Mamma Mia vs Rujak

Ini bukan posting-an tentang acara kontes nyanyi ibu –anak di TV swasta, bukan pula tentang film-nya Meryl Streep, ataupun lagu hits tahun ’70an dari ABBA. Juga bukan pulan tentang mama-mama yang kepedesen makan rujak, apalagi tetang seorang mama yang bertengkar dengan tukang rujak. Bukan, bukan itu. Ini adalah tentang mappasilaga tedong, alias adu kerbau dalam tradisi Rambu Solok di Tana Toraja.

Ya, Mamma Mia dan Rujak adalah nama kerbau. Sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Toraja untuk memberikan nama bagi kerbau aduan, biasanya nama petarung yang diambil. Ada yang namanya Chris John, ada Tyson, dan nama nama petinju yang lain. Tapi kali ini nama kerbau aduannya agak lain, Mamma Mia dan Rujak.

Beberapa waktu yang lalu,  seorang kenalan di Tana Toraja, tengah mengadakan upacara Rambu Solok bagi neneknya. (*Dengan semangat ’45 saya berangkat ke Toraja supaya tidak kalah dari Ibu Tutinonka di sini*). Salah satu acara yang diadakan adalah mappasilaga tedong. Rencana semula akan ada beberapa pasang kerbau yang diadu, tapi karena taruhannya tidak deal, jadinya hanya ada satu pasang kerbau saja yang diadu. Mamma Mia versus Rujak. Itupun sempat tertunda satu hari dari rencana awal.

Pada hari yang telah ditentukan, saya bergerak ke lapangan di tengah kota Rantepao untuk menyaksikan mappasilaga tedong ini. Sesampai di lokasi, ternyata sepi-sepi saja. Lho… menurut informasi akan ramai, tapi ini kok tidak ada tanda-tanda keramaian? Juga tidak ada kerbau yang akan bertarung. Jangan-jangan tertunda sehari lagi. Wah gawat kalau begitu, soalnya aku harus segera pulang.

Untung kenalan saya tadi melintas di lapangan itu, dan memberi tahu kalau lokasi adu kerbau dipindahkan ke areal persawahan. Segera kami meluncur ke lokasi yang baru. Hemmm, ini dia… beberapa orang tampak bergerombol, menunggu adu kerbau. Beberapa kerabat yang berduka cita juga tampak. Tidak salah lagi, akan ada adu kerbau.

Tak jauh dari tanah lapang di areal persawahan itu, ada seekor kerbau jantan. Besar dan tegap. Lain dengan kerbau yang kepalanya selalu menunduk dan tambun sebagaimana sering aku lihat di Jawa. Kerbau ini benar-benar gagah, kepalanya mendongak ke atas. Badannya tampak berisi. Lho… kok cuma satu? Ini “tinju” kerbau kan? Bukan “binaraga”. Seharusnya sepasang bukan??

Oalah… ternyata lawannya, belum datang. Hemm bakal semakin malam neh sampai ke rumah. Maklum, masih harus menempuh 4 jam perjalanan untuk pulang ke rumah.

kerbau aduan nan gagah dan kekar

kerbau aduan nan gagah dan kekar

 

Continue reading

Advertisements