Guru Guru

Terinspirasi oleh tulisan Om Trainer di sini, yang ternyata terinspirasi juga dari serta Uda Vison di sini, saya ikut-ikutan menulis kenangan akan guru-guru yang menjadi favorit, teladan, bahkan inspirasi bagi saya. Ada lima guru yang meninggalkan kenangan sangat mendalam dari hati saya. Mereka adalah: Pak Pur, Ibu Nari, Pak Waluyo, Pak Yadi dan Pak Herman.

Pak Purwoko

Pak Pur, kami biasa memanggil. Beliau adalah guru kelas sewaktu di SD, jadi semua mata pelajaran diampu olehnya, kecuali Pendidikan Agama dan Pendidikan Olahraga & Kesehatan. Beliau mengajar saya di kelas 4, 5, dan 6.

Lho kok kemaruk, di ajar sampai 3 tahun berturut turut? Saat aku naik kelas 5 SD, ada perubahan pola pembagian tugas diantara guru-guru kami (entah di SD-SD yang lain, apakah ada perubahan pola atau tidak). Sebelum-sebelumnya seorang guru “menetap” di kelas yang sama, dalam artian ngajar kelas 4 ya kelas 4 terus. Namun ketika aku dan teman-teman naik ke kelas 5, kami “diikuti’ oleh guru kelas 4, dan waktu kami naik ke kelas 6, kami “diikuti” lagi oleh guru kami. Jadi deh dari kelas 4-6 kami mempunyai seorang guru. Setelah seorang guru meluluskan siswanya, mereka akan kembali lagi ke kelas 4. Untuk kelas 1-3 guru kelas seperti sebelum-sebelumnya.

Mungkin karena 3 tahun diajar setiap hari oleh Pak Pur maka banyak kenangan akan beliau.

Satu hal yang saya kagumi dari Pak Pur ini, yaitu keinginannya untuk terus maju dan belajar. Disela sela kesibukannya mengajar kami, setiap sore-malam beliau masih kuliah dan akhirnya berhasil meraih gelar S1. Bisa-bisa beliau samoai dirumah sudah sangat larut, karena rumahnya lebih dari 30 km dari kota Jogja. Beliau adalah satu-satunya sarjana di jajaran guru di sekolah kami. Sementara guru yang lain “hanya”lah alumni SPG, bahkan kepala sekolah kami “hanya” bertitle BA.

Oh ya, Pak Pur ini juga yang mengantar saya untuk mengikuti lomba siswa teladan baik di tingkat kecamatan, maupun di tingkat kotamadya. Beliaulah yang membimbing saya mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut, baik ecara akademis, maupun ketrampilan. Saya ingat betul bagaimana Pak Pur membawa janur cukup banyak dari rumahnya ke sekolah, supaya saya bisa belajar berlatih membuat ornament dari janur sebagai salah satu materi yang dilombakan. Ketrampilan dengan bahan janur. Saya dapat membayangkan betapa susah membawa seikat janur hanya dengan ditumpangkan di tanki sepeda motornya, dan menempuh jarak sedemikian jauh.

Satu hal dalam diri saya yang tidak bisa “dipermak” oleh Pak Pur waktu itu. Suara! Lha wong, waktu lomba, suara saya sudah ngagor-agori (berubah sebagai tanda memasuki masa akil balik). Dapat dibayangkan betapa kacau suara saya waktu section menyanyi.

Ibu Nari

Ibu Soenarijah lengkapnya. Beliau adalah guru biologi SMP. Tidak banyak kenangan terhadap beliau di dalam kelas. Kenangan atas Bu Nari adalah kenangan relasi “pertemanan” antara guru dan siswa. Memang Bu Nari bisa menjadi “teman” bagi murid-muridnya, tanpa kehilangan wibawa beliau sebagai guru. Saya bisa curhat banyak kepada beliau. Bu Nari memang “linuwih” (mempunyai kelebihan). Beliau bisa menerawang apa yang terjadi ditempat lain dan di waktu lain. Semacam paranormal gitu deh. Dengan kelebihan tersebut, Bu Nari bisa menjadi teman curhat tanpa malu-malu mengungkapkan masalah, lha wong dia sebenarnya sudah tahu juga je.

Selain “penglihatan” beliau juga ahli memijat. Pernah beberapa kali aku merintih dan berteriak kesakitan merasakan pijatannya ketika ada yang tidak beres pada urat-urat di badan ini.

