Magic Square

Magic square of order n, atau  dalam bahasa Indonesia disebut bujursangkar ajaib order n, adalah bujursangkar yang berisi angka-angka 1, 2, 3, …, n²  dimana jumlah masing-masing baris dan masing-masing kolom, serta diagonalnya sama.

 Contoh magic square adalah:

Magic square order 3

Gambar aku pinjam dari sini

Seringkali bujur sangkar ajaib ini menjadi soal waktu sekolah, atau menjadi rekreasi otak bagi mereka yang senang dengan angka.

Untuk mereka yang tertantang untuk membuat magic square, ada baiknya jangan melanjutkan membaca tulisan singkat ini, karena akan ada metode penyelesaiannya, sehingga “rahasia”nya terbongkar, dan bisa jadi kurang menarik lagi.

Continue reading

Lutut Ayam

Disclaimer:

Tulisan ini hanya merupakan jawaban iseng atas pertanyaan “dimanakah lutut ayam?” “Benarkah lutut ayam menghadap ke belakang?” Dan tulisan saya ini tidak akan mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah mendapatkan hikmat dari “perbedaan” lutut manusia dan lutut ayam. (sebagaimana diceritakan di sini, maupun di beberapa tulisan lain yang senada)

Beberapa waktu yang lalu, saya dan rekan rekan berkesempatan untuk makan bersama di sebuah warung di pinggir jalan. Menu utama di warung itu adalah ayam bakar atau goreng.

“Mas, ayamnya paha ya Mas” pintaku

“Baik Pak” jawab pemilik warung.

“Yang kanan ya Mas”

“Apa Pak?”

“Pahanya yang paha kanan,” jawabku sambil tersenyum

“….” Mas mas penjaga warung itu, bengong, dan memasang tampang sedang berpikir.

“Udah-udah Mas, bercanda kok. Gak usah dipikir. Pokoknya paha saja.”

Saya dan rekan-rekan pun menunggu makanan yang kami pesan

“Mengapa pilih paha yang kanan?” Tanya temanku

Continue reading

Dua Ribu Rupiah

Belum lama ini pecahan Rp 2.000,- diterbitkan. Tepatnya diterbitkan pada 10 Juli 2009, di Banjarmasin. Terpilihnya kota Banjarmasin sebagai tempat penerbitan pertama kali rupanya tidak lepas dari gambar yang termuat dalam lembaran uang itu, Pangeran Antasari, yang merupakan pahlawan nasional dari Banjarmasin. Dan tampaknya pecahan ini menjadi salah satu pecahan favorit pada lebaran yang lalu.

Bagi sebagian besar orang mungkin tidak ada yang istimewa pada pecahan ini. Namun bagi saya pribadi, sebenarnya pecahan Rp 2.000,- sudah “cukup lama aku nantikan”. Penantian ini semata-mata “penantian” pribadi, terlepas dari background sesungguhnya mengapa pecahan Rp 2.000,00 ini dikeluarkan.

Rp 2000

Pecahan Rp 2000,-

Mengapa? Apa istimewanya pecahan ini?

Continue reading

Mudik

Mudik. Meng-udik. Menuju Udik. Sebuah fenomena sosial yang luar biasa menurutku. Fenomena yang setiap tahun terjadi. Ritual tahunan yang beriringan dengan Idul Fitri. Ribuan orang bergerak menuju kampung halamannya. Ribuan orang mengalir, berduyun melalui jalur-jalur yang ada. Orang rela berdesak-desakan berebut tiket. Antrian luar biasa panjang pun dilakoni. Semua demi satu tujuan: MUDIK. Pulang ke kampung halaman. Pulang ke asal kita. Pulang ke keluarga kita. Pulang ke awal kehidupan kita.

Sebuah fenomena yang menurutku pribadi sangat selaras dengan perjuangan ibadah puasa. Pulang ke asal kita. Kembali Fitri. Kembali seperti kita terlahir.

Terlepas dari spiritualitas atau daya apa yang mendorong orang untuk mudik, sering kita dengar adanya kecelakaan dalam kegiatan mudik ini, entah karena keteledoran si pemudik, atau memang infra struktur yang kurang memadai, sehingga terjadi kecelakaan.

Berikut ini adalah sharing perjalanan saya di beberapa jalur utama di Sulawesi Selatan. Semoga sharing ini bisa menjadi tips bagi para blogger yang ingin pulang kampung dengan melalui jalan-jalan di Sulawesi Selatan, terutama jalur Makassar – Parepare.

Mengapa jalur Makassar – Parepare?

Ini karena jalur ini saat ini sedang sedang dalam proses perbaikan dan pelabaran jalan. Sehingga banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan, supaya tidak terjadi kecelakaan. Memang sampai saat ini saya belum mendengar adanya kecelakaan fatal di jalur ini, tapi ada baiknya kita berhati-hati, supaya perjalanan mudik para blogger lancar dan aman.

Continue reading

Ajakan “Menyesatkan”

Ajakan “menyesatkan”?? Apa tuh?

Jangan berprasangka tentang ajakan untuk melanggar norma-norma hukum, adat, maupun kesusilaan. Bukan pula tentang ajaran sesat, sempalan agama-agama yang marak diberitakan beberapa saat yang lalu.

Ini hanyalah tangkapan lensa iseng saja.

Selama ini aku “diajar” untuk selalu meningkatkan awareness suatu product. Salah satunya dengan branding. “Optimalkan media yang ada untuk menjaga agar product yang kita tawarkan selalu ada di benak konsumen”.  Begitulah kira-kira intinya. Ujung-ujungnya agar mereka mau membeli dan mempergunakan product kita.

