Aku dan Hujan

“Uh kenapa orang selalu terpesona ama pelangi” desis Aku sambil memandang kosong ke kejauhan.

”Kan emang indah Say! Warna-warnanya sungguh indah. Lukisan alam”  kata Kamu sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aku.

Seperti hari Jumat yang lalu lalu, sore itu Aku dan Kamu menjelang sunset di kedai kopi kecil di puncak bukit. Kedai itu tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman. Dari situ Aku dan Kamu dapat melihat kota, juga laut yang membiru di kejauhan.

Sudah hampir setahun ini Aku dan Kamu melewati ritual Jumat sore. Tidak ada yang istimewa, minum kopi berdua saja di kedai itu. Saling berbagi cerita dan mimpi-mimpi. Saling melafalkan masa lalu. Dan yang paling penting, mencoba saling merasakan kehadiran.

Tapi sore ini lain. Aku menatap dengan geram pelangi yang dikagumi oleh Kamu. Pelangi bagi Aku adalah hujan di tempat lain. Bias indah warna yang tercipta adalah guratan kenangan masa lalu bagi Aku. Kenangan yang masih hidup dihatinya hingga detik ini. Meski statusnya pacar Kamu, tapi Aku tetap saja terpesona pada Dia. Dan …. tetap mengharapkan kehadirannya.

Dia yang datang bersama hujan. Dia yang dipeluk dalam hujan. Dia yang terlepas dalam gerimis. Dan dalam hujan pula ia menggantungkan harapan.

Berawal dibawah halte di depan kampus ketika hujan deras mengguyur. Ada beberapa mahasiswa berteduh disitu. Juga Aku terduduk menanti hujan yang reda. Dia berjarak beberapa jengkal saja. Itulah awal kedekatan mereka. Aku dan Dia. Kedekatan yang berlanjut menjadi ikatan percintaan.

Indahnya hari-hari mereka lalui. Dan mereka selalu menikmati hujan yang turun. Hujan yang mengingatkan pada perjumpaan mereka dulu. Hujan yang merintikkan getar-getar di hati. Dan hujan pula yang menumbuhkan cinta di hati.

Sering mereka berdua bermain hujan. Entah berkendara berdua menembus hujan. Atau sekedar berjalan bergandengan. Atau berlari menyusur pantai menikmati hujan. Hujan bagi Aku dan Dia mencerminkan masa kanak-kanak mereka. Aku dan Dia berharap dalam kepolosan, kejujuran dan keluguan anak-anak cinta mereka bertumbuh, mengakar dan menguat.

”Say, aku harus ke Jakarta tiga hari lagi” kata Dia suatu hari.

”Papa pindah tugas ke sana. Kami semua harus pindah” mata Dia mulai berkaca-kaca.

Aku memeluk erat kekasihnya.

”Hey lihat! Hujan turun diluar” kata Aku mengalihkan pembicaraan.

Tanpa komando mereka berdua melangkah ke halaman belakang rumah Aku. Halaman belakang rumah yang cukup luas, dan berumput cukup tebal dengan beberapa pohon di sudut-sudutnya.

Aku kembali mendekap Dia. Erat sekali. Dalam hujan mereka berpelukan sangat erat. Dalam hujan mereka menyembunyikan air mata yang berlinang.

”Say, tunggu aku di Jakarta!”

”Akan kususul ke Jakarta setelah kuliah selesai” janji Aku.

”Selama hujan belum hilang dari muka bumi, selama itu pula diriku mencintaimu”

”Janji ya Say…” kata Dia dengan nada tertahan.

“Janji… “

“Setiap kali hujan, aku hadir Say..”

”Jangankan cuma jarak Balikpapan-Jakarta. Hujan bisa menyatukan langit dan bumi!! Lihatlah betapa indahnya angkasa dan bumi bersatu dalam hujan. Curahan kasih angkasa dibalas dengan semerbak tanah basah”

Lanjut Aku,”Selama kamu masih bisa menikmati hujan, aku pasti datang”

Dalam derasnya hujan sore itu, Aku dan Dia saling mengikat janji. Janji untuk bertemu lagi.

Setelah perpisahan itu, Aku selalu menantikan hujan. Hujan yang membawa kenangan, hujan yang mendatangkan Dia, dan hujan yang meneguhkan janji hati.

Hari itu mendung mulai menggantung, pertanda hujan akan datang. Senyum mengembang di bibir Aku. Kenangan indah berlintasan di benaknya. Ketika rintik mulai mengguyur, seperti biasa Aku mengirim SMS ke Dia.

Say, sdh 2 bln hujan gk turun, skr dah rintik2, i miss u, i do love u🙂

Sekian lama tak ada balasan. Sampai akhirnya datang halilintar yang menyambar HP-nya.

Aku, maafkan aku, aku khilaf, aku terlempar ke sahara. Tak ada lagi hujan di sini. Biar ku sembunyikan air mata ini dalam hujan. Jangan coba kontak lagi. Aku hamil. Aku akan menikah bulan depan. Still loving you

”Kok melamun Say?”

tegur Kamu menarik Aku kembali ke kedai kopi.

”Yuk pulang, sudah mulai gelap. Indah senja sudah lewat”

Setiba di rumah Aku melangkah ke halaman belakang. Dia menuju pohon kamboja di sudut halaman. Dengan pisau lipat dikorenya tanah dibawah pohon itu. Sebuah lempeng batu diangkatnya keluar.

Tangannya masih tergetar ketika membaca apa yang tertulis disitu.

RIP

Disini terkubur cinta sejatiku.

Albert Kusuma – Dyah Iin Arzetha.

(Jun 05 – Aug 07)

 

Dari dalam jaketnya dia keluarkan lempengan sejenis. Dibaca sejenak.

Disini kukubur dustaku

Albert Kusuma – Katharina Murti Djati.

(Jul 08 – Jun 09)

 

Setelah dikubur lagi kedua lempeng itu, Aku mengambil handphone-nya, beberapa kata diketikkan.

Maaf, harus aku akhiri hubungan ini. Aku tidak pernah dengan tulus mencintaimu. Maaf kan aku

Guntur menggelar, seiring rintik yang mulai turun. Setitik air mata jatuh lagi.

 

inspired by utopia’s song – “hujan” & demis roussos performance on “rain and tears”

 

Palopo, Jun 09

14 thoughts on “Aku dan Hujan

    • iya sih, pelangi biasanya hanya terjadi di sore or pagi hari he.. he…
      yang jelas gak mungkin pelangi malam hari he.he..he…

    • yup, ketika aku, kamu dan dia menjadi kata ganti orang ketiga he..he..

      senang pelangi juga ya?

      salam saya

      • merah kuning hijau (traffic light kali??)
        dilangit yang biru..

        hmmm kalo mo ktawa masih boleh lho mbak em… blm dilarang

    • ini ada hubungannya ama awareness weekkk

      wah kalo yg ginian banyak yg lewat..

      next ubah topic

  1. Aku dan Dia. Kedekatan yang berlanjut menjadi ikatan percintaan.

    Indahnya hari-hari mereka lalui.

    —-

    aku & Dia = kami
    bukan mereka ?
    Kalau mereka berarti tidak ada AKU disitu

    • tergantung pasangan eka siapa, kalo Merto atau Meringgih atau Mersahdun tentu bisa jadi MerEka.. he..he..

      halah.. omong apa sih ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s