Maret dan Karirku

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah sembilan tahun lebih beberapa hari aku bergabung dengan company ini. Ada banyak pengalaman dan ilmu yang aku peroleh disini.

Apakah ini company terbaik untuk ku?? I don’t know, may be yes.. may be no. So far so good.

Apakah aku happy bekerja di company ini?? Yes, I do am.

Dan kalo dicermati, ternyata ada benang merah antara bulan Maret dan perjalanan karirku di perusahaan ini.

19 Maret 2001.

Catat yach, Maret. Aku bergabung dengan company ini, di department Marketing Information System, saat ini department ini telah berubah nama, Consumer Insight and Marketing Intelligence. Kurang lebih bergerak di riset pemasaran lah.

Saat ini aku bergabung sebagai Retail Audit Field Assistant. Tugas utamaku mengkoordinasikan dan mensupervisi pelaksanaan survey di kota-kota yang relative kecil. Second city orang sering menyebutnya. Total ada 16 kota yang menjadi wilayah kerjaku, yaitu: Depok, Cilegon, Magelang, Madiun, Jombang, Kediri, Probolinggo, Gorontalo, Bengkulu, Pematangsiantar, Padangsidimpuan, Mataram, Kudus, Tuban, Bukittinggi, dan Pamekasan.

Selain itu, saya juga membantu untuk handle pekerjaan sebagai Retail Audit Analyst, waktu pejabat yang lama rotasi ke tempat lain

Continue reading

Advertisements

Ngakak of the month

Setelah sempat sedikit mengurangi aktivitas di dunia maya, terutama blog walking, karena aktivitas njajah deso milang kori, akhirnya mulai minggu kemarin saya sudah sempat jalan-jalan lagi mengunjungi beberapa sahabat, walau kadang numpang lewat saja, tanpa meninggalkan comments.

Setelah berjalan beberapa saat, sampailah saya di Mystorius, salah satu blog yang saya kagumi, sebagaimana pernah saya ceritakan disini. Setelah senyum senyum membaca “komik” yang ada, saya bisa ngakak guling-guling koprol gak karuan melihat hasil jawaban salah satu pertanyaan yang ada di blog itu. Bener-bener bikin saya mules, terpingkal, sampai berderai air mata. Jauh lebih bikin ngakak daripada gontok-gontokan di Senayan sana.

Pertanyaan nya adalah sebagai berikut:

Hidup adalah pilihan, terkadang pilihan hidup sangat sulit dan tanpa petunjuk apapun..

Berikut ini ada pilihan, pilih angka 1, 2 atau 3. Tujuan utama anda adalah ke Rumah, namun 2 tujuan lain tidak lah mengenakkan yaitu Buaya dan Ikan Hiu. Mana yang anda pilih? 1, 2 atau 3.. Beranikah anda memilih??? Siapa yang bisa sampai Rumah? Silahkan….

 

 

 

Dua orang sahabat saya, Uda Vizon, dan The Afdhal, memberanikan diri menjawab tantangan diatas, dan hasilnya yang sukses membuat saya ngakak, dapat di lihat langsung di sini.

Benar-benar kocak dan orisinil!!!

BUY, salut gue sama loe!!! Thanks sudah bikin gue ngakak gak karuan!!

Ternate, Maret 2010

Mirna

Malam semakin larut, menjelang tengah malam bahkan. Jalanan semakin sepi dan lengang, namun tetap saja ada yang melintas satu dua kendaraan. Angin berhembus pelan, membawa udara dingin mengalir. Beberapa orang masih duduk di warung angkringan. Tak jauh dari angkringan itu Mirna berdiri sendiri, bersembunyi di balik bayang bayang pohon asem tua yang berjajar di sepanjang jalan. Sebuah jaket jeans melekat di badannya, menutup kaos ketat merah yang dikenakan malam ini. Sebuah rokok yang dibeli ketengan dari angkringan setia menemaninya.

Sebuah sepeda motor berhenti sekira 6 meter dari tempat Mirna berdiri. Sepeda motor merah yang sudah 3 kali ini mondar mandir di sepanjang jalan tempat para penjaja cinta menggelar dagangannya. Seorang pemuda tanggung duduk diatas sadelnya, membuka helm, dan menerima telepon. Entah benar-benar menerima telepon atau pura-pura saja, tapi yang jelas matanya sesekali melirik ke Mirna.

“Hmm…. Brondong neh!!” kata Mirna dalam hati.

Hatinya berdebar kencang. Memang sudah sekian tahun Mirna melayani nafsu syahwat laki-laki. Sudah sekian banyak pula lelaki hidung belang yang rebah dalam pelukannya. Namun tetap saja hatinya berdebar keras setiap kali bertemu dengan pemuda tanggung seperti yang baru saja berhenti di dekatnya itu. Terbayang bagaimana ia akan bergelut dengan pemuda tanggung itu, menuntunnya mendaki birahi dan memegang kendali kenikmatan. Bagai kerbau tercucuk hidung, si pemuda tanggung itu pasti akan mengikuti gelora birahi yang dimainkannya, sebagaimana dulu, lebih dari dua puluh tahun lalu, saat ia terhanyut dan terseret dalam gelora birahi. Gelora yang membawa dia menjadi janda muda dengan dua anak di usia belia.

  Continue reading