Berkibarlah Benderaku

Sepenggal cerita yang tersisa dari peringatan hari kemerdekaan republik ini, yang terinspirasi oleh tulisan Ibu Tutinonka.

Hari itu, 19 Agustus ’09, kebetulan aku mendapat tugas untuk ke Soroako sampai tanggal 21 Aug ’09. Route terdekat kesana sebenarnya adalah Pare – Palopo – Soroako, namun karena ada yang harus dikunjungi di Tana Toraja, maka jalur yang saya tempuh adalah Pare-Pare – Rantepao (Tana Toraja) – Palopo – Soroako.

Jalur ini memang lebih jauh dan jalannya cukup menantang, kalau tidak mau dibilang cukup berbahaya jika tidak hati-hati, namun aku mencoba untuk menikmatinya saja. Lha wong meskipun naik turun dan berliku-liku namun jalur ini menjanjikan pemandangan yang sangat indah.

Gunung-gunung dan tebing tinggi menjulang di kiri kanan jalan. Susunan batu karang yang menjulang dan diseling batu-batu hitam memberi pesona yang luar biasa indah. Sementara itu kesejukan udara juga sangat terasa. Salah satu view yang indah adalah Gunung Nona sebagai mana pernah saya postingkan di sini.

Gunung Nona aku lintasi saja, karena mengejar target jam 16.00 “harus”  sudah meninggalkan Rantepao, atu menjadi orang-orang nekat (seperti dalam tulisan ini). Jika kami meleset, dan tidak nekat untuk bergerak ke Palopo, target untuk mencapai Soroako keesokan harinya bakal lepas deh.

 Selepas pasar Sudu, di kecamatan Anggeraja, Kab. Enrekang, terpampang bukit di depan mata. Bukit – bukit batu kapur nan besar berjajar membentuk gugusan bukit dengan kontur bersudut-sudut dan runcing-runcing. Entah bagaimana terbentuknya dinding-dinding alam ini, yang jelas indah untuk dipandang.

Berjajar dengan batu-batu yang mejulang, di salah satu bukit itu, tertempel dengan megah selembar bendera raksasa. Sang Merah Putih termampang dengan gagahnya di salah satu bukitnya. Bukit Tontonan.

Continue reading