Di Lima Kilometer Terakhir

Pada waktu naik kelas tiga SMA, aku sedang giat-giatnya terlibat dalam kegiatan OSIS. Ada 3 kepanitiaan sekaligus yang aku ikuti. Kemaruk gak sih?
Ketiganya adalah: penerimaan siswa baru, pelepasan kakak angkatan yang baru lulus, dan satu lagi perkemahan.
Penerimaan siswa baru tentu tidak lepas dari Penataran P4 dan orientasi sekolah. Suer bukan perploncoan lho!!.
Pelepasan kakak kelas, sudah bisa dibayangkan tentu akan ada malam hiburan dan ha ha hi hi.
Nah, perkemahan ini yang berbeda. Nama perkemahan tersebut adalah: Perkemahan Teladan Bakti Wira Dharma Pertiwi. Panjang banget yach. Sering kami singkat sebagai PTBWDP, atau PTB saja.
Apa tuh? Kalo mudahnya, anggap saja seperti KKN, tapi seluruh pesertanya terkumpul di satu desa saja, dan tidak menumpang di warga, tapi berkemah di lapangan sekitar desa lokasi PTBWDP. Detailnya bisa dilihat di sini.

Waktu itu aku mendapat tugas sebagai coordinator survey dan perijinan. Setelah beberapa minggu keliling mencari cari lokasi (aseeek bisa jalan jalan di jam pelajaran..he.he..) akhirnya kami sepakat untuk melaksanakan PTBWDP di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Desa Jangkaran merupakan desa di sudut barat-selatan DIY, satu-satunya desa di DIY yang terletak di barat sungai Bogowonto. Sungai tersebut memisahkan Kabupatan Kulon Progo dengan Kabupaten Purworejo. Waktu itu, tahun 1993, Dusun Pasir Mendit masih termasuk dusun IDT.

Desa jangkaran, adalah satu satunya desa di barat sungai Bogowonto, untuk bisa mencapainya harus melalui wilayah Jateng terlebih dahuhu

Tanah lapang, diantara muara sungai dan pepohonan itulah lokasi perkemahan kami. Titik yang terlihat terang di samping tanah lapang tersebut adalah SDN Pasir Mendit.

Pada hari kebarangkatan yang telah ditentukan, pagi pagi aku telah pamit ke kedua orang tua, siang itu aku akan berangkat ke Pasir Mendit. Karena kedua orang tuaku bekerja, maka pagi itulah kesempatanku pamit.
Sekitar pukul 14.00 rombongan besar berangkat ke lokasi. Namun karena masih ada urusan di kepanitiaan yang lain, aku masih tinggal di Jogja. Nanti akan menyusul. Sebenarnya tugasku sudah selesai. Survey sudah kelar pastinya. Ijin kegiatan udah ditangan. So… tinggal grubyak grubyuk saja sebenarnya. Makanya aku ijin untuk nyusul jam 5.00-an.

Jam 16.30 aku pulang ke rumah dulu, mandi-mandi dulu,
”Lho kok belum berangkat?” tanya bapakku.
Kujelaskan ke Bapak, kalau memang aku akan menyusul. Selepas azan Maghrib, aku berangkat kesana. Sendirian. Dengan mengendarai sepeda motor, aku tancap gas ke lokasi. Karena sudah sering ke sana, aku cukup hafal medan. Dimana ada tikungan atau lobang besar, aku sudah terbiasa mengantisipasi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, sampailah aku di lokasi. Dingin juga angin malam menusuk tubuhku. Segera aku bergabung dengan tenda kelompok untuk makan malam dan breaking ice kelompok. Oh ya, dalam perkemahan ini kami dibagi dalam beberapa kelompok, berdasarkan extrakurikuler kami masing masing. So ada kelompok PMR, kelompok Pramuka dan sebagainya. Kegiatan sosial kami tidak jauh dari ekstrakurikuler, misalnya PMR ya akan bakti sosial seputar masalah kesehatan, kelompok ilmiah akan mengajar murid SD, dan sebagainya.
Belum sampai 15 menit aku duduk di situ, tiba tiba datang Pak Wasis datang dengan wajah pucat dan tegang. Matanya berkaca kaca. Bibirnya begetar.
”Pak Singgih dan Pak Ziazili tabrakan!” katanya lirih.
”Saya coba kejar truck-nya tapi tidak dapat”

What..!!!!
Tabrakan!!! Dengan truck!!!

