang aku posting bukan tulisanku. Ini adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dengan judul seperti tertulis dalam judul tulisan ini. Pelajaran Sejarah. Cerpen ini ada dalam kumpulan cerpen SGA yang berjudul Saksi Mata.

Di penghujung bulan Mei ini, mungkin saat yang tepat untuk mengajak anak-anak untuk belajar sejarah di Semanggi, Trisakti, Glodok, Cawang, serta sudut-sudt lain Jakarta … dan merasakan getaran yang ada di sana

Continue reading

Bumbu Instant

Ini masih tentang kuliner, setelah tulisan sebelumnya mengenai tempat makan yang sangat recommended di Jogja. Ah… apasih yg tidak berhubungan dengan makan untuk BroNeo? Hehehehe

Kembali ke judul di atas, saat ini banyak sekali beredar bumbu instant. Mulai dari sekadar nasi goreng, sampai gulai, rendang, dan aneka macam masakan lainnya. Secara rasa, sebenarnya tidak terlalu cocok dengan lidahku, karena kadang rasanya kurang rumangsuk, tidak terasa sampai dalam, rasa hanya di luarnya saja. Selain itu, rasanya jadi standart, bisa jadi terlalu asin bagi kita, terlalu manis, atau sebaliknya, kurang pedas, kurang gurih. Singkat kata, bisa jadi bumbu instant itu kurang pas di selera kita.

Selain masalah rasa, aku juga kurang suka dengan prosesnya yang instant. Aku termasuk orang yang percaya proses. Proses yang baik, akan memberikan hasil yang baik juga.

Pandanganku yang “kontra” itu mendadak sontak goyah, tidak tahu harus “pro” atau “kontra” terhadap bumbu instant itu. Kalaupun tidak “pro” sekarang aku tidak “kontra” alias netral-netral saja. Apasih yang membuat berubah? Kok tiba-tiba goyah pendapatku?

Seperti biasa, setiap minggu aku dan istriku berbelanja untuk keperluan satu minggu. Beberapa waktu yang lalu, kebetulan kami sedang di Bandung, sehingga kami sempatkan berbelanja “extra”. Bahan-bahan makanan yang tidak tersedia di Tasikmalaya, kami beli di Bandung. Ada juga bahan yang sebenarnya di Tasikmalaya ada, tapi yang di Bandung lebih segar tampaknya.

Namun tiba-tiba saja ada perubahan rencana. Istriku yang tidak punya rencana mudik, mendadak pulang kampung, karena kakaknya yang sekarang tinggal di German, pulang bersama suami dan anaknya. Kapan lagi bisa ketemu. Kesempatannya sekarang atau nunggu setahun lagi. Sebenarnya kakak iparku berencana balik lagi ke Indonesia, tapi belum tahu kapan, dan belum tentu bisa pulang lengkap bersama seluruh keluarga. Jadi deh, istriku pulang kampung, meninggalkan bahan makanan yang lumayan banyak, dan bisa rusak jika tidak segera diolah.

Continue reading

Bu Ageng

Pulang kampung adalah saat untuk ber-kuliner ria. Kembali merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini bersemayam di memory. Tempat-tempat makan yang dulu sering aku kunjungi, tentu saja sudah masuk dalam list. Namun ada satu tempat baru yang masuk dalam list. Bu Ageng. Tempat makan rumahan yang sering muncul di timeline-ku.

Mendengar nama Bu Ageng, mau tak mau, ingatanku terseret ke akhir tahun 80an – awal 90an. Waktu itu, aku selalu membaca kolom Umar Kayam yang dimuat setiap minggu di harian Kedaulatan Rakyat. Kolom berisi gleyengan Pak Ageng, sebagai tokoh utama, bersama Mr Rigen, pembantunya. Gleyengan yang memotret fenomena social saat itu. Gleyengan adalah nasihat, sindiran, protes, usul, dan sebagainya yang disampaikan ringan, bercanda, dan tidak ngotot; sangat sering secara tidak langsung namun kadang cukup nge-kick. Gleyengan ini tumbuh subur di dalam budaya Jawa (tidak tahu ada tidak di budaya yang lain). Mungkin acara Sentilan Sentilun bisa cukup menggambarkan relasi antara Pak Ageng dan Mr. Rigen berikut gleyengan-nya.

Dalam kolom ini ada juga tokoh tokoh lain, seperti Bu Ageng, Ms Nansiyem, Beni Prakosa, Tolo-tolo, Prof Lemahombo, Prof Legowo Prasodjo, dan Pak Joyoboyo.

Continue reading