Bu Ageng

Pulang kampung adalah saat untuk ber-kuliner ria. Kembali merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini bersemayam di memory. Tempat-tempat makan yang dulu sering aku kunjungi, tentu saja sudah masuk dalam list. Namun ada satu tempat baru yang masuk dalam list. Bu Ageng. Tempat makan rumahan yang sering muncul di timeline-ku.

Mendengar nama Bu Ageng, mau tak mau, ingatanku terseret ke akhir tahun 80an – awal 90an. Waktu itu, aku selalu membaca kolom Umar Kayam yang dimuat setiap minggu di harian Kedaulatan Rakyat. Kolom berisi gleyengan Pak Ageng, sebagai tokoh utama, bersama Mr Rigen, pembantunya. Gleyengan yang memotret fenomena social saat itu. Gleyengan adalah nasihat, sindiran, protes, usul, dan sebagainya yang disampaikan ringan, bercanda, dan tidak ngotot; sangat sering secara tidak langsung namun kadang cukup nge-kick. Gleyengan ini tumbuh subur di dalam budaya Jawa (tidak tahu ada tidak di budaya yang lain). Mungkin acara Sentilan Sentilun bisa cukup menggambarkan relasi antara Pak Ageng dan Mr. Rigen berikut gleyengan-nya.

Dalam kolom ini ada juga tokoh tokoh lain, seperti Bu Ageng, Ms Nansiyem, Beni Prakosa, Tolo-tolo, Prof Lemahombo, Prof Legowo Prasodjo, dan Pak Joyoboyo.

Continue reading

Advertisements

Kudu Kudu

 
Kudu dalam bahasa Jawa berarti harus, wajib, pokoknya, dan sebagainya. Du di sini dilafalkan seperti dalam kata dumeh, bukan dhuwurbagi yang non Jawa, bisa membedakan du dan dhu gak ya??? Tapi Kudu-Kudu di sini bukan berarti itu. Kudu-kudu yang di maksud di sini adalah nama jenis ikan. Ikan Kudu-Kudu. Dalam bahasa kerennya Boxfish, sedangkan bahasa ilmiahnya Ostraction sp (note: ostraction adalah nama genus-nya, bukan species). Disebut boxfish karena memang bentuknya kontak, tidak seperti ikan biasa yang relative pipih.

 

Boxfish di kedalaman laut

Apa yang istimewa dari ikan ini?

Continue reading