Nasehat Bapak

Bapak…

Salah satu hal (dari sekian banyak hal) yang selalu kuingat dari Bapak adalah kemauan dan kemampuannya untuk memberi contoh perilaku, bukan nasehat yang panjang. Sangat jarang Bapak mengungkapkan dengan tutur “nasehat” apa yang terkandung dari kebiasaan atau langkah hidup yang diambilnya.

Beliau membiarkan kami melihat sendiri contoh nyata.
Bahkan beberapa NASEHAT baru aku pahami setelah Bapak berpulang.

Mungkin ini yang biasa disebut orang sebagai keteladanan… (wow.. kok kayaknya tinggi banget ya.. keTELADANan).
Aku sendiri lebih suka menyebutnya sebagai “nasehat”

Ketika aku masih SD, tahun 1984 kalau tidak salah, aku masih sangat susah untuk disuruh belajar…. maklum masih anak-anak.
Kebetulan waktu itu dicanangkan program UT, alias universitas terbuka.

Dengan sangat antusias, Bapak mengikuti program tersebut, walau secara usia beliau telah 46 th. Untuk apa ikut UT pada usia tersebut?
Untuk mencari gelar S1 yang belum sempat Bapak sandang? Bukan
Untuk mencari pekerjaan baru atau peningkatan gaji dengan gelarnya? Juga bukan. Sebagai penjual barang loak di pasar, tentu gelar akademis tidak diperhitungkan sama sekali
Untuk gagah gagahan? Tentu bukan juga

Untuk memberi CONTOH bagiamana saya harus belajar. Yup itu jawabannya. Beliau menasehati kami anak-anaknya untuk belajar, dengan cara Bapak sendiri juga belajar. Dengan demikian Bapak mempunyai “legitimasi” untuk menyuruh kami belajar, karena setiap malam Bapak juga belajar.
Bukan hanya menyuruh saja dengan kata-kata panjang, dan nada tinggi, sementara mata terpaku pada televisi.
Dengan demikian aku dan kakakku tidak kuasa menolak ajakan untuk belajar.

Oh ya, satu lagi mengenai status “kemahasiswaan” Bapak. Sampai Bapak meninggal Bapak tidak pernah mencapai gelar S1-nya. Aktivitas belajar di UT tersendat karena katarak. Status terakhir cuti sebagai mahasiswa.
Setelah itu tidak dilanjutkan lagi, karena kami, aku dan kakakku, sudah cukup besar dan bisa belajar sendiri tanpa disuruh-suruh lagi.

Itu baru salah satu contoh.
Masih banyak yang lain, misalnya Bapak tidak merokok sehingga bisa melarang kami untuk tidak merokok (meskipun sekarang aku bergelut dalam industri ini)
Hal kecil lainnya adalah Bapak tidak pernah mengeluh mengenai masakan apapun yang dimasak oleh Ibu. Enak – tidak enak, suka – tidak suka, Bapak selalu makan dengan lahap.
Nah.. kalo yang ini punya efek samping pada diriku. Karena “nasehat” seperti itu, saat ini aku melakukan hal yang sama… sehingga pantaslah kalo diriku “sedikit” tambun.

Itulah salah satu kenangan akan Bapak.
Beliau selalu memberi NASEHAT kepada kami dengan hidupnya sehari hari.

Makassar, 29 Apr 09
– dalam kerinduan kepada Ign. Wibawadjati –

5 thoughts on “Nasehat Bapak

  1. waw…salut bro..
    cara bapak’mu memberi inspirasi untuk belajar.
    dengan umur segitu, semangatnya tidak surut
    salut bro..
    mudah2an kita bisa seperti itu saat menjadi bapak bagi anak-anak kita
    AMINNNN

  2. Seorang Ignatius sejati
    mengajak dengan teladannya

    btw, saya kangen dengan theme blog ini,
    dulu pernah saya pakai juga hehehhe

    EM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s