Senja di Dinding

Angin bertiup sepoi sepoi, meniup mentari ke ufuk barat. Langit menjingga berbias kuning di dasarnya. Sungguh senja yang sempurna untuk menutup hari ini dan membawa kita ke malam penuh harap.

Sungguh indah senja yang kita nikmati berdua. Ya, kita berdua saja, di sini, seperti biasa. Seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi.

Kita berjalan melintasi padang rumput, sampai di sini, diujung ladang impian kita. Kemudian kita berbincang seadanya di pagar kayu ini, tepat di samping pohon rindang yang menaungi kita. Pagar kayu tempat lelah kita sematkan, dan penat kita lepaskan.

(dst dst dst)

 

Begitu mungkin yang ada di benak kami. Anak-anak SMA yang mulai beranjak meninggalkan masa remaja. Anak-anak SMA yang beberapa diantaranya mulai merasakan jatuh cinta. Seperti kami baca di roman-roman.

Dengan bayang indah jatuh cinta itulah daya kreatif kami muncul. Kreativitas yang dibalut sedikit kenakalan kami. Kreativitas yang tidak bisa melihat sebidang dinding kosong di sudut sekolah kami, tepat di ruang kami sering berkumpul. Ruang salah satu kegiatan ekstra kurikuler kami.

Maka dengan semangat menggebu, tergambarlah sebuah gambar di sudut sekolah kami.

Gambar yang membuat presidium kami dipanggil oleh Ibu Kepala Sekolah.

Continue reading

Guru Guru

Terinspirasi oleh tulisan Om Trainer di sini, yang ternyata terinspirasi juga dari serta Uda Vison di sini, saya ikut-ikutan menulis kenangan akan guru-guru yang menjadi favorit, teladan, bahkan inspirasi bagi saya. Ada lima guru yang meninggalkan kenangan sangat mendalam dari hati saya. Mereka adalah: Pak Pur, Ibu Nari, Pak Waluyo, Pak Yadi dan Pak Herman.

Pak Purwoko

Pak Pur, kami biasa memanggil. Beliau adalah guru kelas sewaktu di SD, jadi semua mata pelajaran diampu olehnya, kecuali Pendidikan Agama dan Pendidikan Olahraga & Kesehatan. Beliau mengajar saya di kelas 4, 5, dan 6.

Lho kok kemaruk, di ajar sampai 3 tahun berturut turut? Saat aku naik kelas 5 SD, ada perubahan pola pembagian tugas diantara guru-guru kami (entah di SD-SD yang lain, apakah ada perubahan pola atau tidak). Sebelum-sebelumnya seorang guru “menetap” di kelas yang sama, dalam artian ngajar kelas 4 ya kelas 4 terus. Namun ketika aku dan teman-teman naik ke kelas 5, kami “diikuti’ oleh guru kelas 4, dan waktu kami naik ke kelas 6, kami “diikuti” lagi oleh guru kami. Jadi deh dari kelas 4-6 kami mempunyai seorang guru. Setelah seorang guru meluluskan siswanya, mereka akan kembali lagi ke kelas 4. Untuk kelas 1-3 guru kelas seperti sebelum-sebelumnya.

Continue reading