Anak Bajang Menggiring Angin

Anak Bajang Menggiring Angin adalah judul karya sastra karangan Sindhunata SJ. Terbit tahun 80-an, tapi baru aku baca ketika SMA, tahun 1993.
Bagiku buku ini sangat istimewa. Saking istimewanya aku telah membaca buku ini lebih dari 5 kali. Jika ada buku yang aku baca dari awal sampai akhir secara berulang-ulang ya hanya buku ini.
Jauh lebih banyak dari buku-buku diktat kuliah maupun pelajaran sekolah.
Memang ada buku “wajib” ketika kuliah yang aku baca belasan kali, tapi hanya bagian-bagian tertentu saja (karena nggak dong dong, “untuk setiap epsilon positif, terdapat delta positif, sedemikian sehingga…… ” …..halah kok malah definisi limit yang tertulis??). Bukan dari awal sampai akhir seperti Anak Bajang Menggiring Angin.

Apa gak bosen tuh baca buku lebih dari 5 kali?
Tidak!! Karena setiap kali membaca, aku selalu dapat menemukan hal-hal baru, pelajaran baru, atau nilai-nilai baru.

Menurut saya ada 2 kekuatan utama buku ini, yaitu bahasa yang indah, puitis, mempesona serta kedalaman isi, pemaknaan, permenungan yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Tidak heran jika aku setiap kali membaca buku ini pasti menemukan sesuatu yang baru.

Coba nikmati petikan ini:
…Cahaya itu adalah Sastra Jendra dalam hatimu sendiri. Maka, jangan camkan aku. Camkan hatimu sendiri. Tak ada manusia atau pribadi. Yang ada hanyalah manusia dan pribadi dalam hatimu. Kebijaksanaan manusia tersembunyi dalam hatimu sendiri seperti malam yang bersayapkan terang, seperti kehidupan bersayapkan kematian. Kebijaksanaan hati itulah Sukesi, yang seharusnya bicara dan kaupatuhi…
(-wedaran sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu oleh wisrawa kepada sukesi-)

indah dan dalem banget!!

Untuk bisa menikmati indahnya kalimat kalimat yang terangkai dalam buku ini, kadang kita “harus melepaskan” makna harafiah yang tertulis. Aku tidak perlu tahu apa itu pohon angsana, asoka, burung tadah asih, atau banaspati dan warudoyong. Aku juga tidak terlalu pusing dengan frasa anak bajang menggiring angin. Karena setelah membaca keseluruhan buku itu, menjadi tidak berarti lagi apa itu anak bajang menggiring angin secara harafiah.

Beberapa sahabat yang pernah aku beri kado buku ini, ketika melihat judulnya bertanya,” Apa sih anak bajang?”
“Kalo anak bajang sih aku gak tahu, tapi kalo rambut bajang aku tahu. Itu tuh… rambut yang belum pernah dipotong sama sekali. Bayi yang baru lahir tuh.. rambutnya rambut bajang. Ato di dalam masyarakat di sekitar pegunungan Dieng, ada beberapa anak yang rambutnya gimbal. Dan jika akan dipotong harus diadakan upacara ruwatan terlebih dahulu. Nah… anak-anak itu disebut anak (berambut) bajang. Udah baca aja, ntar kan tahu maknanya anak bajang”.

Memang dalam membaca buku ini, aku juga tidak terlalu sibuk mencari makna yang terkandung dalam setiap kalimat atau paragraph. Aku biarkan mengalir saja, maka keindahan kata yang terangkai dan kedalaman makna itu akan muncul dengan sendirinya.

Di halaman depan buku Anak Bajang Menggiring Angin ini, aku tulis catatan kecil
” .. inilah kisah perjalanan
kerinduan, cinta dan harapan
menyusuri kehidupan
menggapai kegenapan …”
Yach itulah “inti sari’ buku itu bagiku.

Boleh dibilang buku ini telah menjadi salah satu inspirasi, sehingga aku menjadi seperti sekarang ini.
Terimakasih Rm. Sindu….

“…jangan bermegah atau sombong kalau kau merasa telah melakukan perbuatan baik, kau hanyalah jalan dan kesempatan bagi kebaikan untuk menjelma”

Pare Pare
May 09

10 thoughts on “Anak Bajang Menggiring Angin

  1. Pertamaxxxx….Dab kowe kudune mbiyen mlebu sastra wae kok….udh cocok posturnya kaya sastrawan…hehehe

  2. @ criminal:
    halah… sastrawan apa?
    sastra stensil kaleee ?? wakakakakak

    @ nh18:
    thenkyu udah menjenguk saya..
    tp comment pertama kok "beraaaaatttt" ya?

    need your feedback & input

  3. hahahah ketawa dulu baca komentarnya Afdhal.

    Wah aku pernah dengar judulnya buku Romo Sindhu tapi belum punya tuh. Terakhir baru berhasil mengumpulkan buku-bukunya Romo Mangun. PR untuk belanja buku pada liburan next time.

    Setahuku bajang itu semacam dedemit anak kecil kayak tuyul deh hehehe. Tapi lain dengan jabang bayi loh.

    Kalau tidak salah pernah baca terjemahannya dari fairies yang laki-laki itu bajang. Itu tuh yang suka keluar dari jamur-jamuran hihihi.

    EM

  4. @ EM:
    kalo suka sastra indonesia, aku sangat merekomendasikan buku ini…

    TOP abis.. mempesona

  5. Mas..
    aku mbok ya dikadoin juga

    Gak bakal nolak dech…
    malah bakalan tak bikini reviewnya segala😉
    (blik..blik… mata lentik ngedip2 menebarkan sihir hehehehe)

  6. @ Eka…
    ..pet… tutup mata
    biar tdk terkena sihir….
    ciaatt…

    wah promosinya kurang OK neh.. gak bakat nyales…
    tidak membuat orang pingin beli tp pingin dikado wakakakakak

  7. Pingback: Kopdar Jakarta (lanjutan) « the broneo

  8. Pingback: Arjuna Sasrabahu « the broneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s