Pak Waluyo dan Pak Yadi

Pak Waluyo adalah guru matematika kelas 3 SMP, sedangkan Pak Suyadi adalah guru matematika kelas 2 dan 3 SMA. Kedua guru matematika ini mempunyai sifat yang kurang lebih sama. Tegas, sangat disiplin dan galak. Jangan harap bisa terlambat barang 2 menit di kelas beliau. Tipical guru “killer” dan tak favorit gitulah. Namun bagi saya, beliau berdua dapat menerangkan matematika dengan sangat jelas, gamblang, dan menjadikan matematika tampak tidak sulit. Pak Waluyo dan Pak Yadi lah yang memupuk “kecintaan” saya pada matematika.

Setelah saya kuliah, baru saya tahu mengapa Pak Waluyo dan Pak Yadi bisa menjadi salah satu guru favorit saya. Bukan karena galaknya tentu saja, tapi karena mereka bisa memberikan penekanan, penegasan dan pengulangan pada saat mengajar di tempat yang tepat. Di dasar-dasar pemahaman materi yang sedang dibahas. Bukan hanya mengalir saja dalam mengajar dan banyak memberikan latihan soal.

Pak Herman

Beliau adalah guru matematika (again???) saya waktu kelas 1 SMA. Beliau mengajar di sekolah kami hanya 6 bulan terakhir masa pengabdiannya sebelum memasuki masa pensiun. Setelah sekian lama mengabdi di pelosok Gunung Kidul, beliau dipindahkan ke sekolah kami.

“Sebagai persiapan pesiunlah, diberi tempat yang enak. Tidak jauh, dan anaknya pinter-pinter” Demikian sambutan pertama Pak Herman di kelas kami.

Satu hal yang sangat berkesan dalam hati saya, saat beliau menceritakan pilihannya untuk menjadi guru. Pilihan yang ditentang keras oleh ibunya.

Ibu saya sangat ingin saya menjadi dokter, padahal saya ingin menjadi guru. Saya boleh kuliah, dan akan dibiayai asalkan saya mengambil fakultas kedokteran, selain itu tidak! Ya sudah saya ikuti kemauan beliau untuk kuliah di fakultas kedokteran. Saya mencoba untuk kuliah sebaik-baiknya, namun hati saya tidak bisa bohong. Saya ingin menjadi guru. Maka setelah beberapa semester kuliah, secara diam-diam saya kuliah di IKIP jurusan Matematika. Bukan meninggalkan fakultas kedokteran, tapi saya kuliah double. Akhirnya saya bisa lulus hampir bersamaan. Setelah itu saya kembali menemui ibu saya. “Ibu, Ibu ingin saya menjadi dokter. Ini ijasah dokter saya, saya telah menjadi dokter. Tapi maaf ibu, saya tetap ingin menjadi guru”

Maka saya serahkan ijazah dari fakultas kedokteran, dan saya bertemu kalian sebagai guru.

Sebuah kisah yang sangat menyentuh saya saat itu. Sebuah keteguhan atas pilihan. Sebuah kejujuran pada panggilan hati. Sebuah keberanian untuk “melepas” materi yang mungkin didapat seorang dokter. Sebuah semangat untuk “mengabdi” sebagai seorang guru.

Dua tahun setelah “perjumpaan” dengan Pak Herman, dan dengan dipupuk oleh Pak Waluyo dan Pak Yadi akhirnya aku berani untuk memilih jurusan yang sangat tidak favorit diantara teman-teman seangkatan. Jurusan yang banyak mengundang tanda tanya diantara teman-teman seangkatan. “Kalo sudah lulus mau jadi apa?”  Jurusan Matematika.

Dari sekitar 260 siswa angkatan kami, sebagian besar memilih fakultas fakultas favorit, seperti Teknik, Kedokteran, Ekonomi, Psikologi. Dan hanya 11 orang yang masuk fakultas MIPA, dan hanya seorang saja yang masuk jurusan Matematika.

Bapak – Ibu guru terimakasih….

Parepare, Nov 09

22 thoughts on “Guru Guru

  1. HHHmmm …
    Guru yang menginspirasi jalan hidup akademis mu ya Bro …
    Terasa sekali bagaimana pengaruh Pak Herman, Pak Yadi dan Pak Waluyo dalam dirimu …

    Dan pertanyaan … “Mau jadi apa kamu kuliah di Jurusan Matematika”
    Sungguh menjadi pertanyaan yang bodoh kini …
    Matematika mu justru membuka karier kamu … !!!

    Catat Itu …

    Salam saya

  2. Owwh…jadi Mas Broneo ini juga kandidat siswa teladan kayak OmNH nih? hehehe….

    Cerita kenangan tentang guru-guru kita emang bisa membangkitkan kesadaran, betapa mereka sangat berjasa membentuk kita dari yang bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa (eh…siapa ya?😛 )

    Btw, kebanyakan guru matematika ya? Hmmm…tak heran dirimu jago matematika juga (kesimpulan sepihak saya😀 )

  3. Nenekku guru, mamaku guru, aku pernah jadi guru, adik-adikku guru..
    keluarga guru nih…
    menyenangkan menjadi guru, bisa berinteraksi dengan banyak pribadi. how amazing to transfer knowledge to others….sometimes I miss that moments…

    • Timpalin Nana aaahhh …
      Bapak ku Pensiunan Dosen Bahasa Inggris …
      Ibuku Pensiunan Guru Menggambar
      Adikku Lulusan IKIP Jakarta jurusan Psychologi pendidikan ..

