Guru Guru

Terinspirasi oleh tulisan Om Trainer di sini, yang ternyata terinspirasi juga dari serta Uda Vison di sini, saya ikut-ikutan menulis kenangan akan guru-guru yang menjadi favorit, teladan, bahkan inspirasi bagi saya. Ada lima guru yang meninggalkan kenangan sangat mendalam dari hati saya. Mereka adalah: Pak Pur, Ibu Nari, Pak Waluyo, Pak Yadi dan Pak Herman.

Pak Purwoko

Pak Pur, kami biasa memanggil. Beliau adalah guru kelas sewaktu di SD, jadi semua mata pelajaran diampu olehnya, kecuali Pendidikan Agama dan Pendidikan Olahraga & Kesehatan. Beliau mengajar saya di kelas 4, 5, dan 6.

Lho kok kemaruk, di ajar sampai 3 tahun berturut turut? Saat aku naik kelas 5 SD, ada perubahan pola pembagian tugas diantara guru-guru kami (entah di SD-SD yang lain, apakah ada perubahan pola atau tidak). Sebelum-sebelumnya seorang guru “menetap” di kelas yang sama, dalam artian ngajar kelas 4 ya kelas 4 terus. Namun ketika aku dan teman-teman naik ke kelas 5, kami “diikuti’ oleh guru kelas 4, dan waktu kami naik ke kelas 6, kami “diikuti” lagi oleh guru kami. Jadi deh dari kelas 4-6 kami mempunyai seorang guru. Setelah seorang guru meluluskan siswanya, mereka akan kembali lagi ke kelas 4. Untuk kelas 1-3 guru kelas seperti sebelum-sebelumnya.

Continue reading

Apa yang Kamu Pelajari?

The_Thinker,_Auguste_Rodin

The Thinker

Pada awal masuk company tempat kerjaku, aku tergabung dalam department yang membidangi market research. Pekerjaan yang menurutku “ideal” saat itu, karena sesuai dengan program studi yang aku ambil ketika kuliah. Program Studi Statistika, Jurusan Matematika, Fakultas Matetmatika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Pada tahun 2002, kurang lebih 1 tahun setelah saya bekerja, datanglah seorang bos baru, menggantikan bos lama yang pindah tugas ke Surabaya. Bos baru ini seorang doktor matematika.

Wuih… S3 matematika??? Ampun deh ngebayanginnya.

Dan dia bukan seorang dosen atau peneliti. Hmmm… cukup langka menurutku, ada seorang doktor matematika yang bekerja diluar dunia akademis.

Suatu saat, ketika kami sedang melakukan perjalanan dinas bersama, dia bertanya,”Apa sih yang kamu pelajari selama kuliah di Jurusan Matematika?” “Berguna tidak untuk dunia kerja sekarang?”

Hmmm … “apa yach?” pikirku dalam hati.

Perasaan gitu-gitu aja deh pekerjaanku, tidak ada yang secara spesifik menggunakan apa yang aku pelajari di bangku kuliah dulu. Kalaupun memakai “tools” statistika, paling regresi dan korelasi. Itu pun dalam tataran “aplikasi” saja, jauh berbeda dengan yang aku pelajari. Apalagi sekarang sudah dibantu berbagai software, sehingga bagi orang yang “sedikit melek” statistika saja sudah bisa. Tidak perlu pusing-pusing memikirkan “behind scene”-nya.

“Apa ya Pak?” tanyaku balik. “Kayaknya sih tidak banyak yang terpakai” lanjutku.

“Kalau dari pengalaman saya, so far sampai S3, hanya ada satu yang saya pelajari. Dan sangat berguna bagi dunia kerja”

“Apa Pak?” tanyaku antusias

Continue reading