Admiral & Marsekal

“Keluarga dari Angkatan ya Pak?” kata Pak Polisi yang sedang melakukan pemerikasaan
“Wah nama Marsekal-nya selalu pindah ke depan Pak, jadinya Marsekal A..W.. ” kata teller sebuah bank swasta ketika aku akan membuat bank account
“Apa ada hubungan sama Laksamana Sukardi?” tanya orang yang baru saja menerima kartu namaku

Itulah beberapa reaksi ketika orang melihat nama tengahku. Marsekal

Kata Admiral & Marsekal merupakan pangkat dalam jenjang kemiliteran di angkatan laut dan angkatan udara. Setera dengan Jenderal di angkatan darat. Di negara kita pangkat Admiral tidak dipakai, tapi menggunakan Laksamana.

Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Admiral & Marsekal di sini adalah nama tengah. Admiral nama tengah kakakku sedangkan aku mempunyai nama tengah Marsekal. Jadi nama kakakku adalah E Admiral Wibawa, dan namaku A Marsekal Wibawa. Kalo nama belakang Wibawa tentu bisa ditebak itu adalah nama bapak.

Admiral & Marsekal.
Bukan nama yang biasa dipakai oleh orang.
Bapak juga tidak pernah bercerita mengapa kami menyandang nama Admiral dan Marsekal. Baru pada tahun 2001, aku mendapat setitik info mengapa nama kami Admiral dan Marsekal dari Budhe (kakak Bapak).

Budhe bercerita, bahwa Bapak pada masa mudanya pernah mendaftar menjadi anggota KKO di Surabaya. KKO adalah satuan elite AL, sekarang Marinir lah. Waktu itu tidak diterima. Yach… impian untuk menjadi Angkatan Laut tertutup
Setahun kemudian Bapak mendaftar menjadi anggota AURI di Bandung. Serangkaian test telah dilalui dan lolos. Tes kesehatan juga sudah lolos, tinggal tunggu 1 tes terakhir.
Bapak kemudian berkonsultasi dengan penasehat spiritualnya (yang pasti bukan dukun ya…)
Penasehat itu menyarankan untuk tidak melanjutkan karena ayah adalah satu satunya pria dalam keluarga. Bapak hanya mempunyai 1 kakak wanita (ya… budhe yang menceritakan kisah ini). Sebagai penganut patriarki, Bapak adalah satu satunya penerus keturunan keluarga. Dan menjadi militer akan memperbesar kemungkinan untuk meninggal dalam usia muda.
(ada korelasinya gak sih…??)
So dengan pertimbangan itu Bapak tidak melanjutkan cita-citanya untuk masuk AURI

Nah… ini mungkin yang membuat kakakku bernama tengah Admiral dan aku Marsekal. Aku tidak sempat mengkonfirmasikan hal ini ke Bapak, karena Budhe cerita beberapa saat setelah pemakaman Bapak.

Pare Pare
April 09

Advertisements

Nasehat Bapak

Bapak…

Salah satu hal (dari sekian banyak hal) yang selalu kuingat dari Bapak adalah kemauan dan kemampuannya untuk memberi contoh perilaku, bukan nasehat yang panjang. Sangat jarang Bapak mengungkapkan dengan tutur “nasehat” apa yang terkandung dari kebiasaan atau langkah hidup yang diambilnya.

Beliau membiarkan kami melihat sendiri contoh nyata.
Bahkan beberapa NASEHAT baru aku pahami setelah Bapak berpulang.

Mungkin ini yang biasa disebut orang sebagai keteladanan… (wow.. kok kayaknya tinggi banget ya.. keTELADANan).
Aku sendiri lebih suka menyebutnya sebagai “nasehat”

Ketika aku masih SD, tahun 1984 kalau tidak salah, aku masih sangat susah untuk disuruh belajar…. maklum masih anak-anak.
Kebetulan waktu itu dicanangkan program UT, alias universitas terbuka.

Dengan sangat antusias, Bapak mengikuti program tersebut, walau secara usia beliau telah 46 th. Untuk apa ikut UT pada usia tersebut?
Untuk mencari gelar S1 yang belum sempat Bapak sandang? Bukan
Untuk mencari pekerjaan baru atau peningkatan gaji dengan gelarnya? Juga bukan. Sebagai penjual barang loak di pasar, tentu gelar akademis tidak diperhitungkan sama sekali
Untuk gagah gagahan? Tentu bukan juga

Untuk memberi CONTOH bagiamana saya harus belajar. Yup itu jawabannya. Beliau menasehati kami anak-anaknya untuk belajar, dengan cara Bapak sendiri juga belajar. Dengan demikian Bapak mempunyai “legitimasi” untuk menyuruh kami belajar, karena setiap malam Bapak juga belajar.
Bukan hanya menyuruh saja dengan kata-kata panjang, dan nada tinggi, sementara mata terpaku pada televisi.
Dengan demikian aku dan kakakku tidak kuasa menolak ajakan untuk belajar.