”Dimana Pak?” sahutku.
”Masih jalan raya, tidak jauh dari jalan masuk ke sini”

”Rom kita kesana!!” seruku.
Aku segera masuk ke mobil Rommy. Tancap gas!!
”Cepat Rom!!” teriakku.
Dalam perjalanan itu aku sangat tegang. Membayangkan hal terburuk yang terjadi. Sepeda motor vs Truck. Oh… no….
Tak lama berselang, aku melihat orang krubung-krubung di tepi jalan.
”Astaga!!” aku kenal sosok itu. Pak Ziazili. Terbayang jelas senyum khas beliau. Memang aku tidak pernah diajar beliau langsung, tapi aku tahu betul, sosok yang tertelungkup di pematang ladang tebu itu beliau. Meski separuh tubuhnya telah ditutup daun pisang, tapi aku yakin betul. Oh.. my God!!
”Benar ini guru Anda?” tanya seorang polisi seraya membalikkan sosok itu.
Aku coba melihat dengan seksama, meskipun ada kengerian dalam hati. Ingin wajah ini berpaling. Oh my God. Aku lihat sekali lagi. Dibalik darah yang mulai mengental, dan debu yang melekat, serta beberapa semut yang merayap, aku kenal betul wajah itu. Benar Pak Ziazili.
”Benar Pak” jawabku tertahan. Seakan suaraku berhenti di kerongkongan saja.
”Pak Singgih dimana Pak?” tanyaku ke Pak Polisi.
”Coba ke Puskesmas Mas!”
Beberapa temanku datang menyusul.
”Kalian di sini, aku ke Pak Singgih!” seruku sambil berlari ke mobil Rommy lagi.
Biarlah Pak Ziazili di sini. Toh sudah meninggal pikirku. Biarlah beliau beristirahat dalam damai.
”Yang masih hidup ini yang harus segera ditolong” bisikku dalam hati. Aku dan Rommy bergegas ke Puskesmas Temon II dalam diam. Lidah kami terasa kelu.
Benar, di Puskesmas Temon II, Pak Singgih mendapat pertolongan pertama. Teriakan dan rintih kesakitan beliau benar benar membuat bulu kudukku berdiri.
Pak Singgih harus segara dibawa ke rumah sakit.
Aku segera masuk ke ambulance yang membawa beliau. Aku di samping sopir, dan Yudhistira temanku, dibelakang, menjaga Pak Singgih. RS PKU Jogja tujuan kami.

Sirine ambulance meraung raung, memecah padatnya lalu lintas malam itu. Aku tercenung. Diam. Tak bisa berbuat apa-apa, selain duduk dan memandang kosong. Kilatan cahaya sirine yang berputar putar membawaku semakin masuk dalam pusaran kekosongan. Sementara teriakan dan jerit Pak Singgih menyusup ruang hampaku. Teriakan menyayat yang diiringi doa doa yang tergetar dari mulut Yudhistira yang di belakang.
Oh Pak Singgih. Beliau meradang ketika berada di ambang kesadaran dan pingsan, ambang kesakitan yang tertahan.
Sesampai di RS PKU, Pak Singgih segera mendapat pertolongan. Tak lama kemudian, beberapa teman datang. Kabar yang mereka bawa, Pak Ziazili sudah ruang mayat RSU Wates. Waktu itu belum ada HP, jadi semua serba lisan.
Setelah beberapa teman berkumpul, kami membagi tugas. Kami harus segera memberitahu para guru dan alumni. Aku bersama Gatut temanku, bertugas untuk memberi info ke Pak Harno. Wakasek bidang kurikulum. Kami tidak tahu alamat dengan pasti, hanya nama kampung saja. Tanpa nomor rumah, tanpa RT/RW yang jelas. Untunglah kami bertemu dengan Pak Sidi, guru matematika yang tinggal di kampung yang sama. Beliau sedang nongkrong di gardu ronda. Bersama dengan beliau kami menuju rumah Pak Harno.
”Pak, Pak Ziazili dan Pak Singgih kecelakaan” hanya pesan itu yang terucap. Tidak kuasa kami berujar ”Pak Ziazili meninggal”
”Pak Singgih sekarang di RS PKU” informasi tambahannya, tapi tetap saja info tentang Pak Ziazili tidak keluar.
”OK, saya ganti baju dulu” kata Pak Harno.
Ketika Pak Harno sudah menyingkap tirai pembatas ruang tamu, entah kekuatan apa yang mendorong kami.
”Pak, anu Pak!!! Pak Ziazili tilar”
”Innalilahi….” ujar Pak Harno
”Apa..??” Pak Singgih terperanjat.

Malam itu berlalu sangat lambat. Aku paksakan mata terpejam, tapi tidak bisa juga. Lelah tubuh ini, tapi lebih lelah lagi hatiku. Ada kengerian menyeruak. Ada gentar yang tergelar. Oh Tuhan, terimakasih atas perlindungan-Mu. Tadi aku ngebut sendirian ke Pasir Mendit. Andai saja aku yang kecelakaan… tidak kuasa aku meneruskan andai andai ku.