      Aku ??? … Trainer …
      hahahaha klop juga kaaannn …

      Salam Guru !

  4. Bapak-bapak bertiga ini (Uda Vizon, Om Trainer, dan Bro Neo) kayaknya memang cocik. Kalau jaman kecil dulu, istilahnya ‘komplot’. Satu nulis A, yang lain ikut nulis A pula …

    Saya pernah diajar Pak Yadi juga. Waktu ngajar saya, beliau masih muda (ya iyalah … kan beda usia kita 15 tahun ya Bro?). Menurut saya, beliau memang guru yang sangat disiplin, ‘streng’ istilahnya dulu. Dan sumprit, saya nggak mudheng diajar matematika Pak Yadi. Berarti, tingkat kecerdasan Bro Neo jauh di atas saya. Bahwa saya pernah menjadi dosen matematika selama 10 tahun ,nampaknya itu ‘kecelakaan sejarah’ saja …😦

    • wah.. bu tuti ini lho.. bener2 njawani.. rendah hati banget!! lha wong dosen matematika lho.. kurang bukti apa???

      oh pak yadi ‘streng’nya sejak dulu ya… he..he..

  5. Nenekku guru, ibuku guru, papi guru juga..guru babtis, guru orang mau kawin, adik2ku guru,..
    Aku? Guru..mutann, hehehehe…
    Dekat2 sama guru emang auranya beda…

  6. Great topic, mengingatkanku juga tentang guru2ku, guru SD yang melemparku dengan penghapus, yang menghukumku karena menjatuhkan vespanya. Guru SMPku yang memarahi saat aku memakai emblim nama buatan sendiri, guru biologi SMA yang sering aku jahili dan yang sekarang ternyata adalah saudara pacarku.. Hehehe.. Good inspiration for another mystorious story..

  7. Salut sama Pak Herman. Kok bisa ya lulus fakultas kedokteran dan IKIP hampir bersamaan. Lalu tetap memilih menjadi guru? Sungguh suatu kisah yg menyentuh. Sepertinya jarang ada orang yang seperti itu. Benar2 salut deh.

  8. kayaknya aku dah pernah komen deh di sini? kok gak ada ya…? ah, biarin deh…😀

    Guru memang digugu lan ditiru, tapi banyak juga yang luGU lan kuRu, tak tersejahterakan sama sekali. semoga dengan kebijakan UU Guru/Dosen yang sudah ada sekarang, nasib guru di republik ini semakin baik dan sejahtera, sehingga tidak menjadi profesi sampingan saja🙂

  9. walahhhh hebat juga bisa ngambil jurusan itu ya mas, kalau aku sih no thanks…binun pas kuliah yg adanya IPK ku jongkok…hihihihihi…

    guru memang inspiring…aku punya guru matematika favorite waktu SMU kelas 3, namanya adalah Pak Manurung, guru matematika sekaligus walik kelas IPA7 yg terkenal berisi anak2 bandel SMU 1…hihihihihi

  10. Aku pernah punya guru yang gak akan pernah kulupakan. Bukan karena dia baik atau sayang padaku bang🙂

    Kebalikannya…

    Yang aku ingat dia hanya sayang pada anak-anak yang berduit, yang orang tuanya mampu. Kalo mereka sengaja dateng telat biar gak piket (inget kan bang dulu setiap hari ada yang piket buat nyapu kelas) bu Ning ini gak akan marah. Cuma kalo yang gak piket aku…cubitan di perutnya sakit banget.

    Gak tau tuh orang masih udip apa enggak.

    • uhhhh guru kok mbeda bedain sih.. kan bisa menimbulkan kecemburuan ama kesebelan spt yessy he.he..he…

      kalo masih pingin bernostalgia dg piket.. boleh lho … pintu rumah selalu terbuka wakakakakak

  11. Mencari saudara yg terpisah selama 45 tahun,pensiunan GURU SD/SMP diParepare; nama ISA BINTI ALI,unur 60 tahun alamat terakhir yg diketahui Kampung Pisang Parepare.nama Kakak yg mencari SIONG[H.SIONG]Samarinda Kaltim,mohon bila ada guru atau pensiunan guru khusus parepare yg mengetahui mohon hubungi Email Nurjanna.terimakasih semoga Allah membalas kebaikan saudara,bapak dan ibu Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s