Sumeleh

Mengenang yang tercecer dari peristiwa Gempa Jogja, 27 Mei 2006:

”Untung lho awake dhewe iki. Pancen okeh sing dadi korban. Pancen okeh sing tilar. Omah-omah dha ambruk. Ning sing dipendhet Gusti dudu panguripane dhewe. Ra kaya Lapindo. Sawah sawah dha klelep. Matine rak alon-alon to kuwi”

(Beruntung kita ini. Memang banyak yang jadi korban. Memang banyak yang meninggal. Rumah-rumah roboh. Tapi yang diambil Tuhan bukan penghidupan kita. Tidak seperti Lapindo. Banyak sawah tenggelam. Meninggalnya kan pelan-pelan”)

 

Sebuah kalimat jujur nan polos, ungkapan hati yang meluncur dari warga Bantul. Ungkapan syukur yang aku dengar kurang lebih setelah dua tahun terjadinya gempa besar yang meluluhlantakkan Jogja, Bantul, Klaten dan sekitarnya.

Sungguh, suatu sikap luar biasa. Mereka masih bisa bersyukur setelah cobaan berat yang menimpa. Tanpa bermaksud bermegah diatas penderitaan saudara-saudara di Porong sana, namun ini terutama merupakan sikap berserah dan menerima secara lapang dada bencana yang terjadi.

Suatu sikap hati yang sumeleh, bukan hati yang marah, menggugat atau bahkan menghujat atas apa yang terjadi.

Mungkin, atas dasar sikap seperti inilah, warga Jogja (khususnya Bantul) bisa dengan cepat bangkit lagi, dan kembali menata serta melanjutkan kehidupannya.

Dan boleh dibilang sekarang, setelah empat tahun berlalu, mereka telah kembali hidup “normal”, meskipun banyak jiwa dan harta yang telah menjadi korban.

Setelah empat tahun berlalum tetap teruntai doa kami untuk semua korban yang meninggal dunia pada saat gempa Jogja. Semoga semua berbahagia di surga.

Juga tak lupa kami berdoa, semoga bencana lumpur panas di Porong dapat segera berakhir, dan penghidupan mereka yang terampas, dapat segera diperoleh gantinya.

Semoga pemerintah yang berkuasa, tidak lupa bahwa masih ada luka di Porong sana.

Parepare, Mei 2010

36 thoughts on “Sumeleh

  1. hati yang luas… itu bahasa Jepangnya (kokoro ga hiroi)
    sedangkan orang Jepang saja belum bisa begitu.
    Pasrah yang positif ya
    Ya soal Porong kok ngga selesai-selesai ya?

    EM

    • kalo kokoro no tomo artinya apa mbak EM? tahunya cuma lagu th 80an aja..🙂 artinya tdk tahu sama sekali😦

      iya tuh.. yg di porong sana blm ada penyelesaiannya… pdhl luapan dan semburan gasnya semakin meluas😦

  2. Suatu Sikap Ikhlas yang luar biasa ya bro dari Masyarakat Yogya, khususnya Bantul dalam menghadapi suatu cobaan, sehingga perlahan mereka masih tetep bisa bangkit..
    Lapindo kyknya harus nunggu pergantian pemerintah dulu tuh baru bisa di usut lagi🙂

    Salam

    IJuliars

  3. Ah, tak terasa sudah empat tahun ya….
    Gempa itu mengubah wajah Jogja dan manusia2 yang tinggal di dalamnya bahwa hidup ini tidaklah sekokoh batu karang… ia rapuh meski berada dalam perlindungan Sang Kokoh🙂

  4. masih banyak warga negara yg berhati seluas samudera utk menerima cobaan, dan mereka masih bisa bersyukur.
    kadang malu dgn diri sendiri, yg masih kurang bersyukur.
    masalah lapindo, kok kayaknya belum ada realitas yg nyata dr pemerintah utk memperbaiki nasib rakyat disana, yg tiap hari menderita , jadi miris .
    semoga mereka tetap tabah menerimanya,amin
    salam

    • Benar Bunda, kadang kita susah banget bersyukur… gerutu sering kali ada di bibir kita

      Kayaknya kita mesti banyak belajar dr mereka Bunda🙂

  5. Ah, Njawani tenan…. masih bisa bilang untung msekipun dalam kemalangan…
    dan, aku suka dengan kata sumeleh/semeleh ini. Dalem banget maknanya, pasrah, rela, ikhlas, bersandar sungguh pada yang Kuasa…kadang-kadang istilah Jawa memang lebih pas ya…

    • Bener skali mas…. kita harus semakin mencintai alam, biar alam juga tetap menyayangi kita, kalo alam sdh ber”ulah” sedikit saja.. kita yg tinggal di atasnya ini akan banyak mengalami kerugian

  6. [Semoga pemerintah yang berkuasa, tidak lupa bahwa masih ada luka di Porong sana]

    Wah harapannya berat nih mas. tapi saya ikut berdoa deh, semoga bisa tidak terlupakan dan sgra ditindak lanjuti harapannya.. Amin

  7. Aku merinding bacanya…
    Ingatan soal gempa itu masih jelas..
    Aku gak ngalamin, tapi nenekku yg di klaten…
    dan ah Jogja sendiri memiliki ruang khusus dihati ini..

    Sikap dan karakterorang Jogja yg sumeleh itu yg bikin mereka jd diberkati Tuhan…

    *asli skr jd nangis abis komen…
    kangen Jogja lagiii :((
    #lg cengeng

    • Benar eka… trauma itu masih terasa …

      waktu aku pulkam, aku pernah narik kopor menuju rumah.. malem malem, tentu saja krn jalannya pating gronjal menimbulkan suara gemuruh.. eh kakak sepupuku langsung saja lari keluar rumah, takut gempa…

      smoga kita semua diberkati eka…

  8. mungkin penderitaan itu memegang prinsip “di atas langit masih ada langit” ya mas? di atas penderitaan yang berat, masih ada penderitaan yang jauh lebih berat lagi… (loh, jadi absurd rasa syukurnya…)

  9. Sikap semeleh ini diperlukan untuk hal-hal yang diluar kemampuan kita, dan percaya atas kebesaran Tuhan.
    Bukankah Tuhan tak akan mencoba hal diluar kekuatan kita?
    Juga kadang kita diberi cobaan yang sungguh berat, untuk menguji iman kita, sebelum diberikan karunia yang besar.

  10. Betul Bro, banyak yang menilai orang Jawa itu lemah, lembek, alon-alon waton kelakon. Tapi sesungguhnya orang Jawa itu ulet, tahan menghadapi tekanan dan penderitaan yang seperti apapun, antara lain karena sikap hidup sumeleh dan nrimo itu …

  11. wahhh seneng bisa baca postingan ini, ada bahasa jawanya, aku gek sinau basa jawa pak heheheh

    miris sekali dan sangat memprihatinkan, semoga derita warga lapindo cepat berlalu ya pak.

    • setuju… semoga derita warga cepet berlalu..

      waduh.. jangan dijadikan referensi bahasa jawa lho.. lha wong bahasa jawa saya juga acak adul jeh..

    • sumeleh.. sebuah kata yang menurutku sangat menyejukkan… aku tdk tahu apakah ada padanan kata yg pas untuk kata ini dalam bahasa indonesia..

      yup… smoga cepat teratasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s