Melihat dari sisi lain

Melihat dari sisi lain?

Ini bukan tentang perubahan paradigma, bukan pula tentang teknik analisis kekuatan competitor, apalagi berhubungan dengan “dunia lain”. Juga bukan tentang lagunya Phil Collins, Both Sides of The Story. Ini benar benar melihat dari sisi lain. Sisi yang berseberangan, sisi yang berhadapan.

Ini adalah tentang Ujung Lero. Sebuah desa nelayan, di seberang pantai kota Parepare, sebagai mana pernah saya sharing-kan tentang keindahan pemandangan setiap sore dari jendela kantorku. Sejak pertama kali aku memandang seberang, telah terbersit hasrat dalam hati “suatu saat aku harus ke sana”. (yaialah… orang tugas gitu loh…!!).

lokasi ujung lero menurut google earth, kotak pada gambar kanan menunjukkan lokasi masjid jami'

lokasi ujung lero menurut om google earth, kotak pada gambar kanan menunjukkan lokasi masjid jami'

Satu yang selalu menarik pehatianku setiap kali melongok keluar jendela adalah menara masjid di Ujung Lero. Sebuah menara yang tinggi menjulang dekat dengan batas cakrawala. Menara masjid itu bagaikan tonggak pengikat yang menghubungkan langit dan bumi. Menghubungkan surga dengan dunia, umat dengan Allah-nya.

Continue reading

Advertisements

Selamat Idul Fitri

Ketika Ramadhan tiba, aku teringat akan perbincangan dengan seorang teman di Balikpapan beberapa saat yang lalu. Berikut ini pendapat teman tersebut mengenai Ramadhan. Ini adalah pendapat pribadinya, bisa saja salah.

“Ramadhan adalah bulan bonus. Bulan ketika setiap amal kita, setiap ibadah kita mendapatkan pahala berlipat-lipat. Jauh lebih besar daripada bulan biasa. Inilah bulan pembelajaran bagi saya, supaya bisa menjadi lebih baik, lebih taat, dan lebih beriman.

Saya sendiri pada bulan Ramadhan, memang memperbanyak ibadah ke atas, tapi kalo amal kepada yang kurang mampu atau ke panti asuhan, tidak beda dengan bulan biasa, bahkan mungkin sedikit berkurang. Mungkin aku terlalu matematis. Pada bulan ini orang lain telah banyak memberi mereka, so.. aku justru sedikit mengerem sedekahku. Biarlah aku berikan di bulan lain, ketika orang-orang yang lain tidak terlalu banyak bersedekah.

Niatanku adalah membantu mereka, bukan membeli surga. Aku tidak peduli apakah setiap kali aku beramal aku mendapat pahala atau tidak, yang penting aku membantu mereka yang kurang beruntung. Karena sesungguhnya berapa pun pahala yang coba aku kumpulkan, tidaklah akan mampu menutupi kesalahan dan dosaku. Aku manusia lemah dan banyak dosa.

Semoga aku tetap bisa mempertahankan ibadahku setelah Ramadhan usai.”

Sebagaimana menara masjid yang belum usai dibangun, demikianlah perjuangan iman kita. Tidak berakhir seiring gema takbir. Kita masih harus terus membangun menara itu. Kita masih harus terus mengolah diri kita agar lebih taqwa, lebih beriman dan lebih baik, di bulan biasa, bukan hanya di bulan “bonus”.

Kartu ucapan