Jam 03.30 aku ketok pintu rumah.
”Lho ada apa lagi? Kok belum berangkat?” tanya Bapak dengan kaget.
”Sudah, sekarang kamu tidur!!” kata Bapak setelah mendengar cerita singkat tentang apa yang terjadi.
Tetap saja dini hari itu mataku tidak bisa terpejam dengan tenang.
Pukul 06.30 aku ke rumah Pak Bambang, ketua BP3, memberitahukan apa yang telah terjadi. Kemudian dengan sangat pelan aku berangkat lagi ke Pasir Mendit. Untuk mengikuti upacara pembukaan perkemahan sekaligus penutupan. Pukul 12 siang rombongan kembali ke Jogja.
Ketika melintas kejadian, tak terasa air mataku tergenang.

Lima kilo jalanan terakhir
Menjelma menjadi jalan tak bertepi
Hanya lima kilo lagi
Namun tiada pernah kau kesini

Pak Ziazili,
Kini perjuanganmu telah berakhir
Di sini, di lima kilo terkahir
Jogja – Pasir Mendit
Mengantar kau ke langit

Diiring harum bunga tebu
Kami hantar kepergianmu
Berbahagialah kau selalu
Bersama Dia, pemilik hidup

Pare, Juni 09

13 thoughts on “Di Lima Kilometer Terakhir

  1. AH …
    Ini cerita yang mencekam sekali Bro
    Terbayang situasi saat itu …

    Jadinya acara itu tidak jadi dilaksanakan ya Bro ?

    Yang jelas …
    Semoga arwah pak guru itu diterima di sisi NYA
    Amin

  2. aduh ngga sangka ini cerita tentang sebuah kesedihan. hiks

    aku baru mau nyeletuk kok tempatnya dekat dengan air ya. ternyata yang mau di ekspos malah perjalanan mautnya.

    RIP untuk pak Ziazili
    bagaimana dengan pak Singgih akhirnya?

    EM

  3. semoga pak ziasili diterima disisi-NYA….Aminnnn

    btw, pak singgih itu yang ngajar juga di. SMA'ku kan??

  4. @ Om NH 18:
    amieen

    @ EM:
    Sampai saat ini masih ngajar, jadi wakasek kesiswaan, sempet ngjar the afdhal juga

    @ Afdhal:
    Yup, bener, sempet ngajar di tmp-mu kayaknya
    kamu SMA-nya dekat Mandala Krida itu kan?

  5. @ om NH18:
    bener om, tidak jadi dilaksanakan full. Tapi sempat jalan 1 program,krn memang jadwalnya pagi-pagi hari pertama. Baksos di salah satu tempat ibadah di situ.

    Btw, semua bekal akhirnya kami percayakan kepada pak Kadus untuk dibagikan kepada seluruh warga.

  6. Bener banget kata Om Trainer, mencekam. Dirimu punya kemampuan hebat untuk menceritakannya secara detail dan membuat orang yang membacanya ikut mengalami kejadian tersebut.

  7. Bener banget kata Om Trainer, mencekam. Dirimu punya kemampuan hebat untuk menceritakannya secara detail dan membuat orang yang membacanya ikut mengalami kejadian tersebut.

  8. Bener banget kata Om Trainer, mencekam. Dirimu punya kemampuan hebat untuk menceritakannya secara detail dan membuat orang yang membacanya ikut mengalami kejadian tersebut.

  9. @ yessy:
    muji boleh, tapi gak perlu sampai 3 kali deh..
    ntar gw ktularan narsis lho..

    *wakakakak..ngaciirrrrr*

  10. Sedih bgt…
    itu medannya berliku ya?
    Sering dengar ada kecelakaan di sana soalnya…

    Semoga berisitirahat dengan tenang…

    puisimu mas… indah

  11. @ Eka:
    medannya sebenarnya lurus dan datar, sehingga memang sangat menggoda utk ngebut.
    Tapi memang TKPnya pas di jalan menikung, tp bukan tikungan tajam

    hmmmm kalo puisi mah, kayaknya aku mesti banyak belajar dari kamu

  12. Bro, kalo nggak salah namanya bukan pak Ziazili, tapi pak Syadzili. ini cerita sedih yang mnejadi hari kelam sekolah. Thanks for the reminder bro, semoga beliau diterima di sisi-Nya.

  13. @ Wira:
    Amienn…
    Ya benar Wira, Pak Syadzili, bukan Ziazili. Sorry yg teringat adalah "bunyi"nya bukan "tulisannya"

    salam saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s