Arjuna Sasrabahu

Ini bukan cerita singkat tentang kisah pewayangan Arjuna Sasrabahu, karena saya sendiri pun belum tahu cerita Arjuna Sasrabahu secara detail dan lengkap. Yang saya tahu hanyalah:

Arjuna Sasrabahu adalah tokoh yang menjadi musuh Rahwana. Arjuna Sasrabahu berhasil mengalahkan Rahwana, tapi Rahwana sendiri kemudian mati di tangan Rama dalam kisah Ramayana. Dalam kisah Arjuna Sasrabahu ada tokoh bernama Bambang Sumantri dan Kakrasana.

That’s all. Sudah itu saja yang saya tahu. Mau cari bukunya sekarang, si Arjuna Sasrabahu agak sulit ditemukan. Lain halnya dengan Mahabharata dan Ramayana yang banyak sekali di toko-toko buku.

Banyak pertanyaan mengenai Arjuna Sasrabahu menggelayut dalam benak saya, terutama ketika berusaha menempatkan kisah ini dalam kurun waktu tertentu. Pertanyaan ini muncul karena kelahiran dan kematian Rahwana selalu dikisahkan dalam kisah Ramayana. Tapi dalam kisah Ramayana itu tidak pernah muncul atau menyinggung si Arjuna Sasrabahu ini.

Pertanyaan tersebut akhirnya mendapat sedikit jawaban ketika saya chatting dengan IJuliars. Walaupun hanya garis besarnya saja, namun percakapan singkat di dunia maya itu telah memberikan sedikit gambaran bagaimana meletakkan Arjuna Sasrabahu dan Ramayana dalam rentang waktu.

Continue reading

Gatotkaca Lena

Panglima panglima sepuh Hastina telah menjadi korban ganasnya Bharatayuda. Resi Bhisma tergolek lemah setelah ribuan panah Srikandi menghujam raganya. Meski sukma dan raga Resi Bhisma masih bersatu, namun cukuplah ribuan panah itu menyingkirkan sang resi dari gelanggang pertempuran. Pandita Dorna tewas dengan mengenaskan di tangan Drestajumna. Kepada Kepala dan badannya terpisah setelah menduga anaknya tewas.  

Mendung menggelayut di kedua belah kubu.

Pihak Pandawa masih berduka mengenang eyang dan guru mereka yang telah menjadi korban ganasnya Bharatayuda. Korban atas perang yang terjadi diantara cucu cucu Bhisma. Korban atas perang diantara anak-anak didik Pandita Dorna.  Kegamangan perang kembali meyeruak.

Sementara pihak Kurawa resah mencari pengganti panglima perang mereka. Hanya yang memiliki kehebatan setara Resi Bisma dan Pandita Durna yang pantas menggantikan mereka.

 

Malam semakin gelap. Pandawa dan Kurawa masih menyiapkan strategi untuk Bharatayuda esok pagi. Pandawa masih mencoba menerka siapa yang akan mereka hadapi di Kurusetra. Setelah tumbangnya Resi Bisma dan Pandita Dorna, tinggal Prabu Salya yang pantas dan sanggup menjadi panglima sepuh pihak Kurawa. Apakah setelah menghadapi Eyang kemudian Guru, apakah sekarang saatnya menghadapi Paman mereka? Atau ada panglima muda yang akan mereka hadapi esok pagi?

 

Prabu Kresna tiba-tiba resah luar biasa ketika tersiar berita Adipati Karna yang maju menjadi panglima, dan didampingi Prabu Salya sebagai saisnya. Keresahan itu menyeruak demikian hebat. Keeresahan akan keselamatan Arjuna. Keresahan akan akhir perang ini. Dia tahu, Bharatayuda tidak mungkin dimenangkan oleh Pandawa tanpa penengahnya, tanpa Arjuna. Dan dia tahu hanya Arjunalah yang akan dicari dan diajak bertarung oleh Karna. Yah, itulah pemenuhan ikrar Karna kepada Kunti ibunya.

”Dalam perang Bharatayuda nanti, saya hanya akan bertarung  dengan Arjuna, agar putera Ibu ”tetap” lima”

Dan Kresna juga tahu, Adipati Karna, putra tertua Dewi Kunti, tidak mungkin dikalahkan oleh Arjuna selama Karna masih memengang senjata sakti para dewa. Senjata Konta. Konta Wijayadanu.

  Continue reading