Oh ya, satu lagi mengenai status “kemahasiswaan” Bapak. Sampai Bapak meninggal Bapak tidak pernah mencapai gelar S1-nya. Aktivitas belajar di UT tersendat karena katarak. Status terakhir cuti sebagai mahasiswa.
Setelah itu tidak dilanjutkan lagi, karena kami, aku dan kakakku, sudah cukup besar dan bisa belajar sendiri tanpa disuruh-suruh lagi.

Itu baru salah satu contoh.
Masih banyak yang lain, misalnya Bapak tidak merokok sehingga bisa melarang kami untuk tidak merokok (meskipun sekarang aku bergelut dalam industri ini)
Hal kecil lainnya adalah Bapak tidak pernah mengeluh mengenai masakan apapun yang dimasak oleh Ibu. Enak – tidak enak, suka – tidak suka, Bapak selalu makan dengan lahap.
Nah.. kalo yang ini punya efek samping pada diriku. Karena “nasehat” seperti itu, saat ini aku melakukan hal yang sama… sehingga pantaslah kalo diriku “sedikit” tambun.

Itulah salah satu kenangan akan Bapak.
Beliau selalu memberi NASEHAT kepada kami dengan hidupnya sehari hari.

Makassar, 29 Apr 09
– dalam kerinduan kepada Ign. Wibawadjati –

Cukup Hari Ini

Ini pengalaman beberapa tahun yang lalu, tahun 2006. Tanggal dan harinya tidak aku ingat dengan pasti, tapi yang jelas ketika aku masih di Jakarta.


Malam telah menunjukkan pukul 20.35 ketika bus jurusan blok M – Kalideres merapat di halte dekat Ciputra Mall.
Sepasang pengamen, pria dan wanita yang masih sangat muda, mungkin sekitar 20 th-an duduk tepat dibelakangku setelah penumpang sebelumnya turun. Apakah mereka suami istri atau sepasang kekasih aku tidak tahu, namun mereka tampaknya bukan saudara. Wajah mereka tidak menyiratkan kemiripan.
Selembar ribuan telah beralih dari kantongku ke topi mereka. Cukup banyak lagu telah mengalun di sepanjang tol dalam kota. Aku akui suara mereka lumayan merdu, tidak mendayu dayu, cukup nyaring dan tegas. Seribu cukup pantas bagi mereka

Dalam kantukku, terlintas percakapan keduanya.
“Berapa kita peroleh hari ini?” tanya si pemuda
“Enam puluh ribuan”
“Sekarang kita cari bus pulang saja, istirahat. SUDAH CUKUP hari ini!” sahut pemuda lagi

Plak!! Sebuah tamparan telak menimpa wajahku.
“SUDAH CUKUP HARI INI!!!”
Ungkapan yang tak pernah terlintas dibenakku waktu itu, meluncur dengan sangat lancar dari pengamen, yang “hanya” mendapatkan 60 ribu, hasil jerih payah mengamen seharian. 30 ribu seorang…

Setiba dirumah, aku segera masuk ke kamar, dan dalam tunduk dan linang air mata, aku memohon:
Ampuni aku Tuhan, betapa aku tidak pernah bersyukur atas semua limpahan kasihMu.
Terima kasih atas pelajaran yang Kau berikan lewat kedua pengamen tadi.
Ajari aku selalu bersyukur atas rejeki, seberapa pun itu…
Ajari aku Tuhan untuk melepas keinginan dagingku, agar aku bisa berkata “sudah cukup hari ini”

Malam itu, terlintas jelas nasehat almarhum Bapak, “Rejeki, sakpira wae ojo ditolak… Sing gedhe kuwi asale seko sing cilik”
(rejeki, seberapapun besarnya jangan ditolak.. yang besar itu berasal dari yang kecil)

Beberapa kali cerita ini telah aku share-kan ke sahabat-sahabatku, dengan tambahan pesan “Ingatkan aku jika kurang bersyukur yach..”

Sekarang aku share di tempat ini, dengan pesan yang sama….
“Ingatkan aku jika kurang bersyukur, masih menggerutu, dan masih iri atas nikmat orang lain”

Pare-Pare
April 09