Bu Ageng

Pulang kampung adalah saat untuk ber-kuliner ria. Kembali merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini bersemayam di memory. Tempat-tempat makan yang dulu sering aku kunjungi, tentu saja sudah masuk dalam list. Namun ada satu tempat baru yang masuk dalam list. Bu Ageng. Tempat makan rumahan yang sering muncul di timeline-ku.

Mendengar nama Bu Ageng, mau tak mau, ingatanku terseret ke akhir tahun 80an – awal 90an. Waktu itu, aku selalu membaca kolom Umar Kayam yang dimuat setiap minggu di harian Kedaulatan Rakyat. Kolom berisi gleyengan Pak Ageng, sebagai tokoh utama, bersama Mr Rigen, pembantunya. Gleyengan yang memotret fenomena social saat itu. Gleyengan adalah nasihat, sindiran, protes, usul, dan sebagainya yang disampaikan ringan, bercanda, dan tidak ngotot; sangat sering secara tidak langsung namun kadang cukup nge-kick. Gleyengan ini tumbuh subur di dalam budaya Jawa (tidak tahu ada tidak di budaya yang lain). Mungkin acara Sentilan Sentilun bisa cukup menggambarkan relasi antara Pak Ageng dan Mr. Rigen berikut gleyengan-nya.

Dalam kolom ini ada juga tokoh tokoh lain, seperti Bu Ageng, Ms Nansiyem, Beni Prakosa, Tolo-tolo, Prof Lemahombo, Prof Legowo Prasodjo, dan Pak Joyoboyo.

Continue reading

Advertisements

Potret Potret Dini Hari

Jogja, 23 Desember 2009, jam 02.43:

Ku injak rem, melambatkan laju kendaraanku.

Seorang pemuda berjalan gontai menuju mobilnya, kalau tidak mau disebut sempoyongan. Di belakangnya seorang wanita berjalan terhuyung. Tangan kanan si gadis melingkar pada leher seorang pemuda yang dengan genit merangkul si gadis sambil sesekali meremas pantatnya. Sementara jari kelingking dan jari manis kiri si gadis bertemu dengan ibu jarinya sambil menenteng sebuah LV. Sepasang stiletto tergantung pada jari tengah dan telunjuknya. Tak jauh dari mereka, para ABG, pria dan wanita berjalan bergerombol. Canda ria diselingi gelak tawa berdarai dari mulut mereka.

Gedung megah itu mulai ditinggal pengujungnya. Mobil-mobil pun mulai bergerak menjauh. Lampu-lampu laser yang beberapa saat yang lalu menari riang di dalamnya, kini mulai padam satu persatu. Lampu-lampu TL menggantikannya, memberikan cahaya yang cukup untuk menerangi sudut-sudut ruangan. Asap rokok mulai menipis seiring dengan musik yang mulai mendayu. Tiada lagi hingar bingar seperti tiga puluh menit yang lalu. Tiga orang pemuda sibuk menyapu tissue, kotak rokok yang telah kosong dan puntung yang berserak di lantai. Sementara di seputar meja kasir para waiter berkerumun sambil menyelesaikan pembayaran terakhir para tamu. Senyum ramah mereka mulai memudar, berganti dengan wajah-wajah lelah. Denting botol dan gelas-gelas yang beradu terdengar dari meja bar. Mata sang bartender tampak memerah. Entah kantuk, entah mabuk.

Pesta telah usai.

Continue reading