Jadi jangan heran kalo Anda semua pernah melihat kendaraan dengan aneka branding product atau iklan. Mungkin Anda semua pernah melihat mobil box dengan iklan rokok pada box-nya, atau bus dengan gambar minuman energi, dan lain-lainnya. Bukan hanya product, bahkan caleg dan pasangan capres-cawapres pun banyak yang melakukan iklan di kendaraan menjelang pemilu yang lalu.

Itu adalah salah satu contoh optimalisasi branding tadi. Mereka berharap agar awareness mereka naik, dan orang-orang memilih product atau caleg tersebut.

Tapi yang ini agak lain. Anjuran atau ajakan yang tertulis justru bukan untuk “memakai” atau “mengkonsumsi” tetapi justru untuk “meninggalkannya”. Terlepas dari “isi anjuran” tapi yang jelas ini “bertentangan” dengan “theory marketing” yang aku kenal selama ini.

Continue reading

Penelitian Selama Bertahun Tahun

Pernahkan Anda mendengar promosi yang berbunyi kurang lebih seperti ini:

“Penelitian selama bertahun tahun menunjukkan bahwa …(nama product)… digunakan oleh lebih dari X% … (jenis profesi)”

Dalam hal ini jenis profesi yang dimaksud adalah ahli atau expertise dalam kategori product yang dimaksud.

Contohnya untuk memperjelas: Kalau product-nya shampoo, maka jenis profesinya adalah hair stylist, kalo product-nya pasta gigi, profesinya adalah dentist, kalo product-nya energy drink, jenis profesinya mungkin atlit.

Jadi kalimat di atas lengkapnya bisa jadi adalah:

“Penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa Shampoo Sutra digunakan oleh lebih dari 70% hair stylist

Lho kok nama shampoo-nya seperti nama alat kontrasepsi yach? Biar ah.. lha wong maksudnya biar rambut selembut sutra je he.he..he…

 

Apa reaksi anda jika mendengar hal itu?

Anda percaya akan kehebatan product tersebut? Anda tertarik menggunakan product tersebut?

 

Hati-hati Saudara, jangan cepat percaya. Cek lagi deh apa maksudnya.  Ingat, PM Inggris, Benjamin Disraeli pernah mengingatkan, di dunia ini cuma ada tidak macam kebohongan: lies, damned lies, and statistic. Saran saya, baca deh buku How to Lie with Statistics, karya Darrell Huff. Atau yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Berbohong dengan Statistik.

 how to lie with statistics

(gambar versi asli aku ambil dari sini, versi terjemahan koleksi pribadi)

Buku ini cukup kontrofersial pada masanya, karena mengungkapkan beberapa praktek “penipuan” atau “mis-lead” dengan menggunakan statistic. Mis-lead itu bisa berupa penyajian data dan hasil, asal menggunakan data, atau pemaparan dua data yang kelihatannya berhubungan padahal sesungguhnya tidak, dan banyak cara yang lain. Praktek ini sering digunakan oleh “praktisi statistic” bukan oleh “statistics” itu sendiri atau “statistician”.

 

Bagaimana cara berbohong untuk contoh kasus diatas? Apa yang salah dengan “Penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa Shampo Sutra digunakan oleh lebih dari 70% hair stylist”?

 

Tidak perlu panjang lebar menerangkan, mungkin dengan membaca illustrasi di bawah ini saja sudah cukup. Tidak perlu pusing-pusing dengan hitungan. Very simple:

  Continue reading

Quick Count: Just Another Prove

Pilpres sudah berlangsung dengan lancar beberapa hari yang lalu. Hasil Quick Count sudah bermunculan. Banyak komentar yang muncul, dan ada pula yang mempersoalkan proses pilpres itu sendiri yang berakibat pada keluarnya hasil seperti yang ada saat ini.

Bagaimana perasaan Anda atau komentar Anda sendiri melihat hasil quick count?

Jujur, terlepas dari hasil yang ada, aku merasa mongkok melihat hasil quick count. Apa itu mongkok? Kenapa?

Mongkok adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti kurang lebih berarti rasa bangga, kagum, ada terbersit rasa suka cita.

Kenapa aku bisa mongkok melihat hasil pilpres?

Apakah yang sementara unggul adalah pilihanku?

Bukan. Bukan itu yang membuat mongkok. Yang membuat mongkok adalah hasil quick count sekali lagi membuktikan bahwa statistik dapat digunakan untuk melihat kondisi suatu populasi, asalkan metode sampling-nya benar.

Yah, sebagai orang yang pernah belajar statistik, aku merasa bangga juga (boleh kan…?), ternyata memang apa yang pernah aku pelajari bisa memberikan hasil yang “sama” meskipun pelaku quick count berbeda-beda. Bahkan yang berbeda bukan hanya pelaku quick count saja, mungkin saja metode penentuan sample-nya pun berbeda, namun jika semua dilakukan secara benar dan sesuai kaidah keilmuan, ternyata hasilnya “tidak berbeda”

Dengan modal hasil ini (dan juga hasil-hasil yang lain), aku akan punya tambahan bekal jawaban untuk menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan “Apakah benar hasil surveynya?”

 Coba perhatikan hasil quick count berbagai lembaga yang sempat saya ambil dari kompas dan sedikit sentuhan dari saya agar lebih enak terbaca.

Continue reading