Potret Potret Dini Hari

Jogja, 23 Desember 2009, jam 02.43:

Ku injak rem, melambatkan laju kendaraanku.

Seorang pemuda berjalan gontai menuju mobilnya, kalau tidak mau disebut sempoyongan. Di belakangnya seorang wanita berjalan terhuyung. Tangan kanan si gadis melingkar pada leher seorang pemuda yang dengan genit merangkul si gadis sambil sesekali meremas pantatnya. Sementara jari kelingking dan jari manis kiri si gadis bertemu dengan ibu jarinya sambil menenteng sebuah LV. Sepasang stiletto tergantung pada jari tengah dan telunjuknya. Tak jauh dari mereka, para ABG, pria dan wanita berjalan bergerombol. Canda ria diselingi gelak tawa berdarai dari mulut mereka.

Gedung megah itu mulai ditinggal pengujungnya. Mobil-mobil pun mulai bergerak menjauh. Lampu-lampu laser yang beberapa saat yang lalu menari riang di dalamnya, kini mulai padam satu persatu. Lampu-lampu TL menggantikannya, memberikan cahaya yang cukup untuk menerangi sudut-sudut ruangan. Asap rokok mulai menipis seiring dengan musik yang mulai mendayu. Tiada lagi hingar bingar seperti tiga puluh menit yang lalu. Tiga orang pemuda sibuk menyapu tissue, kotak rokok yang telah kosong dan puntung yang berserak di lantai. Sementara di seputar meja kasir para waiter berkerumun sambil menyelesaikan pembayaran terakhir para tamu. Senyum ramah mereka mulai memudar, berganti dengan wajah-wajah lelah. Denting botol dan gelas-gelas yang beradu terdengar dari meja bar. Mata sang bartender tampak memerah. Entah kantuk, entah mabuk.

Pesta telah usai.

Continue reading

Advertisements

Pak Jono

Pak Jono, namanya. Oleh teman-teman dan kerabatnya sering dipanggil Jon saja. Pekerjaan sehari-harinya adalah penjual barang bekas di Pasar Inpres Balikpapan. Penampilannya sangat sederhana. Ciri khas penampilan Pak Jono adalah kebiasaannya untuk memakai topi pet, namun dipakai terbalik. Bagian depan topi yang berfungsi sebagai penahan sinar matahari selalu terpasang di belakang kepalanya. Selain penampilan yang sangat sederhana, fasiltas-fasilitas “jaman modern” juga tidak melekat padanya. Pak Jono tidak membawa HP, dan untuk bepergian mana-mana pun hanya mengandalkan angkot saja.

Namun dibalik kesederhanaannya itu tersimpan “anugerah” luar biasa. Dia dipercaya untuk bisa melakukan cabut angin. Anugerah yang diperolehnya secara tidak sengaja.

“Semua ada di Al- Qur’an, kalo dibaca dengan teliti” demikian jawab Pak Jono setiap kali ditanya dari mana “ilmu cabut angin” itu diperoleh.

Kemampuan tersebut berawal dari kisah perjalanan Balikpapan – Samarinda, pada suatu malam, bertahun-tahun yang lalu. Pak Jono beserta rekannya mengendarai kendaran dalam perjalanan itu. Pak Jono memegang kemudi, sementara temannya tertidur pulas ketika memasuki hutan. Pada turunan pertama di dalam hutan, tiba-tiba kendaraan yang mereka tumpangi macet. Pak Jono berusaha membangunkan temannya tapi sia-sia. Dia turun dari kendaraan dan mengecek kondisi kendaraan. Tampaknya tidak ada yang rusak atau bermasalah.

Continue reading

Cabut Angin

Ada berbagai cara pengobatan alternative di negeri kita yang kaya ini. Memang jika dilihat dari kacamata kedokteran barat, akan “mustahil” atau tidak bisa diterima akal. Namun jika dilihat dari kacamata timur, bisa jadi ada “kebenaran” yang bisa diterima. Sebagaimana halnya metode pengobatan traditional China yang mulai diterima oleh masyarakat barat. Akupuntur misalnya.

Salah satu pengobatan alternative yang ada adalah cabut angin. Cabut angin (kadang disebut juga tarik angin) berbeda dengan kerokan, meskipun sekilas hampir sama. Bagian tubuh yang dikerok atau dicabut angin akan meninggalkan bekas kemerahan atau bahkan menghitam, namun proses terjadinya bekas merah itu berbeda.

Beberapa perbedaan antara cabut angin dengan kerokan adalah sebagai berikut:

Media/Alat

Kerokan biasanya menggunakan logam bulat (biasanya uang logam, atau alat khusus untuk kerokan). Untuk mengurangi rasa sakit, biasanya digunakanlah minyak sebagai pelumas. Menurut Pak Jono, tukang cabut angin yang saya kenal, cabut angin bisa menggunakan tiga jenis media yang berbeda, yaitu: jahe, bawang, atau sirih.

Continue reading

(New) Kuliner Jogja

Apa yang Anda jadwalkan ketika pulang kampung? Ketemu saudara, kerabat, teman, kopdar, atau wisata kuliner? Yah.. wisata kuliner tentu masuk dalam jadwal acara pulang kampung saya ke Jogja beberapa waktu yang lalu.

Jauh sebelum pulang kampung, list tempat makan yang harus dikunjungi telah kami buat. Gudeg, soto, tongseng, bakmi, dan aneka makanan legendaris Jogja lainnya. Tulisan ini bukan akan membahas itu, karena yang legendaris-legendaris sudah dibahas secara mendalam dalam buku Monggo Mampir – mengudap rasa secara Jogja karangan Syafaruddin Murbawono.

 

Waktu pulang kampung kemarin, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi 2 tempat makan baru di Jogja. Maaf, saya tidak akan membahas masalah rasa dalam tulisan ini, karena saya bukanlah seorang food taster yang handal. Yang saya tahu hanya enak dan enak banget. Body saya sudah menjadi bukti yang cukup atas dua jenis rasa masakan yang saya kenal itu, enak dan enak banget. Lagi pula rasa sangat tergantung dari selera masing-masing penikmat.

Continue reading